Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Gara-gara Cicak.


__ADS_3

Lee masih menunggu dimeja makan, dari dapur terdengar suara kran air berarti Dewi sekalian mencuci piringnya. Lee melihat jam didinding ternyata sudah 1jam dia bersama Dewi, sudah saatnya dia harus kembali ke Rumah Sakit jika tidak tuan Ken akan curiga dan marah.


"Aaa'...." terdengar Dewi berteriak, Lee yang terkejut segera menghampiri. "Ada apa?" Lee berdiri dibelakangnya. "Aaa'... tuan, tolong aku kejatuhan cicak." Dewi berbalik dan memeluk Lee dengan erat. "Tolong ambilkan dan buang." masih memeluk erat dan memejamkan mata. "Dimana?" Lee bertanya, mencari diatas kepala tidak ada.


"Ini tuan, ini ambillah. Hua...." bukannya cepat mengambil Lee terlihat terbengong. "Tuan cepatlah, ini geli..."


"Apa tidak apa-apa jika aku yang mengambil." Lee bertanya lebih dulu, dia merasa ragu. "Kenapa tuan bernegosiasi. Cepatlah!!" Dewi sedikit berteriak, " Baiklah, maaf." tangan Lee masuk dan menemukannya cicak kecil bersemayam didalam. "Ini hanya kecil." ucapnya.


"Apa! kau menghina milikku!" Dewi sedikit marah. "Kenapa kau marah, yang aku bilang kecil itu anakan cicak." Lee menjelaskan. "O..o..." Dewi membulatkan mulutnya dan tersenyum. "Tadi marah! sekarang tersenyum. Tetapi punyamu memang kecil." Lee meledek.


"Ah... dasar mesum!"


"Hahha....." Lee tertawa lebar. "Huh, menyebalkan!" berbeda dengan Dewi yang menjadi kesal. "Kau ingin terus memelukku?" tanpa sadar Dewi memang masih memeluk tubuh Lee. "Eum, maaf." Dewi akan melepas pelukannya, tetapi Lee mencegah tangan Dewi. Dewi memandang wajah tuan sekretaris yang juga menatap kedua matanya, Lee memberanikan diri membalas pelukan Dewi. Lee merenggangkan pelukannya dan kedua tangannya berganti memegang pipinya langsung saja Lee mencium bibir Dewi, Dewi yang juga terlena hanya memejamkan mata menikmati ciuman dari tuan sekretaris. Cukup lama mereka berciuman hingga sebuah deringan ponsel menyadarkan keduanya.


"Ehem.." Lee berdehem untuk menghilangkan rasa gugup. "Huk...huk.." Dewi juga pura-pura terbatuk, padahal jantungnya masih berdebar kencang seperti ingin keluar. "Kau tunggu saja didalam mobil, aku pergi kekamar sebentar ada yang tertinggal." setelah mengatakan itu, Lee langsung segera berlalu menaiki tangga.


Dewi bersandar didinding, tubuhnya terasa lemas memegangi bibirnya yang masih terasa bekas ciuman tadi. Perasaannya tidak menentu, senang, malu, sedih. Menghirup udara dan menghembuskannya pelan, masih tidak percaya dia dan tuan sekretaris berciuman.


Didalam kamar setelah menutup panggilan dari tuan Ken, Lee duduk dipinggiran ranjang. Dia tidak jauh beda dengan Dewi, tidak percaya jika barusan sudah mencium bibir wanita itu, dia lelaki dewasa tentu merasakan hal yang aneh pada dirinya.


Dewi sudah menunggu didalam mobil tetapi tuan sekretaris belum juga keluar, sebenarnya Dewi merasa malu jika bertatap muka lagi dengan tuan sekretaris itu.


Lee baru saja keluar dengan membawa sebuah tas, sampai disamping mobil segera membuka pintu dan masuk. Ketika masuk tidak melihat kearah Dewi sama sekali, dia-pun menyembunyikan rasa malu. Mereka berdua sama-sama gugup dan canggung.

__ADS_1


Dewi yang memang sedikit bawel tidak bisa jika hanya diam saja, "Apa tuan sekretaris mandi lagi?" Lee menggeleng. "Kenapa berganti pakaian lagi?" Dewi bertanya dan melihat baju Lee bukan yang tadi, berati sekretaris Lee berganti.


