Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Mengembalikan Dompet


__ADS_3

Ini kali ke-tiga mereka berbicara setelah malam naas itu. Pertama waktu keduanya berada dalam mobil dengan penuh gelora panas. Ke-dua, pada saat Naya mengembalikan bajunya, dan yang ke-tiga yaitu saat ini. Mereka duduk di kursi plastik yang disediakan oleh penjual rujak. 


Naya begitu semangat menyendok rujak ke dalam mulutnya. Tidak risih meski Akio sesekali memandang ke arahnya. Rujak itu sangat lezat menggoyang lidahnya, hingga lupa akan keberadaan Akio. 


Akio menatap intens, berpikir, Naya sangat berubah dari pertama kali dia melihatnya. Perempuan itu lebih kurus, dengan cekungan mata yang tak bisa ditutupi. Pencahayaanya pun redup dan pucat. Apa dia kelelahan bekerja?


"Apa kamu sedang sakit?" 


Pertanyaan Akio sukses membuat Naya menghentikan kunyahan dan menoleh dengan kening berkerut penuh. Lalu melihati diri sendiri. 


Jalas aneh. Akio adalah orang ke-empat yang menanyainya demikian. 


Ibu: "Naya, wajahmu terlihat pucat. Kamu sakit, Nak?"


Dina: "Naya, wajahmu pucet banget. Kamu sakit apa? Periksa gih, biar tahu kamu ngidap penyakit apa. Takutnya serius. Sumpah, aku nggak tega liatin kamu kek gitu. Ngeri tau!" 


Alfin: "Akhir ini kamu terlihat pucat, Naya. Apa kamu sakit?" 


Dan terakhir, Akio: "Apa kamu sedang sakit?"


Pertanyaan yang sama. Dia juga terheran-heran dengan keadaan dirinya. Terkadang mood-nya menggebu ketika menginginkan sesuatu, tetapi detik berikutnya sudah tidak menginginkannya lagi. 


Bukan itu saja, masih banyak hal yang baru-baru ini di rasakan beda dari biasanya. Ketika ibu memberi nasehat, dia terlalu terbawa suasana dan langsung menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan. 


Ketika Dina mencandainya, dia akan marah sejadi-jadinya meski jam berikutnya dia memohon untuk baikan. Ah, semua itu membuatnya aneh dan pusing. Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. 


"A-aku nggak sakit," jawabnya. 


"Kamu terlihat pucat, ku kira sakit." 


Naya menggeleng. Sesudah itu mereka hening dan bunyi ponsel Akio memecah lamunan mereka. 


"Iya, Zee." 


"Kakak di mana? Kenapa lama banget? Zee dari tadi nungguin!" Suara Zee jelas terdengar kesal. 


Akio hampir saja memukul keningnya sendiri telah lupa membuat janji dengan Zee bertemu di cafe. Hanya karena tak sengaja bertemu Naya di jalan, dia bahkan langsung melupakan Zee. Oh, Akio!!!

__ADS_1


"Sorry-sorry, lima menit lagi aku sampai." 


"Baiklah, Zee tunggu. Kak Io, hati-hati. Aku padamu, Kak … bye …." 


Setelah menyimpan ponsel ke dalam saku. Akio lekas berdiri. "Sorry, aku tadi ada janji dengan Zee. Nggak apa aku tinggal?" 


"Nggak papa," balas Naya singkat. Hasrat ingin menghabiskan rujak bebeg sampai puluhan porsi telah hilang begitu saja. Entah karena apa. Yang pasti bukan karena dia, kan?! Naya berusaha menyangkal. Meski ulu hati ada rasa yang sulit digambarkan. 


Kepergian Akio membuatnya kembali pada mood berantakan. Setelah membayar dua porsi rujak bebeg, dia memesan ojol untuk pergi ke tempatnya bekerja. 


Sebenarnya jam Naya bekerja adalah siang menjelang sore, namun dia sudah berdiskusi dengan Alfin bila masa libur kuliah dia akan mengambil jam lembur. Dan tanpa syarat, Alfin menyetujui. 


Naya menunggu ojol yang sedang menuju ke tempatnya, namun tak sengaja kaki beralas flatshoes-nya menginjak sesuatu. Matanya mengarah ke bawah. Dompet?


Ketika dibuka, ada kartu identitas dengan nama 'Akio Ryuga Kenichi'. 


