
Ken sudah keluar lebih dulu, dibiarkan Kei membersihkan diri. Menuju ruang ganti dan mengambil baju santai. Setelah itu pergi kekamar maminya untuk membicarakan rencana mami yang ingin berkunjung ke Tokyo menemui Ray. Berjalan kepintu dan membuka.
Ceklek....
"Lee...!" Ken kaget melihat sekretaris Lee, tertidur dikursi depan pintu kamarnya.
"Tu-tuan..." Lee terbangun mendengar suara tuan mudanya.
"Kenapa kau tidur disini?" menautkan alis merasa aneh.
"Saya hanya berjaga didepan kamar anda, tuan muda."
"Kau ini ada-ada saja Lee, apa yang kau jaga?"
"Saya menjaga kedamai-an anda dan juga nona Kei." Ken tersenyum tipis, sekretarisnya perduli.
"Aku sudah tenang Lee, jika lelah, pulanglah.. Aku sudah baik-baik saja."
"Baik tuan muda, semoga selalu baik-baik saja. Saya permisi, tuan muda." Lee membungkuk sebentar. Ken mengangguk dan berlalu. Didepan kamar Tante Lyra Ken mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban ketika dibuka kamar maminya kosong. Beralih turun kebawah.
"Ada apa tuan muda?" kepala pelayan bertanya, melihat Ken seperti mencari sesuatu.
"Dimana mami?"
"Sepertinya Nyonya besar belum pulang tuan," tidak lagi bertanya, Ken berjalan menuju ruang tengah dan duduk disana, menyalakan TV bersantai sejenak. Kei ikut menyusul kebawah dan mendapati suaminya sedang fokus melihat kelayar Televisi. Kei duduk disamping Ken.
"Mami kemana?" Kei bertanya. Ken hanya mengangkat bahu. Ken menarik Kei kedalam pelukannya.
"Tuan apa tidak bosan memelukku?"
"Hei, kenapa seperti itu! aku tidak bosan. Apa kau bosan?" bertanya, terus menatap.
"Aku hanya bertanya tuan, jangan langsung berasumsi seperti itu."
"Itu bukan pertanyaan, tapi sindiran." Kei sudah tidak meladeni, biarkan saja tuan Ken memeluknya sesuka hati. Kepala pelayan datang membawa minuman dan cemilan, menaruh diatas meja. Melirik sinis, seperti tidak suka dengan kemesraan mereka berdua. Tentu saja, kepala pelayan bernama Ita itu tidak pernah menyukai Kei sedari menginjakkan kaki dirumah itu hingga saat ini kebenciannya semakin bertambah. Kei sendiri bingung dengan sikap Ita yang tidak menyukainya, padahal tidak pernah berbuat salah. Lalu hal apa yang mendasari Ita membencinya. Kei tidak pernah melaporkan perbuatan buruk Ita, dibiarkan saja yang terpenting tidak lagi mengusiknya.
Awal kedatangannya tadi sempat terkejut karna tuan Ken memeluk Kei, bagaimana mungkin tuan Ken sudah begitu akrab dengan Kei? padahal dulunya sangat membenci wanita cacat itu.
Ita berlalu pergi kedapur, kedua tangan menggenggam pinggiran nampan dengan kuat.
"Heh, sedari awal kamu itu memang sudah mengincar tuan Ken. Dasar wanita ular! cara apa yang kamu pakai untuk menaklukan tuan muda? jangan-jangan kau menggunakan guna-guna ilmu hitam, dalam waktu yang singkat tuan muda yang begitu membenci wanita ular sekarang begitu tunduk! itu sangat mustahil. Wanita ular itu mendesak tuan Ken agar membiayai operasi kakinya lalu memikat tuan Ken dengan wajah palsu, huh... dasar licik sekali." Ita berjalan kedapur dan berbicara sendiri tentang asumsi isi kepalanya. Prasangka terhadap Kei selalu buruk tidak pernah baik. Lebih tepatnya dia iri dengan nasib baik yang dialami Kei, hingga pikirannya selalu buruk.
Ketika pagi hari menjelang aktivitas rutin selalu dilakukan, tuan Ken yang semakin susah dikendalikan. Bersikap semaunya sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain.
"Besok lusa, mami berangkat ke Tokyo?" Ken mengangguk, masih memainkan ponsel.
__ADS_1
"Tuan tidak ikut?" Ken menggeleng.
"Kenapa tidak ikut, kasihan mami sendirian." Ken mengangkat bahu. Kei melirik sinis, menghembuskan nafas. 3pertanyaan yang dijawab hanya dengan isyarat. Memanyunkan bibir, menggerutu tanpa suara. Ken melirik dan tersenyum tipis. Menaruh ponsel diatas nakas.