"Ah, iya. Aku tadi mandi lagi, aku tidak terlalu fokus dengan pertanyaanmu." Lee menjawab tanpa melihat kearah Dewi. Dewi mengalihkan pandangan, 'Apa tuan sekretaris merasa ilfil dengan kejadian tadi? kenapa langsung membersihkan diri? Huh, kau memang terlalu menghayal berlebihan Dew, mengharapkan yang tidak mungkin. Pastilah tadi tuan sekretaris hanya tidak sengaja.' Dewi terdiam dengan pemikirannya, raut wajahnya berubah menjadi sedih dan tidak bersemangat. Dua sisi hatinya saling bertolak, yang satu merasa senang dan yang satu menyerukan untuk sadar diri.


Lee melirik kearah Dewi melihat perempuan itu melamun, dari raut wajahnya sudah terlihat menggambarkan isi hatinya. "Apa kau merasa sedih dengan yang kita lakukan tadi?" tiba-tiba Lee berkata seperti itu.


"I-itu ciuman dan pelukan pertamaku, tuan." Dewi menjawab lirih. "Sama." ucap Lee singkat. "Maksut tuan?" Dewi bertanya.


"Tadi juga ciuman dan pelukan pertamaku, dan kau telah mencurinya!" Lee menatap kearah Dewi sebentar dan kembali fokus.


"Bagaimana bisa tuan menyalahkanku! salahkan saja cicaknya!" Dewi merasa kesal, tuan sekretaris itu menuduhnya mencuri pelukan pertamanya. Dalam hati Lee merasa sangat senang dan berterima kasih dengan cicak kecil tadi, gara-gara cicak kecil membuatnya bisa merasakan candu seperti yang sering dikatakan tuan Ken. Dan benar, candu itu akan membuatnya ketagihan.


"Harusnya ciuman pertama ku berikan kepada calon suamiku tetapi..." Dewi tidak melanjutkan kalimatnya.


"Dari tadi tuan ikut-ikut saja! semua itu gara-gara cicak tadi, huh..." Dewi masih kesal. Sedangkan Lee tersenyum, 'semua memang gara-gara cicak, besok jika kau berkunjung ke Apartemenku aku akan menyiapkan cicak yang banyak. Haha...' Lee asik dengan rencana dan pemikirannya.


"Kenapa tuan tertawa sendiri? tuan memikirkan sesuatu!"


"Iya, punyamu masih kecil."


"Aa'...dasar pria mesum...! aku laporin sama Ibu ku!!" Dewi menggunakan kedua tangannya untuk menutupi buah dadanya. "Haha..." Lee tertawa lucu.


"Laporkan saja, aku yakin ibu mu pasti mendukung." kata Lee masih dengan tertawa. "Mendukung apa?" Dewi tidak mengerti. "Mendukung kita untuk menikah." Lee benar-benar senang mengerjai Dewi.

__ADS_1


"Huh,,, dasar... siapa yang mau!" ucap Dewi.


"Mau apa?" Lee berganti bertanya, "siapa yang mau menolak. Haha..." Dewi tertawa, sedetik kemudian dia berkata "Tapi bercanda."


"Serius juga tidak apa-apa." Lee menjawab santai. Dewi menghentikan tawanya dan kembali diam.


Cukup lama diperjalanan, mobil yang dikendarai Lee sudah sampai didepan gang rumah Dewi karna membawa mobil tidak bisa masuk kedalam gang, jadi Lee tidak bisa mengantarkannya sampai didepan rumah.


"Tuan sekretaris, terima kasih." Dewi mengucap terimakasih kepada Lee dan membuka salt belt.


"Sama-sama, aku juga berterima kasih untuk sesuatu pengalaman pertama."


"Tuan, kau membuatku malu. Sudah jangan katakan itu lagi, gara-gara cicak sialan. Lupakan saja, jika tidak aku lebih malu lagi."


"Bagaimana dilupakan, itukan pengalaman pertama." Lee tersenyum, senang melihat reaksi Dewi yang malu-malu. Rasanya berat harus mengakhiri pertemuan itu.


"Terima kasih juga untuk sesuatu yang kecil."


"Dasar tuan sekretaris mesum! kau benar-benar gila!" Dewi segera membuka pintu mobil dan berlari masuk kejalan rumahnya.


"Hahaha...." Lee tertawa terbahak-bahak, gadis itu benar-benar sudah mencuri pemikirannya.


Menggelengkan kepala, bibirnya masih menyunggingkan senyum. "Dewi-Dewi, kau memang perempuan unik."

__ADS_1


Lee melajukan mobilnya kembali menuju ke Rumah Sakit, pasti akan menerima konsekuensi tuan Ken yang marah. Sudah menyiapkan diri jika tuan Ken menggunakan pasal, semua ketakutannya hilang untuk sementara waktu tetapi bayangan ciuman tadi tidak bisa hilang dari otaknya.


__ADS_2