
"Aku mencintaimu, Nay. Aku janji, setelah ini akan menjaga dan membahagiakanmu. Ku mohon, jangan pergi lagi dariku. Kamu tidak tahu betapa aku sangat kehilanganmu. Aku hampir gila karena mu," ungkap Akio.
"Jangan tinggalkan aku seperti kemarin. Aku tidak mau berpisah denganmu, juga anak kita."
"Kalau ada sesuatu yang kamu rasa, ceritakan padaku, jangan kamu pendam sendiri atau pun mencoba mencari jalan keluar sendiri. Aku suamimu, sudah kewajiban ku melindungi mu. Bahkan, setelah ini, aku pastikan tidak ada lagi yang menyakitimu."
"Oma ... beliau sudah menyesal dan berjanji akan menerimamu sebagai cucu menantunya. Kondisi Oma sekarang sampai sakit-sakitan karena terus terpikirkan rasa bersalahnya terhadapmu. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi, Nay. Ku mohon, kembali dan kita akan memulai semuanya dari awal." Akio berkata panjang lebar, untuk meyakinkan Naya. Berharap Naya mau memulai dari awal tanpa memikirkan janjinya yang tidak mendasar. Janji yang justru menyakiti banyak hati.
Dia tahu bahwa Naya pun sangat tersiksa dengan keadaan. Naya pun terpaksa pergi darinya karena terbebani rasa bersalah dan tertekan sikap oma.
Zee, lagi-lagi Zee yang memberitahu bagaimana sebenarnya hati Naya. Zee menceritakan banyak hal dengannya, sampai Akio bertekad akan terus memperjuangkan Naya.
"Aku harus menepati janji," ucap Naya lirih.
"Janji?! Persetan dengan janji! Semua itu tidak mendasar, dan kamu tidak perlu menepati. Apa kamu sadar, karena janjimu justru menyakitiku, menyakiti diri mu sendiri bahkan menyakiti putra kita. Apa kamu tega, meninggalkan bayi yang kamu kandung dan menyerahkannya kepada orang lain?"
"Jangan egois, Nay. Sampai kapanpun aku hanya menganggap Zee sebagai adikku. Dia sama seperti Kyu. Aku menyayanginya sama seperti menyayangi Kyu." Akio menekankan kalimatnya, bahwa perasaannya terhadap Zee tidak akan berubah, walau dia berpisah dengan Naya sekali pun, Zee akan tetap di anggapnya sebagai adik.
"Perasaan tidak bisa di paksa, kamu juga tidak bisa memaksaku kembali dengan Zee."
Naya mampu menangis. Mungkin yang di katakan Akio benar, perasaan memang tidak bisa di paksa. Tapi, sepanjang yang di katakan Akio, belum mampu untuk meyakinkan hatinya.
Masih ada kebimbangan.
"Kak Io, benar, Nay, sampai kapan pun perasaan kami hanya sebatas adik dan kakak. Aku pernah sangat mencintai kak Io, tapi ku rasa perasaanku sudah berubah. Kak Io hanya pantas menjadi kakakku bukan pasanganku."
Zee mendekat ke brankar Naya. "Aku sudah bilang, janjimu tidak perlu ditepati. Tanpa kak Io aku juga bahagia. Kembalilah bersama kak Io, aku sudah merelakan semuanya."
__ADS_1
"Lupakan rasa bersalah! Kamu tidak perlu merasa bersalah terhadapku karena aku sudah ikhlas dan merelakan."
"Aku sudah bicara dengan oma, dan oma berjanji akan menerimamu sepenuhnya. Lupakan semuanya dan kembalilah dengan kak Io, dia sangat mencintaimu. Jadilah keluarga kecil yang bahagia," ucap Zee dengan tulus. Dia tersenyum lembut menatap Naya. Tak ada air mata karena kini hatinya memang sudah berlapang.
Semua itu tak lain berkat Faskieh. Yah ... berkat ucapan Faskieh, dia menjadi sadar dan bertekad untuk mencoba membuka hati dengan pria lain.
"Ta-pi Zee ...."
"Tapi apa lagi, Nay? Apa semua perkataanku dan Kak Io belum jelas?"
Naya menggeleng, berikutnya bibir pucat itu menyunggingkan sebuah senyuman. "Terima kasih, Zee. Terima kasih," ucapnya.
