Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kontraksi Palsu.


__ADS_3

Melahirkan adalah ujung dari proses penantian panjang dari kehamilan.


Untuk menghadapi detik-detik persalinan selalu tegang dan cemas.


Siapapun, ketika mendengar ibu hamil akan melahirkan maka hatinya ikut berdesir.


Membayangkan itu sudah merasa ngeri dan takut. Bayangkan sakitnya ibu melahirkan, seperti dua puluh tulang sehat dipatahkan secara bersamaan. Perjuangan yang sungguh luar biasa.


Belum lagi rasa sakit sebelum proses melahirkan bisa berjam-jam bahkan berhari-hari. Kontraksi-kontraksi yang ada dalam perut kadang hanya kontraksi semu, namun rasa sakitnya benar-benar seperti bayi yang akan lahir kedunia.


Mengalahkan rasa kantuk yang melanda, Tuan Ken dan mami Lyra membawa Kei kerumah sakit.


Setelah sampai dirumah sakit, beberapa dokter sigap mengecek kondisi Kei.


Tapi aneh, perut yang kencang dan kadang sakit tadi sudah berangsur hilang. Padahal diluar ruangan tuan Ken dan mami Lyra menunggu dengan cemas. Sebelumnya tuan Ken beradu mulut dengan perawat, tuan arogan itu ingin menemani sang istri karna sebelumnya sudah berjanji. Tapi keadaannya belum sampai disitu. Kei masih dalam tahap pemeriksaan belum pada proses persalinan,


maka dari itu perawat menyuruh tuan Ken untuk menunggu.


Pintu ruangan terbuka, dokter keluar dengan raut wajah yang biasa.


Tuan Ken segera menghampiri. "Bagaimana, apakah Kei akan melahirkan sekarang? dia masih kesakitan? lalu aku harus berbuat apa?" tuan Ken terlihat sangat cemas. Mami Lyra juga sama.


Beberapa dokter mendengar dengan seksama. Menunggu tuan muda itu menyelesaikan pertanyaan yang mengandung kekhawatiran.


"Tuan Ken, tenanglah. Anda tidak perlu cemas."

__ADS_1


"Hei, kau mau ku kirim ke Negara Irak! bagaimana bisa menyuruhku tenang, sedangkan istriku sedang kesakitan akan melahirkan!" suara tuan muda arogan itu menggelegar dilorong rumah sakit. Tengah pagi buta suara terdengar sangat jelas, untung mereka berada diruangan khusus yang hanya ada beberapa kamar.


Beberapa dokter mundur beberapa langkah, sekian lama tidak melihat kemarahan tuan Ken, tapi mulai saat ini sampai nona Kei melahirkan para dokter dan perawat yang membantu melahirkan akan berada diambang nyawa. Profesi mereka menjadi taruhan.


"Begini tuan, nona Kei masih belum melahirkan sekarang. Kontraksi yang terjadi beberapa waktu lalu hanya kontraksi palsu. Kemungkinan proses persalinan akan sesuai jadwal, atau pun bisa maju beberapa hari." dengan keberanian empat sembilan, salah satu dokter memberi penjelasan.


Terdengar hembusan nafas panjang dari mami Lyra. Sedangkan tuan Ken masih belum menemukan kelegaan. Penjelasan dari dokter membuatnya kebingungan.


Beberapa waktu lalu istrinya meringis kesakitan, lalu kenyataan Kei masih belum saatnya melahirkan? ah, membingungkan.


"Tapi tadi Kei kesakitan seperti itu, bukankah dia akan melahirkan?"


"Belum, tuan. Kami sudah memeriksa dan belum adanya tanda-tanda pembukaan."


"Uh... kenapa tidak dibuka saja supaya istriku bisa cepat melahirkan! Lakukan!" tuan Ken memberi perintah diluar nalar. Membuat beberapa dokter tadi terkejut dan bengong.


"Tuan, pembukaan pada jalan lahir itu tidak bisa dilakukan secara paksa, itu akan lebih menyakitkan pada ibu hamil. Jika tuan menginginkan nona Kei melahirkan sekarang, kami bisa mengupayakan tindakan Cesar, kami sudah mengecek kondisi nona dan semua baik-baik saja. Tekanan darah dan lainnya stabil." dokter Sofia dan yang lain harus extra sabar menghadapi tuan posesif itu.


