
Rasanya baru saja terpejam, namun tidur Akio terganggu dengan suara berisik yang ditimbulkan Naya. Dengan menahan kantuk dan wajah lelah, Akio bangun, duduk di tepi ranjang untuk sekadar mengumpulkan nyawa.
"Hoek-hoek ...." Suara muntahan Naya terdengar sampai keluar kamar mandi, Akio bangkit dan mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Tok ... tok ...!!!
"Nay?" Beberapa saat masih tak terdengar sahutan, hanya suara air yang terdengar bising.
Akio ingin pergi, tetapi pintu kamar mandi sudah terbuka.
"Maaf menganggu tidurmu," ucap Naya.
"Kamu nggak pa-pa?" Akio lebih khawatir dengan wajah Naya yang terlihat pucat. Padahal sewaktu ijab kabul kemarin terlihat segar dan cantik natural.
Naya menggeleng lemah. "Aku nggak pa-pa." Perempuan itu meraba dinding untuk dijadikan tumpuan. Kepalanya berdenyut sejak tadi bangun tidur.
Tiba-tiba Akio meraih tangan Naya dan langsung memapah tubuhnya. "Kamu bilang nggak pa-pa tapi lemas begini. Sebaiknya kita ke rumah sakit," ucap Akio khawatir. Sesudah membantu Naya berbaring di atas tempat tidur, pria itu berbalik lagi ke kamar mandi untuk mencuci wajah.
Tak lama Akio sudah keluar dan segera membongkar tas untuk mengambil baju ganti. Gerakan itu disaksikan Naya.
"Aku nggak mau ke rumah sakit."
"Kenapa nggak mau?! Kamu muntah-muntah dan lemas, aku nggak mau kamu juga anak kita kenapa-napa. Kalau ke rumah sakit, ada dokter yang segera menangani kamu."
Naya menoleh saat Akio melepas kaos di hadapannya. Meski sudah menjadi suami istri, tapi Naya merasa malu sendiri.
"Ini udah biasa. Nanti baikan sendiri."
Mata Akio membeliak. "Sudah biasa? Apa setiap hari kamu muntah-muntah dan lemas?"
Terang saja Akio tidak tahu, selama 3 minggu ini dia disibukkan dengan usahanya meminta maaf pada Zee, meski tidak berhasil. Bahkan menjelang ijab kabul, pria itu masih gencar mengirim pesan berisi permintaan maaf.
Namun semua usahanya sia-sia. Sejak Zee mengetahui perbuatannya, dan bertengkar di rumah sakit, itulah terakhir kali dia bisa bertemu dan bertatap muka dengan gadis yang dikecewakan. Sampai Zee angkat kaki dari tanah kelahirannya, Akio tak ada kesempatan menemui gadis itu.
Ken yang mengetahui rencana Zee turut merahasiakan kepergian itu, semata karena permintaan Zee sendiri.
Nomor Zee memang masih aktif sewaktu ijab kabul Akio bersama Naya belum terucap, namun setelahnya, nomor itu sudah tidak aktif lagi.
Kembali dengan keadaan Naya.
Selesai mengganti baju, Akio mendekati Naya. "Pakai baju yang mana? Biar aku ambilkan."
__ADS_1
"Aku nggak mau ke rumah sakit," kekeuh Naya.
"Aku tidak mau menanggung resiko. Sekarang juga kita ke rumah sakit." Akio juga kekeuh dengan keinginannya. Seolah tidak ingin dibantah. Pria itu berjalan menuju lemari kayu yang sudah usang, membukanya dan kikuk melihat isi lemari Naya yang hanya beberapa baju dan juga ... onderdil perempuan. Yang dirasakan, risih.
Dengan sisa tenaga yang ada, Naya bangkit dan menutup lemari dengan gerakan cepat.
"Aku bilang nggak usah," sungutnya.
"Kamu lemas tapi masih kuat ngambek," ujar Akio menyipitkan mata.
"Jangankan ngambek, dorong badan kamu juga aku masih punya tenaga. Udah biar aja, nanti aku baik sendiri. Kata dokter, ini namanya ngidam. Hampir setiap ibu hamil ngalamin yang aku alami ini," terang Naya. Dia menyandarkan tubuhnya pada lemari.
