
Deg... Deg...
Perempuan yang mengenakan pakaian serba putih dan membawa keranjang bunga telah berdiri tegap didepan Lee. Wanita setengah umur itu sangat terkejut mendapati Lee sang tangan kanan anaknya tengah mengunjungi makam almarhum suaminya.
Tidak pernah menduga jika Lee akan mengunjungi makam almarhum suaminya.
Mami Lyra terdiam dan hanya mampu menelisik wajah Lee yang juga sedang meneliti wajahnya.
Keduanya sama-sama mematung untuk waktu yang cukup lama.
Bukan hanya mami Lyra yang terkejut, bahkan Lee juga sangat terkejut dengan kedatangan mami Lyra yang tiba-tiba dan tanpa dugaannya.
Kedipan mata dan reaksi tubuh yang membeku ditempat membuat Lee curiga bahwa mami Lyra mendengar perkataannya tadi. Jika tidak, tidak mungkin mami Lyra terlihat shok dan terkejut.
Meskipun harapan Lee bahwa mami Lyra tidak mendengar dan dia tidak perlu membuka semuanya. Karna jujur saja Lee sendiri masih belum siap membuka memori Itu.
"Jelaskan Lee, kenapa kau memanggil almarhum Papinya Ken dengan sebutan Om Papi?" tanya mami Lyra menuntut.
Mendengar pertanyaan itu ternyata dugaan Lee tadi benar bahwa mami Lyra pasti mendengar ucapannya. Lee tak bisa lagi menyembunyikan kegugupannya, ia bingung harus menjelaskan.
"Baru kali ini aku mendengar kau memanggil Papinya Ken dengan panggilan Om Papi?" selidik mami Lyra.
Lee masih terdiam, belum menjawab satu katapun. Bingung, sangat bingung. Apakah sudah waktunya ia bercerita tentang semuanya?
Melihat Lee terdiam membuat mami Lyra semakin penasaran. Apalagi raut wajah Lee terlihat gugup, pasti ada sesuatu yang disembunyikan.
Mami Lyra maju beberapa langkah mendekati Lee.
__ADS_1
"Bukannya kamu tadi izin untuk pergi ke kantor karna ada urusan penting? Dan, tiba-tiba saja kau ada disini." mami Lyra kebingungan.
Lee tak bergeming, menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongan.
"Wajahmu terlihat gugup. Aku yakin ada yang kau sembunyikan, Lee. Termasuk keberadaan mu di makam Papinya Ken."
"Kamu pasti mengingat, tidak sembarang orang bisa mengunjungi wilayah pemakaman khusus yang menampung almarhum keluarga besar Kenichi."
Yang dikatakan mami Lyra memang benar, makam almarhum tuan Hiro memang ada dalam makam khusus keluarga Kenichi, mulai dari nenek dan kakek buyut hingga keturunan Kenichi, sebisa mungkin semua keturunan akan dimakamkan di pemakaman itu.
Jadi jika bukan anggota keluarga atau kerabat dekat yang mengenal turun temurun keluarga Kenichi tidak akan diizinkan untuk memasuki wilayah pemakaman itu.
"Ma maafkan saya, Nyonya Besar, yang telah membohongi anda. Sebenarnya saya memang berniat mengunjungi makam almarhum Tuan Besar." jawab Lee masih terlihat gugup.
Kening mami Lyra mengerut, memandang heran kearah Lee. "Kamu tadi tidak memanggil almarhum Papinya Ken dengan sebutan Tuan Besar, tapi sangat jelas aku mendengar kau memanggilnya dengan sebutan Om Papi."
*Mi, Papi mau direbut sama Tupai. Tupai tadi dipangku sama Papi dan sekarang Tupai memanggil Papi dengan sebutan Om Papi. Ken tidak suka, Mi. Pokonya Mami harus marahin Tupai jelek.* tiba-tiba saja mami Lyra mengingat aduan Ken sewaktu kecil tentang Tupai.
Entah Tupai itu manusia, hewan atau apa tapi mami Lyra tidak paham. Yang jelas setiap akhir pekan almarhum papi Hiro mengajak Ken jalan-jalan. Dan itu menghabiskan waktu seharian. Saat itu mami Lyra masih sibuk mengurusi bisnis salon kecantikan jadi sangat jarang ikut dengan mereka.