"Nah, gitu dong. Aku bahagia melihat kalian bahagia," ucap Zee. "Tenang saja, aku pasti mendapat pria yang jauh lebih tampan dan lebih sempurna dari kak Io," seloroh Zee sambil menaik turunkan alisnya. Membuat mereka tergelak.
Setelah Zee berpamitan pergi, kini tinggal Naya dan Akio kembali. Keduanya saling pandang penuh makna.
"Kamu kenapa?" tanya Akio.
Naya menggeleng. "Aku bahagia. Aku sangat bahagia," ucap Naya.
Akio ikut menerbitkan senyum. "Andai kamu tidak terbebani pikiran sendiri, kamu mau bercerita padaku, mungkin ceritanya bukan seperti ini. Kamu tiba-tiba pergi tanpa sebab, siapapun tidak akan tahu. Jika oma tidak mengakui kesalahannya, aku pun tetap tidak tahu kamu pergi karena apa."
"Sekarang, tidak ada lagi alasan untuk kamu pergi. Kamu harus berjanji, kita akan tetap bersama," ucap Akio mengacungkan jari kelingking di depan Naya.
Naya tersenyum lebar. "Seperti anak kecil aja," katanya. Meski begitu, Naya menautkan jari kelingkingnya juga.
Akio berdiri dan mencium pucuk kepala Naya, pada saat bersamaan, Kei datang dengan menggendong cucunya.
__ADS_1
"Au ....aduh-aduh, tontonan gratis nih," selorohnya.
Akio dan Naya terkejut, lekas-lekas Akio menjauhi Naya. "Mommy ...," panggilnya.
"Kita masuk di waktu yang kurang tepat, sayang. Mimi dan pipi lagi pacaran!" Kei gencar menggoda. Membuat Akio dan Naya salah tingkah.
Kei mendekat, juga mendekatkan bayi kecil itu pada Naya. "Lihat, Nay. Dari tadi dia tidak mau tidur. Jadi mommy bawa ke sini."
Naya berubah berkaca-kaca, baru ini dia bisa memperhatikan wajah putranya dengan jelas. Garis wajah, alis, hidung semua keturunan Akio, sedangkan bibir dan dahi mirip dengannya. Pangeran kecilnya sangat tampan. Naya merentangkan tangan untuk mengelus pipi putranya.
"Apa aku boleh menggendongnya, Mom?" tanya Naya.
"Bagaimana dengan luka caesar mu, masih terasa sakit atau tidak. Kalau tidak, tidak pa-pa kamu menggendongnya. Dan coba di lihat, apa air su** mu bisa keluar? Kalau keluar, kamu bisa menyusuinya," kata Kei.
"Io, kamu tinggikan ranjang Naya, biar dia tidak perlu bangun," titah Kei. Akio melakukan yang diperintahkan.
Kini posisi Naya sudah setengah duduk. Perlahan Kei memberikan makhluk kecil itu di atas pangkuan Naya.
"Bagaimana, Mom. Naya takut?" ucap Naya. Ini pertama baginya menggendong seorang bayi. Ada perasaan takut, bila tangannya tak sengaja bergerak terlalu kasar atau pun kurang kencang memegangi puteranya dan bisa saja bayi itu jatuh menggelinding.
Kei menertawai gerakan Naya yang begitu kaku, ternyata bukan hanya Akio yang harus banyak belajar untuk mengasuh bayi, bahkan Naya pun belum punya pengalaman.
Bayi kecil itu tampak nyaman dalam dekapan Naya. Tanpa di timang, dia sudah terlelap dengan sendirinya. Naya tak henti mengusap-usap dahi putranya dengan sangat pelan, itu yang sering dilakukan ibunya di waktu dia masih kecil dulu.
"Mom, bahagia melihat kalian bisa bersama lagi. Jangan pergi-pergi lagi, Nay. Jadilah kalian keluarga yang bahagia. Jadikan masalah yang sudah terlewati sebagai pelajaran, bahwa setiap pasangan harus mengutamakan saling jujur dan saling terbuka. Jangan di pendam sendiri," ucap Kei memberi nasihat.
"Iya, Mom. Maafin Naya. Naya hanya memikirkan perasaan sendiri, aku terlalu takut dan berpikir tidak pantas untuk Akio. Jadi karena itu perasaanku sendiri kurang nyaman," ucap Naya.
__ADS_1