Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kio lebih diam


__ADS_3

Kedua babysister Kyura menunggu didepan pintu, kala mobil yang dikendarai sekretaris Lee berhenti tepat didepan halaman rumah Ken, kedua babysister itu segera mendekat dan membantu.


Satu mengambil alih Kyura dari gendongan mami Lyra dan satu lagi membantu Kei untuk berpindah ke kursi roda yang sudah disiapkan oleh Lee.


Mami Lyra beralih menggandeng Kio dan mengajaknya turun.


Mereka mengantar Kei langsung ke kamarnya.


Jarum cairan infus telah dilepas dari pergelangan tangan Kei. Dokter memberi syarat Kei harus meminum obat dan vitamin secara teratur. Tidak lupa memakan makanan bergizi agar tubuhnya kembali bertenaga.


Mami Lyra menuntun Kei untuk tiduran diatas pembaringan. Kio segera mengikuti dan duduk ditengah-tengah pembaringan.


Baby Kyura sejak dirumah sakit mulai rewel karna kekurangan asupan. Akhirnya Dokter menyarankan agar baby Kyura disambung dengan susu formula. Mau bagaimana lagi, kondisi Kei masih sangat lemah, membutuhkan waktu untuk istirahat.


Belum sampai mami Lyra mengucap kata sudah terdengar deringan ponsel dari dalam tas miliknya.


Tangannya segera merogoh isi tas dan mengambil benda pipih itu untuk segera menjawab telpon.


Dahi mami Lyra mengerut ketika membaca nama si pemanggil. "Ken?!" ucapnya. Segera menggeser layar touchscreen yang bergambar hijau.


"Hallo, Ken?" mami Lyra menjawab telpon lalu mengaktifkan pengeras suar.


"Mami dimana?" tanya Ken dari seberang telepon.


"Mami pulang ke rumah sebentar." jawab mami Lyra.


"Apa Mami bersama Lee?"


"Iya, Mami bersama Lee."


"Suruh dia juga cepat kemari. Segera!" suara terakhir terdengar tegas, setelah itu sambungan telpon terputus.


Mereka bertiga saling pandang namun dengan tatapan yang sulit diartikan dan ada tanda tanya.


"Ya sudah Mami kembali ke rumah sakit saja. Ken membutuhkan kalian." Kei menyuruh mami Lyra dan Lee kembali ke rumah sakit, dia berpikir suaminya lebih membutuhkan mereka. Mengingat kondisi Ken juga baru sadar dari koma, pasti membutuhkan pendamping untuk mengurus keperluannya.


Tapi sungguh disayangkan, harusnya dirinya lah yang mengurus semua kebutuhan Ken. Tapi apa daya, Ken tidak ingat dia siapa dan malah membencinya.

__ADS_1


"Tapi kamu bagaimana?" bingung mami Lyra.


"Kei baik-baik saja, Mi. Mami jangan khawatir, ada Mbak yang jaga Kei dan anak-anak. Saat ini suamiku lebih membutuhkan kalian, aku tidak bisa membantu mengurusnya." sedih Kei dengan mata berkaca-kaca.


Mami Lyra kembali menubruk tubuh Kei dan memeluknya hangat untuk memberi ketenangan. Mengusap punggung Kei yang bergetar menangis.


Kei sudah tidak bisa menahan, rasa sakit itu kembali hadir mampu mengoyakkan hatinya.


"Sssttt... sabar ya, Sayang. Ingat pesan Dokter, jangan banyak pikiran dan hindari stres. Ingat juga dengan Kyura, jika kamu bersedih maka Kyura tidak akan tenang. Nanti menambah beban pikiranmu." mami Lyra melonggarkan pelukan, mengusap pipi Kei yang basah.


"Yakinlah, suamimu pasti akan kembali ingat dengan kalian. Sebelumnya Ken sangat mencintaimu dan menyayangi anak-anak, pasti perlahan-lahan ingatannya akan pulih. Bersabar, semua butuh proses untuk penyembuhan. Kami akan mencari dokter terbaik membantu menyembuhkan ingatan Ken." berharap perkataannya mampu menenangkan Kei.


"Iya Mi, semoga ingatan suamiku bisa kembali. Bukan hanya aku yang bersedih, Kio dan Kyura lebih bersedih. Mereka merindukan Daddy nya." Kei menyusut airmatanya.