Pernah suatu hari mami Lyra benar-benar memaksa papi Hiro agar mengizinkannya ikut. Dan saat itu papi Hiro mengizinkan, mami Lyra sangat senang.
Setelah hari weekend yang ditunggu tiba, mami Lyra benar ikut pergi dengan papi Hiro dan juga Ken. Tapi setelah sampai tujuan mami Lyra dibuat terperanjat karna almarhum suaminya dulu malah mengajaknya berjalan-jalan ke taman satwa dan bukan rumah mewah seperti yang diceritakan Ken kecil.
Waktu itu mami Lyra tidak bisa menuntut jawaban dari papi Hiro karna suaminya selalu berkilah tidak mau jujur.
Sekitar dua tahunan mami Lyra merasa janggal dengan kegiatan suaminya yang selalu mengajak Ken bepergian.
__ADS_1
Karna padatnya aktivitas membuat mami Lyra tidak punya waktu untuk menyelidiki kemana almarhum suaminya mengajak Ken pergi. Hingga mami Lyra melupakan kejanggalan itu begitu saja karna Ken beranjak besar dan sudah melupakan istilah-istilah aneh yang sering disebutnya.
"Si Koi, Tupai dan Om Papi? sepertinya aku pernah mendengar istilah-istilah itu. Tapi sedikit lupa juga. Kau bisa jelaskan kenapa kau juga tau tentang istilah-istilah itu? karna setahu ku hanya Ken dan Papinya yang sering menyebut kata-kata itu!" pertanyaan mami Lyra begitu menuntut jawaban. Pandangan matanya terus terarah pada Lee.
Lee seolah menjadi orang bisu dadakan, dia yang biasanya selalu patuh dan penurut kini menjadi seorang yang pendiam.
Lee menghirup udara dan menghembuskan secara perlahan. Menetralkan semua perasaan yang dirasakan. Mungkin ini sudah rencana Tuhan agar dia mau membuka memori lamanya tentang orang baik yang telah menolongnya dan mungkin ini saat yang tepat untuk bercerita.
"Aku memang tahu tentang istilah-istilah panggilan itu, Nyonya." kata Lee pendek.
"Kau tahu tentang istilah-istilah itu? bagaimana mungkin? istilah panggilan itu hanya Kio dan almarhum Papinya yang tahu. Bahkan aku sendiri tidak tahu tentang istilah Tupai yang sering dibicarakan Ken. Entah itu Tupai sungguhan atau hanya nama julukan untuk seseorang." ucap mami Lyra heran dan belum mempercayai perkataan Lee barusan.
"Jika ada waktu saya akan menceritakan tentang nama-nama itu. Tapi sekarang belum tepat karna Tuan Muda juga belum sadar." Lee belum siap untuk bercerita.
"Tidak perlu menunggu Ken sadar, jelaskan saja sekarang. Dulu aku sangat penasaran dengan istilah nama itu, sepertinya sangat penting bagi Ken. Aku benar-benar ingin tahu tentang cerita itu." mami Lyra sedikit memaksa.
"Apa dulu kau dekat dengan almarhum Papinya Ken tanpa sepengetahuan kami?"
"Almarhum suamiku menceritakan sesuatu padamu? padahal aku yang sangat penasaran tidak pernah sekalipun diberitahu oleh almarhum Papinya Ken, tapi malah kamu yang lebih tau cerita itu!" mami Lyra bersungut kesal.
Lee merasa tidak enak hati pada mami Lyra yang terlihat kesal karna ke bungkamannya.
"Lebih baik anda mendo'akan almarhum Tuan Besar lebih dulu, Saya akan menunggu anda di pintu keluar. Setelah itu saya akan bercerita seperti yang saya tahu." ucap Lee.
"Hem... baiklah." jawab mami Lyra.
"Saya permisi dulu." pamit Lee. Dia berdiri dan berjalan melewati mami Lyra tanpa lupa untuk menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
__ADS_1
Setelah Lee berlalu, kini berganti mami Lyra yang bersimpuh didepan makam suaminya.