Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Pelik dan Buntu


__ADS_3

Sampai di rumah. Di dalam kamar, Akio duduk di tepi ranjang. Menelungkupkan wajah hingga beberapa menit lamanya. Sebelum dia bangkit dan … 


"Arrrgggh!" Berteriak tertahan. Menjambak rambut demi mengurangi pikiran stresnya. 


"Naya hamil?" 


"Naya hamil?" 


"Beneran Naya hamil?" 


Berkali kali bertanya sendiri. Sangat berharap semua itu salah. Kemarin-kemarin, bahkan hampir 2 bulan lebih setelah kejadian penyelamatan Naya dari dua berandal jalanan yang malah berakhir dia dan Naya yang terperangkap. Dia begitu bebas tanpa beban tanggung jawab karena Naya sendiri meminta dia untuk melupakan dan tidak membahas hal itu. 


Tapi saat ini?! Setelah mengetahui Naya hamil, apakah dia masih bisa bebas untuk lepas tanggung jawab? Bukankah terlalu pengecut. Tapi bagaimana dengan Zee? 


"Agrrh!" Dia kembali menjambaki rambut dengan frustasi. "Maafin aku, Zee." Ingin rasanya menangis dan berteriak demi sebuah rasa bersalahnya pada Zee.


Malam itu, terjadi begitu saja. Gelora panas yang sulit diredam, buai kenikmatan membuat lupa akibat apa yang kemungkinan bisa saja terjadi. 


Bukan menyalahkan siapa yang menjadi penyebab kesalahan, tetapi semua sudah terlanjur terjadi. Bila dia harus menerima makian dari semua orang, dia bisa terima karena itu memang kesalahannya karena tak bisa menahan diri. 


Tapi, lagi-lagi Zee. Perempuan yang dua bulan lagi akan resmi dinikahi. Meski tanpa cinta, namun dia yakin, lambat laun cinta bisa tumbuh. Dia berjanji untuk mencoba membuka hati untuk Zee, demi perasaan Zee yang tulus. Tapi … kenapa takdir berkata lain. 


Akan sehancur apa bila Zee mengetahui kebrengsekkannya.


"Maafin aku, Zee." Entah sampai kapan, atau sampai mencapai angka berapa dia terus bergumam kata maaf untuk Zee, meski perempuan itu tak ada di hadapannya juga tak tahu kesalahan fatalnya. 



Di rumah Kanaya. 


Dia yang baru saja pulang dengan taksi online hanya diam membisu disepanjang perjalanan. Begitupun dengan ibunya, tak beralih dari kaca jendela mobil. Melihat lalu lalang kendaraan lain yang sebenarnya tidak menarik perhatian sama sekali. 


Sesekali menyeka ujung mata, namun tak terdengar isak tangis. Ibu Naya menangis dalam diam. 

__ADS_1


Pemandangan demikian membuat Naya hancur berkeping-keping. Sadar telah mempermalukan ibunya dengan aib besar yang sulit untuk dimaafkan. Aib yang benar-benar memalukan. 


Sampai di rumah, ibu Naya tetap tak bersuara. Langsung masuk ke dalam kamar dan Naya sendiri ikut menyendiri di kamarnya sendiri. 


Apalagi yang bisa dilakukan selain menangis. Apa dia siap menanggung semuanya? 


'Dia'? Tentu saja. Karena untuk seorang pria yang membuatnya dalam keadaan sekarang tak mungkin untuk dimintai pertanggung jawaban. Selain perbedaan kasta, dia tak punya keberanian untuk menuntut pertanggung jawaban Akio. 


Sampai sore Naya tak beranjak dari tempat pembaringan, bahkan senja telah kembali ke peraduannya, tetapi Naya masih tak henti memikirkan jalan keluar dan sialnya yang justru buntu. Tak menemukan solusi. 


Harum masakan sang ibu telah tercium sampai ke kamarnya. Bisa ditebak ibunya sedang menyiapkan makan malam. Naya yang sempat terlelap, kini mengerjapkan mata. Lampu kamar sudah menyala, sedangkan di luar langit sudah berubah menggelap. Seperti kehidupan selanjutnya yang mungkin akan menggelap, pekat dan bahkan sangat pekat. 


Tak lama dia bangun dan bersandar di kepala ranjang, pintu kamar terbuka pelan. Wajah tua ibu muncul dengan tatapan sayu. 