"Io Sayang, Oma kembali ke rumah sakit lagi, ya. Mudah-mudahan Daddy Ken cepat sembuh dan mau peluk Io lagi." mami Lyra mengulurkan tangan untuk mengusap pipi Kio.


Kio mengangguk, "Kalau Daddy sudah sembuh dan mau peluk Io, Oma cepet telpon Io ya." pesan Kio.


"Pasti Sayang, Oma bakal cepat hubungi Io. Io jangan sedih terus ya, Oma akan cari dokter hebat buat sembuhin Daddy Ken."


"Anak pintar," puji mami Lyra.


"Maaf Nona, istri saya sedang menuju kemari, apa anda keberatan jika Dewi dan Zee datang?" suara Lee menyela perbincangan mami Lyra dan Kio.


Mata Kei beralih menatap Lee, "Sama sekali tidak keberatan. Aku senang Mbak Dewi kemari." jawab Kei.


"Wah... Zee mau kemari. Io ada temennya ya, udah nggak sedih lagi dong." hibur mami Lyra. Tapi Kio hanya diam saja.


"Mami ke rumah sakit lagi ya, Kei. Jaga anak-anak. Nanti kalau Ken memberi izin, Mami bakal sering pulang. Kamu pasti tau sikap Ken dulu seperti apa, mudah marah. Kalau dia marah, rumah sakit bisa kacau." kata mami Lyra.


"Iya Mi. Mami hati-hati." ucap Kei.


"Kalau ada apa-apa, tolong hubungi Kei ya Mi." pesan Kei.


"Pasti, Sayang." mami Lyra beranjak pergi meninggalkan kamar Kei yang diikuti sekretaris Lee dibelakangnya.


"Saya permisi, Nona." pamit Lee.

__ADS_1


Kei mengangguk. "Hati-hati dan jangan lupa kabari aku tentang perkembangan suamiku." tidak puas memberi pesan pada mami Lyra, Kei juga berpesan pada Lee.


"Baik Nona."


Mami Lyra dan Lee sudah menghilang dibalik pintu.


Terlihat Kio merebahkan tubuhnya. "Io mau tidur Mom." kata Kio yang menyadari mommy nya memperhatikan ke arahnya.


"Sekarang belum waktunya tidur siang, Io udah mau tidur?" heran Kei. Padahal hari biasa Kio sangat susah ketika disuruh tidur, harus video call dengan Daddy nya. Ketika Ken menyuruh Kio tidur, baru lah bocah itu menurut.


"Nggak pa-pa Mom, Io pengen tidur sekarang." ucap Kio tanpa banyak penjelasan.


Kei menghadap Kio, tapi bocah itu malah memunggunginya. Kei tidak memaksa Kio, yang terpenting Kio bisa nyaman. Tangan Kei menepuk-nepuk pan*** Kio seperti yang sering dilakukan setiap harinya. Tapi semenjak Kyura lahir, tugas itu lebih banyak dilakukan oleh Ken.


Kei merasa aneh, Kio lebih diam tidak seperti hari lalu yang manja dan keras kepala. Kei membatin, mudah-mudahan Kio tidak kenapa-kenapa.


Menemani Kio, Kei juga ikut tertidur. Kurang lebih satu jam memejamkan mata, Kei mulai bangun karna perutnya terasa lapar.


Ketika hendak bangun pandangannya berkunang-kunang, Kei menyandarkan tubuh disandaran ranjang. Akhirnya memanggil pelayan lewat tombol yang terhubung ke dapur.


Menunggu beberapa saat dan pelayan sudah datang. "Apa Mbak Dewi sudah datang?" tanya Kei dengan suara pelan karna takut mengganggu tidur putranya.


"Belum Nona, belum ada yang datang." jawab pelayan dengan suara tak kalah lirih.


"Aku lapar, tolong Mbak bawain makanan, ya. Kepalaku masih terasa pusing," kata Kei.


"Baik Nona, anda ingin dibuatkan apa?"


"Bubur ayam suir saja, sepertinya enak." pinta Kei.


"Apa ada yang lain lagi, yang Nona inginkan."


"Tidak ada, Mbak. Itu saja, terima kasih, ya." ucap Kei.


"Iya Nona, tidak perlu mengucapkan terima kasih, itu sudah tugas saya." kata pelayan itu.


Sudah menjadi kebiasaan, ketika Kei meminta bantuan pada pelayan, ia akan mengucap kata terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2