Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Mencari.


__ADS_3

"Aku bertanya, selama diJakarta apa ada tempat yang sering dia kunjungi saat dia sedih."


"Saya tidak tau tuan, selama disini Kei tidak pernah keluar rumah."


"Aaakhh..." Ken akan melayangkan tinjuan lagi, Izham hanya memejamkan mata pasrah dirinya sudah tidak bertenaga, seluruh badan kesakitan karna dihajar tuan Ken.


"Tuan muda, berhenti tuan..." Lee menyusul tuan Ken, ketika sampai didepan rumah Izham dia melihat tuan Ken akan melayangkan pukulan, dengan cepat Lee memegangi lengannya.


"Hah, tidak berguna!!" Ken berdiri, keluar dari rumah Izham begitu saja.


"Tuan Lee, saya tidak tau apa kesalahan saya tiba-tiba tuan Ken datang dan menghajar saya." Izham kesusahan untuk duduk Lee membantu.


"Nona Kei pergi dari rumah, saya juga tidak jelas ada apa. Tuan Ken memang seperti itu jika sedang marah, besok pihak Kantor akan mentransfer uang untuk mengobati lukamu." Lee menepuk bahu Izham 2kali. Lee berdiri akan keluar menemui tuan Ken, dia sendiri sebenarnya takut menghadapi tuan Ken jika sedang marah semuanya akan susah untuk dikendalikan.


"Tuan Lee, terkadang Kei suka menyendiri diTaman hanya itu yang aku tau. Ketika menikah dulu aku dan Kei tidak tinggal bersama dan ketika berada disini beberapa kali Kei suka pergi ke Taman." Lee mengangguk dan meninggalkan Izham.


"Tuan Ken." Lee menyusul masuk kedalam mobil tuan Ken, Lee menyuruh pengawal yang ikut bersamanya untuk mengendarai mobil yang ia bawa tadi. Dan sekarang dia akan berganti mengemudi mobil tuan Ken, dia tau tuan Ken tidak akan memperhatikan dirinya sendiri jika sedang kalut.


Ken menundukkan kepalanya diatas dasbor, Lee paham tuan Ken sedang sedih.


"Lee, ini sudah malam kemana dia pergi?" Lee menghidupkan mesin mobil dan mulai meninggalkan tempat itu. Dia akan menyusuri jalan dipinggiran taman seperti kata Izham jika nona Kei suka pergi ke taman.


"Maaf, apa anda bertengkar?" Lee bertanya ingin mengetahui apa yang terjadi, Ken menegakkan tubuhnya dan bersandar memandang kesamping jendela.


"Dia menguping pembicaraanku dengan mami, saat ini dia terluka Lee."


"Maafkan saya tuan muda, karna saya masih belum paham."

__ADS_1


Ken menghembuskan nafas, "Kei mengatakan padaku jika dia tidak bisa hamil, tadi sore mami bertanya apakah Kei sudah ada tanda-tanda hamil dan aku menjelaskan bahwa Kei tidak bisa punya anak karna dia mandul...." Ken menjeda kalimat, menghembuskan nafas berat saat akan mulai bercerita lagi.


"Mami menyuruhku untuk menikah lagi agar aku bisa mempunyai keturunan, tetapi aku menolak. Pasti Kei terluka saat mendengar perkataan mami tadi, Kei sudah mengatakan jika dia tidak mau dimadu lagi, jika itu terjadi lebih baik bercerai daripada harus dimadu. Pernikahan pertamanya gagal karna hal itu, tidak mungkin aku mengulanginya."


"Kalau anda menolak untuk menikah lagi itu artinya pernikahan anda akan baik-baik saja kan? Berati nona Kei menyalahkan dirinya sendiri lalu memutuskan untuk pergi, atau nona Kei sakit hati mendengar perkataan Nyonya besar."


Ken mengangguk, "Maka dari itu aku harus mencari Kei dan menjelaskan. Tapi kemana, ini sudah tengah malam." Ken mengusap wajahnya kasar. Lee terus melajukan kendaraannya menyusuri pinggiran jalan.


Semua taman dekat Ibu Kota sudah didatangi tetapi tidak menemukan Kei, saat ini tuan Ken dan Lee sedang berpencar mencari di Taman umum dekat Kantornya. Sinar rembulan menjadi saksi perjuangan Ken untuk mencari Kei, walau saat ini sudah pukul 1dini hari tetapi semua masih berkeliling untuk mencari.