"Bersihkan dirimu lalu makan malam," ucap Ibu Naya. 


Naya tercekat meski hanya ingin menjawab 'iya, Bu' justru isak tangis kembali dimulai. 


Sakit, sangat sakit melihat ibu yang sejak mengetahui dia hamil tak sekalipun buka suara untuk memaki atau memarahinya. Ibu menutup mulut dan tidak menanyakan apapun. Tidak marah sedikitpun. Namun, air mata tak henti merebak keluar. Mungkin saking marah dan kecewanya, sampai Ibu tak bisa untuk marah lagi. 


Tetesan air mata ibu terasa hangat mengenai lengan tangannya. Ibu Naya belum memberi respon.


"Naya sudah mengecewakan Ibu. Maafin Naya, Bu." Naya merengkuh kedua kaki ibunya dengan isak tangis pilu. 


Ibu Naya menarik pelan tubuh Naya untuk berpindah ke tepi ranjang. Naya yang tak sanggup melihat netra berkabut ibunya, memilih duduk di bawah dengan menelungkupkan wajah. 


"Hari ini hari paling bahagia dalam hidup Ibu, setelah terakhir kepergian ayahmu. Ibu bangga dan Ibu bahagia bisa melihatmu berhasil wisuda dengan nilai baik. Tapi, hari ini Ibu juga sangat kecewa mendengar hasil yang dikatakan petugas kesehatan tadi." 


"Kenapa kamu harus salah jalan, Nak? Apa yang membuatmu tergoda dengan kehinaan itu?" 


Naya terus terisak. Pertanyaan dengan nada pelan membuat hatinya semakin sakit. Kenapa ibu tidak berteriak marah, atau menampar pipinya berkali-kali. Itu membuat rasa bersalahnya sedikit berkurang. Namun sikap ibu demikian membuatnya pedih dan sesak. 


Naya benar-benar tercekik untuk mengatakan sebenarnya. 

__ADS_1


"Siapa pria itu, Nay?" 


Deg! 


"Jangan tutupi semuanya dari Ibu. Katakan, Naya." 


Dengan suara pelan dan terbata, Naya mulai menceritakan pada ibunya. Tentang malam itu yang lolos dari terkaman dua berandal jalanan tapi justru terperangkap dengan seorang pria yang sama sekali tak disangkanya. 


Tak ada yang bisa ditanya tentang siapa yang memulai, semua begitu saja terjadi. Secepat bisikan setan mempengaruhi. 


Ibu Naya sempat terkejut mengetahui siapa pria itu dan seperti apa keluarganya. Sangat jauh berbeda dengan keadaan keluarganya. Istilahnya, bagai langit dan bumi. 


"Apa hubunganmu dengan pria itu terjalin baik?" 


Naya menggeleng. Membuat Ibu Naya menitikan air mata. 


"Sejak malam itu, aku dan Akio nggak saling sapa, Bu. Hanya beberapa kali tak sengaja terlibat pembicaraan. Tapi semua itu Naya sendiri yang minta agar Akio nggak bahas dan ungkit kejadian itu," jujur Naya. 


Sang ibu memejamkan mata sejenak. "Kisah Ibu dan ayahmu yang menikah tanpa restu, apa kamu juga akan mengalami hal yang sama, Nak?" Ibu Naya menunduk namun tak membalas tatapan Naya. Memilih memejamkan mata demi sekelebat perjalanan rumah tangga bersama almarhum ayahnya Naya. 


"Na-Naya tidak mungkin menikah dengan Akio, Bu." Suaranya melirih dan tercekat. 


"Bagaimana tidak mungkin? Lantas seperti apa nasib bayi yang kamu kandung?" 


"Naya akan memikirkan jalan keluar. Atau, Naya bisa membesarkan anak ini sendirian." 


"Itu berat, Nay." 


"Naya yakin bisa, Bu." 


Nggak mungkin Naya minta tanggung jawab Akio. Dia sudah menjadi milik orang lain.


"Kamu bisa, tapi … bagaimana dengan anakmu nanti yang hanya akan ada dalam surat wali ibunya. Tanpa punya ayah." 

__ADS_1


Keadaan begitu rumit. Pelik yang seolah buntu tak ada jalan keluar. Apa yang akan dilakukan untuk mencari jalan keluar. Haruskah menemui Akio dan memberitahu kehamilannya. Meminta pertanggung jawaban dengan sebuah pernikahan yang sah. 


__ADS_2