"Akio? Oh ternyata nama lengkap dia adalah Akio Ryuga Kenichi," ucapnya pelan sambil melanjutkan membaca tempat tanggal lahir dan juga alamat rumah. 


Di dalam dompet ada beberapa lembar uang berwarna merah, namun yang membuat Naya khawatir adalah beberapa kartu debit juga kartu platinum tanpa batas. Em, Akio pasti kalang kabut mencari ini. 


Ah, sial! Ponselnya mati. Dasar hp butut! 


Kemana dia harus mengembalikan dompet beserta isinya itu. Dia harus mengembalikannya segera. Mendadak muncul untuk mencari alamat rumah. 


Dan, di sinilah Naya berada. Berdiri di depan gerbang rumah paling mewah dari deretan lainnya. Naya terbengong-bengong. Sampai penjaga post keamanan bertanya. "Mbak, cari siapa?" 


"Cari siapa?" Naya yang terkejut malah mengulang pertanyaan. "Em, saya mencari rumah A-akio, Pak." 


"Ada kepentingan apa Anda mencari Tuan Muda?" 


Tuan Muda? 


Bukan Naya tidak bisa melihat Akio berpenampilan seperti orang berada. Namun Naya tak bisa menerawang seberapa kekayaan Akio. Ternyata sangat mencengangkan. 


"Saya ingin mengembalikan dompet Akio yang tadi terjatuh di jalan." 


Satpam itu mengerut. "Tunggu sebentar," ucapnya. Berbalik menuju post keamanan dan dan melakukan laporan. Tak berapa lama kembali di hadapan Naya dan membuka gerbang lebih lebar. "Mbak, disuruh masuk." 

__ADS_1


Dari gerbang menuju istana megah di depan sana membuat Naya kelelahan. Keningnya dipenuhi bulir keringat. 


"Hay, mari masuk." Ternyata Kei sudah menyambut di depan pintu. 


Naya tersenyum canggung. Dia tertegun melihat perempuan paruh baya di depannya yang berpenampilan elegan dan masih terlihat cantik. Orang kaya pasti pandai merawat diri. 


Naya menebak bila itu ibunya Akio, karena memiliki kemiripan dari segi wajah. 


"Bi! Tolong buatkan minum buat tamu saya." 


"Baik, Nyonya." 


"Silahkan duduk." Kei mempersilahkan. 


"Tadi kata Pak Satpam, kamu menemukan dompet anak saya?" 


"Iya, betul, Bu. Saya kesini mau mengembalikannya. Tadinya mau telpon, tapi hp saya mati," jelas Naya. 


Naya menaruh dompet di atas meja. Lalu Kei meraihnya, dari bentuknya pun Kei sudah hapal itu dompet Akio. Dompet kado ulang tahun dari Kyu yang dibeli bersamanya di gerai aksesoris terkenal dengan harga dua belas juta rupiah. 


"Makasih banyak, Nak. Jarang-jarang jaman sekarang ada yang berhati baik  mau mengembalikan yang bukan miliknya. Ohya, siapa namamu?" 


"Nama saya, Naya." 


"Nama yang indah. Ayo, silahkan diminum." 


"Makasih, Bu." Naya yang memang kehausan langsung meminum segelas jus mangga sampai tandas licin. Dia melihat jam di pergelangan tangan yang menunjukan pukul 12 siang. Lalu berpamit pulang. 


"Tunggu sebentar!" sergah Kei. Dia mengambil uang yang ada di dompet Akio untuk diberikan pada Naya, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih. 


"Tidak usah, Bu. Saya tidak minta imbalan apapun. Sungguh, saya ikhlas." 


"Saya tahu kamu ikhlas, tapi tolong jangan tolak rezeki. Kamu kesini pasti pakai biaya, ini untuk ganti uang bensinmu." Kei setengah memaksa. Tapi Naya tetap tidak mau menerima dan pergi begitu saja. 


Naya buru-buru meninggalkan rumah Akio. Di sepanjang jalan perempuan itu melamun. Masih dihantui bayang keluarga Akio yang ternyata sangat kaya raya. Sungguh sangat jauh berbeda dengan dirinya. Bukan hanya berbeda, bahkan apa yang dimiliki tak ada seujung kuku pun dibanding kekayaan keluarga Akio.


"Menjauh Nay. Anggap tidak saling kenal. Itu lebih baik." Naya memperingati diri sendiri. 

__ADS_1


__ADS_2