"Apa separah ini keadaanya?" Akio belum puas dengan keterangan Naya. Kekhawatirannya belum menghilang.
"Ini nggak parah. Kamu tahu sendiri waktu di rumah sakit, aku bahkan nggak boleh bergerak. Bahkan tidur miring juga nggak boleh. Makanya aku nggak mau ke rumah sakit, pasti banyak aturan."
"Tapi aturan itu baik untuk kondisimu."
Naya menghela napas panjang. Benar-benar baru tahu sikap Akio yang sebenarnya. Ternyata dia pendiam dan dingin hanya di luaran saja, sedangkan sikap aslinya terlalu rempong. Mudah panik, banyak bicara dan tidak mudah percaya, pun tidak gampang dibantah. Huft ....
Tok ... tok ...!
"Sudah, Bu," jawab Naya. Saat dia akan membuka pintu, Akio menjaganya di belakang, seolah memasang badan bila sewaktu-waktu dia jatuh pingsan. Hadeh ....
"Kamu duduk aja, biar aku yang buka pintu," kata Akio akhirnya.
Tak mau beradu kata lagi, Naya memilih menurut karena badannya masih terasa lemas.
"Nak, di depan ada orang tuamu," ucap ibu Naya memberitahu.
"Dad dan mom ada di depan? Sepagi ini?" Akio terkejut, dia memperkirakan saat ini baru jam 6 pagi, untuk apa kedua orang tuanya sudah datang.
Akio beralih pada Naya. "Aku temuin dad dan mom dulu. Kamu di sini aja."
Naya hanya mengangguk.
Setelah Akio pergi, dia meminta bantuan pada ibunya untuk membuatkan minuman hangat yang dicampur dengan madu.
"Dad, Mom?" panggil Akio. Dia menghampiri Ken dan Kei, lalu mencium tangannya bergantian.
"Sepagi ini Mom dan Dad sudah kemari. Ada apa?"
__ADS_1
"Kok ada apa? Mom kepikiran dengan kamu," jawab Kei.
"Io baik-baik saja, Mom."
"Mommy semalaman tidak tidur karena kepikiran kamu." Ken ikut bersuara.
"Sayang, di mana Naya?" tanya Kei mengalihkan pembicaraan.
"Itulah Mom, Naya tadi muntah-muntah dan sekarang lagi tiduran karena badannya lemas. Apa itu namanya ngidam? Akio mau bawa dia ke rumah sakit tapi dia nggak mau," adu Akio.
"Kebanyakan ibu ngidam memang begitu, tapi kalau kondisinya bertambah parah, harus dibawa ke rumah sakit. Dulu waktu mommy kamu ngidam, hampir satu bulan sekali dia ke rumah sakit," sahut Ken.
"Aku mau bawa dia, Dad, tapi Naya kekeuh nggak mau."
"Io, apa kamu sudah coba bicara sama istrimu, bujuk Naya buat tinggal dengan kita, biar Mom bisa ikut jagain mantu mom," ujar Kei.
Akio membuang napas panjang. Baru tadi malam dia dan Naya membicarakan perbedaan mereka, pasti Naya tidak mau diajak tinggal di rumahnya.
"Io belum bicara, Mom. Tapi sepertinya butuh waktu."
"Terus sampai kapan kamu tinggal di sini?" tanya Ken.
"Akio nggak tahu, Dad. Io cuma memikirkan kenyamanan Naya."
"Apa maksudmu? Apa Naya tidak nyaman kalau tinggal di rumah kita?"
Akio menggaruk kepala belakang, bingung akan menjelaskan.
"Sebisa mungkin dibujuk, Nak. Mom senang sekali kalau kamu dan Naya mau tinggal sama Mom." Kei berkata sebelum dia masuk ke kamar Naya.
"Nanti Io coba bicara lagi dengan Naya," jawab Akio.
"Io, kapan kau siap masuk kantor?"
"Ke kantor, Dad?"
"Dad rasa kau harus mulai belajar untuk terjun langsung ke kantor."
"Apa nggak nunggu Naya melahirkan saja. Biar sementara Io mengurus cafe dulu."
"Menunggu istrimu melahirkan? Yang benar saja?! Itu terlalu lama."
__ADS_1