Tuan Ken masih belum merasa tenang, "Kalian para dokter kurang pintar! mengupayakan pembukaan saja tidak becus. hah! Aku ingin hei segera melahirkan, tapi bukan dengan Cesar!"


"Bagaimana harus menjelaskan..!" dokter Sofia menggerutu pelan.


"Begini. Meski kami mengupayakan pembukaan atau menggunting jalan lahir Nona Kei, jika belum saatnya bayi keluar maka bayi itu belum keluar tuan."


"Hiya...! kau mau mati! berani kau menggunting apapun dibadan Kei, meski itu hanya sepotong kuku bukan hanya di Negara Irak! akan aku pastikan kalian sampai keplanet lain!"

__ADS_1


Para dokter saling pandang, rasanya mereka ingin menjahit mulut tuan Ken, atau menyuntik obat bius dosis tinggi agar tuan muda aneh itu tak lagi berlebihan.


"Ken! kau ini tenanglah. Mami pusing mendengarmu, serahkan semua pada dokter, ia lebih tau segalanya kondisi Kei." mami Lyra mengomel, ia sendiri sangat pusing dengan sikap Ken yang berlebihan.


"Tapi Mi, memang benarkan yang aku perintahkan tadi!"


"Sudah. Sekarang diam dan temani Kei, daripada memerintah yang aneh-aneh!"


Baru ini mami Lyra menyuruh anaknya untuk diam. Biasanya ia pun tidak akan berani mencegah, tapi ditengah pagi buta begini mami Lyra kasihan dengan para dokter yang berjajar, mereka sudah menyediakan waktu untuk mengecek keadaan Kei tapi harus mendapat kemarahan dan ancaman.


"Jika kondisi menantuku baik-baik saja kalian boleh kembali beristirahat. Maaf jika tengah malam sudah menggangu. Sebelumnya terima kasih." mami Lyra menyuruh para dokter untuk kembali keruangan mereka. Wanita paruh baya itu memang selalu bersikap baik dan bijak, sangat jauh dari sikap putranya.


"Tidak apa-apa Nyonya, itu sudah tugas kami. Kapanpun pasien membutuhkan pertolongan, kami harus siap. Baik, kami permisi. Jika ada apa-apa lagi bisa memanggil kami. Tapi kami tetap mengecek kondisi nona Kei satu jam sekali." dokter Sofia sangat sopan berbicara pada mami Lyra. Tidak berani menatap kearah tuan Ken, sang sultan itu masih terlihat mengerikan.


Tuan Ken dan mami Lyra memasuki kamar Kei. Wanita yang tadi kesakitan kini tengah tertidur dengan lelap.


Melihat pemandangan itu tuan Ken bisa bernafas lega. "Ternyata Kei sudah tidak kesakitan Mi, aku sudah khawatir melihat dia seperti tadi." rasa kantuk sudah hilang, ia dan mami Lyra duduk disofa. Dua pasang mata fokus memperhatikan Kei.


"Ken, ketakutanmu berlebihan. Itu hanya kontraksi palsu, nanti jika Kei benar-benar mengalami pembukaan pada jalan lahir istrimu akan lebih merasakan kesakitan." kata mami Lyra. Sebagai wanita dengan melahirkan 2putra, ia sudah pernah merasakan sakitnya melahirkan.


"Huh...Mi, aku tidak bisa melihat Kei merintih kesakitan. Lalu aku harus bagaimana?" tuan Ken menyangga dagu dengan kedua tangannya. Membayangkan wajah Kei yang kesakitan membuatnya frustasi. Apa yang harus ia lakukan?


"Kau tidak perlu menemani proses persalinan, kau tidak akan sanggup. Keberadaanmu akan memecah konsentrasi para dokter." ucap mami Lyra, ia juga bingung menghadapi sikap berlebihan putranya.


"Tidak bisa, aku sudah berjanji akan menemani Kei melahirkan. Memberi dukungan agar Kei semangat berjuang."

__ADS_1


"Nah kalau begitu kau harus rileks tidak boleh tegang atau cemas, itu bisa mempengaruhi konsentrasi para dokter. Terutama konsentrasi istrimu. Saat dokter melakukan tindakan, kau tidak boleh mencegah dan marah-marah! Mengerti!" mami Lyra menatap dengan serius. Tuan Ken tidak menjawab, pandangan itu lurus kedepan. Entah apa, yang ia pikirkan.


__ADS_2