"Canduku harus dikondisikan." ucap Ken. Kei tidak perduli.
"Kenapa?" Ken bertanya, berganti Kei menggeleng. Dia ingin membalas tuan Ken. Ken gemas jika sudah merajuk seperti itu, menarik Kei dalam dekapan.
"Kalau kau masih begitu, aku akan memakanmu lagi." tersenyum.
"Jangan, aku sudah lelah. Lihatlah, baru usai sudah ingin lagi. Kita bisa terlambat ke Kantor."
"Kau ini rajin sekali, aku seorang Bos saja tidak begitu."
"Justru kau seorang Bos, tidak akan ada yang berani memarahimu. Aku, hanya seorang cleaning servis telat 5menit harus tebal telinga. Mendengarkan ocehan panjang." Kei memainkan jari telunjuk didada polos Ken, menggambar dengan pola abstrak.
"Kau ingin aku pindah tidak mau, lalu bagaimana?"
"Ya... tidak bagaimana-bagaimana."
"Sebenarnya aku ingin kau dirumah saja, aku bisa tenang."
"Kenapa?"
"Hei, kau lupa? jika diluaran sana pasti banyak lelaki yang menatapmu." Ken terlihat kesal hanya mengucapkan kalimat itu, apalagi jika mengetahui Kei digoda lelaki seperti kejadian Tristan kemarin. Kei memutar bola mata, bagaimana bisa begitu?.
"Tuan... mereka hanya menatapku, memang kenapa? setiap orang pasti bisa saling menatap, tapi bukan tatapan suka. Tuan tidak sadar, di Kantor para karyawan juga menatap anda, bahkan dengan tatapan kagum." mencebikan mulut.
'Hei, senjata makan tuan kau Kei.' dalam hati kesal. Bukannya membalikkan fakta, malah dituduh cemburu. 'Aku tidak segila anda, tuan.' Rasanya Kei ingin mengucapkan itu dengan keras.
"Tidak, tuan."
"Jadi kau tidak cemburu!" senyum hilang, berganti cemberut.
"Ah, iya-iya. Aku harus sedikit mengaku kalau aku cemburu." terpaksa mengatakan itu. Ken mengecup bibir Kei sekilas.
"Aku tau banyak wanita yang mengagumi ku. Tetapi mereka tidak akan bisa menyentuhku, jika aku tidak menginginkannya."
"Jadi, jika anda menginginkannya anda bisa sesuka hati, begitu!" Kei menggeser duduknya. Tangannya mencengkram selimut yang menutupi tubuh.
"Hahahha...."
"Tertawa saja tuan sampai tersedak."
"Uhuk...uhuk..." Ken terbatuk. Kei mendekat dan menepuk dadanya pelan.
"Kau mendo'akanku yang jelek."
__ADS_1
"Aku tadi hanya asal saja."
"Tapi aku tersedak sungguhan." 'Ya, itu karma anda, salah siapa menertawai ku.'
"Saat cemburu kau menggelikan."
'Tapi anda menjengkelkan.'
Tok...Tok...
"Siapa itu?" Kei bertanya.
"Siapa lagi, pasti Lee."
"Ah... iya. Gara-gara anda, kita jadi lupa untuk bersiap-siap. Huh..." Kei menggerutu, sudah kalang kabut memunguti pakaian dan berlalu kekamar mandi.
"Hahhaha..." lagi-lagi tertawa lebar menyaksikan istrinya yang terlihat konyol. Dari luar, suara tawa itu masih bisa didengar. Lee menautkan alis, dipikir ada apa tuan muda dipagi hari sudah tertawa seperti itu.
Beberapa saat sudah selesai bersiap, Ken dan Kei keluar bersamaan.
Sekretaris Lee sudah menyambut didepan pintu.
"Selamat pagi, tuan muda, nona Kei?"
"Pagi Lee. Kau lebih awal 5menit."
"Pagi juga sekretaris Lee."
Mereka bertiga menuruni anak tangga dan menuju kemeja makan.
"Pagi mami." Ken dan Kei berbarengan menyapa Tante Lyra.
"Pagi, sayang." semua duduk dikursi masing-masing.
"Mami sudah bersiap."
"Sudah Ken, berapa hari mami disana?"
"Ken sudah mengatur jadwal satu minggu."
"Hem, baiklah. Mami pasti merindukan kalian."
"Bukankah mami merindukan, Ray."
"Tentu."
"Andai Kei bisa ikut mami, mami bisa punya teman."
__ADS_1
"Ken, tidak mengizinkan. Ken tidak bisa ikut, Kei juga tidak bisa ikut." Tante Lyra tersenyum. 'Apa benih-benih cinta sudah tumbuh diantara kalian?'