Merasa lelah dan frustasi Ken duduk disalah satu kursi tempat Kei tadi menunggu, menundukkan kepala. 'Kemana kau Kei, kenapa harus pergi? beberapa jam tidak melihatmu aku kehilanganmu, kemana aku herus mencarimu?'


"Bagaimana?" Lee menggeleng, ikut duduk disamping Ken.


"Nona Kei mematikan ponselnya jadi tidak bisa melacak keberadaanya."


"Apa kau gila Lee, bagaimana aku bisa istirahat jika aku belum menemukan dimana keberadaan Kei!" Ken menyentak Lee.


"Kita bisa mencarinya besok tuan muda, anda bisa sakit."


"Aku tidak perduli dengan diriku sendiri, saat ini hanya Kei yang aku pikirkan." Lee sudah tidak lagi membantah, tuan muda itu sudah tersulut emosi lagi. Akhirnya mereka melanjutkan pencarian walau sudah lelah Ken memaksa diri untuk tetap mencari, Lee hanya bisa menurut.


Ketika suara adzan subuh mereka baru kembali pulang, berharap ketika sampai dirumah Kei sudah ada. Lee memberi perintah agar para pengawal ikut kembali kerumah tuan Ken.


"Bagaimana, apa kalian menemukan Kei?" bertanya kepada pengawal yang baru kembali.


"Maaf tuan muda, kami belum menemukan keberadaan Nona."

__ADS_1


"Kalian semua tidak becus!!" tangannya sudah terkepal kuat untuk melayangkan pukulan, segera Lee mencegah.


"Sudah tuan muda, ayo kita masuk. Anda harus istirahat." Lee mengajak Ken untuk masuk. Ken melepas tangan Lee dan berjalan cepat.


Pyarrr...


Jendela kaca yang lebar ditendang dengan kuat hingga pecah dan berserak dilantai, tidak ada yang berani menghentikan. Bahkan pelayan yang sudah sibuk dengan aktivitasnya tidak berani melihat langsung dan hanya bersembunyi dibalik ruangan. Lee yang berada disamping tuan Ken terkena serpihan kaca tetapi hanya diam saja, jika raja singa itu mengamuk tidak akan berani menghentikannya. Jika mendekat harus menerima konsekuensi kemarahan dari tuan Kendra Kenichi.


"Ken..." mami Lyra mendengar suara pecahan kaca sangat keras langsung keluar dari kamar. Terkejut melihat jendela kaca rumah sudah pecah dan berserakan.


"Ini semua gara-gara mami! harusnya tidak membahas hal seperti tadi!" Ken berbicara dingin kepada maminya. Mami Lyra seketika menangis, menyadari semua karna kesalahannya hingga Kei pergi dari rumah.


"Maafkan mami Ken, maafkan mami." mami Lyra menangis terisak.


"Apa kata maaf itu berguna mi, lihatlah Kei pergi. Kei sudah pergi mi. Aaakhh,,,"


Pyarr...


Setelah jendela kaca yang pecah, guci antik yang ada diruang tamu tidak luput jadi sasaran.


"Nyonya besar, istirahatlah dikamar." Lee takut tuan Ken hilang kendali dan menyakiti maminya sendiri, meski belum pernah terjadi tetapi Lee mengantisipasi.


"Tapi Lee..." mami Lyra ingin menolak.


"Nyonya, saya mohon. Tuan muda sedang emosi, menjauhlah darinya untuk sementara waktu hingga kondisinya kembali aman. Anda tau sendiri jika tuan muda sedang marah tidak akan memandang siapapun." Lee mendekati Nyonya besar dan menyuruhnya untuk kembali masuk kedalam kamar.


Ken tidak perduli, dia menaiki anak tangga menuju kekamarnya. Menutup pintu dengan keras hingga serasa menggetarkan seluruh ruangan.

__ADS_1


Tubuhnya sudah lelah tetapi pikirannya terus berputar, menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang. Menjulurkan tangan terasa hampa, biasanya Kei ada disana tidur berpelukan dengannya. Rasanya enggan untuk memejamkan mata, tetapi fisiknya sudah terlalu lelah hingga tidak sadar sudah memejamkan mata.


__ADS_2