
'Dasar tuan muda arogan, bertemu begini sudah seperti majikan dan pembantu. Jika cuma berdua sudah nyosor duluan!' Kei kesal melihat Ken pergi begitu saja tanpa melihatnya sedikitpun, tak sadar dia menunjukan kekesalannya dengan menghentakkan tongkatnya. Mendengus sebal dengan berlalu kedalam toilet.
Sekretaris Lee membukakan pintu untuk tuan mudanya, setelah Ken sudah masuk Lee juga ikut masuk.
"Lee kamu lihat reaksi Kei tadi? itu sangat lucu...haha..." Ken tertawa.
'Jadi tuan muda tadi hanya ingin melihat sikap Kei? terserah anda tuan muda, tapi entah nanti malam anda mendapat jatah atau tidak.' Lee tersenyum dengan pemikirannya.
"Akhir-akhir ini kamu aneh Lee, kamu suka berasumsi tentangku?" suara Ken menyadarkan Lee.
"Tidak tuan muda, saya tidak berani se lancang itu." Lee melajukan mobil ke Hotel tempat pertemuan.
"Pengecut itu sudah pulang Lee?"
"Saya mendapat kabar memang sudah pulang tuan muda."
"Ah, aku malas bertemu. Kamu bisa membatalkan kerjasama."
"Maaf tuan muda, kita tidak bisa membatalkan. Anda akan membayar denda yang lumayan, seperti sebelumnya kita sudah menandatangani berkas kontrak dan semua syarat ketentuan kita sudah mengetahui. Proyek sudah dimulai kita tidak bisa mundur."
"Sial, kenapa kamu bisa ceroboh seperti ini! tidak mengetahui pemilik hotel itu siapa."
"Maafkan saya Tuan muda, selama mengajukan kerjasama hanya mengirim orang kepercayaan nya saja."
'Minta maaf saja, jika ingin aman Lee.' sudah takut melihat wajah tuan mudanya lewat kaca spion.
Mobil sudah sampai dihalaman hotel beberapa orang penting sudah menyambut, Ken masuk kedalam bersama orang-orang.
Wajahnya berubah masam ketika melihat lelaki yang duduk santai disofa dengan suguhan wine diatas meja, 2perempuan duduk disampingnya siap melayani yang diinginkan.
"Wow, selamat datang brother." menyapa dengan senyum ramah.
"Kita tidak sedekat itu." Ken melirik sinis dan duduk dihadapan. Lelaki itu menuangkan botol wine kedalam gelas.
"Mari bersenang-senang."
"Aku tidak punya waktu untuk itu! kita bertemu untuk urusan kerjasama."
"Hei... santai kawan." Lelaki itu tersenyum memberi kode wanita disampingnya untuk melayani Ken. Dua wanita itu menurut.
"Singkirkan j*l*ngmu!!" Ken sudah terlihat marah.
"Tuan Tristan, jangan memperkeruh keadaan. Kita lakukan tujuan awal." Lee memberi peringatan kepada lelaki itu bernama Tristan.
"Well well well, kau semakin dingin Ken, setelah kehilangan..."
Brak.....
"Jangan menguji kesabaran ku Tristan! kau tau apa yang bisa aku lakukan!" Ken menatap nyalang.
Tristan tersenyum meremehkan.
__ADS_1
"Aku tau! dan aku sangat tau! kau berhasil memilikinya tetapi kau juga berhasil melenyapkannya, Ken. Baj*Ng*n!!"
"Jaga ucapan anda!" Lee sudah mencengkram jas mahal yang dikenakan Tristan.
"Kau punya penjilat yang setia,"
"Penyambutan yang baik, aku akan membatalkan kerja sama. Perusahaan ku tidak akan bangkrut membayar denda receh itu!" Ken berdiri berjalan kearah pintu.
"Kau memang sanggup membayar, tapi jangan lupakan isi kontrak tentang hukuman jika salah satu ada yang membatalkan." perkataan Tristan menghentikan langkah Ken, dia berbalik. Sekretaris Lee masih diposisi yang sama.
"Undur saja jadwalnya, jika pertemuan selanjutnya masih sama. Aku tidak akan tinggal diam, Tan!"
Tristan tidak menjawab, senyum tipis merendahkan. Ken tidak memperdulikan itu keluar dan membanting pintu dengan keras.
"Kau tidak ikut pulang, penjilat? ingin bersenang-senang denganku."
Lee menghela nafas dan melepas cengkraman dengan kasar. Tak ingin meladeni, keluar menyusul tuan mudanya.
"Aku melenyapkannya Lee?"
"Tidak tuan muda, anda tidak melakukan itu." sudah didalam mobil.
"Tapi semua orang mengatakan itu! bahkan baj*ng*n yang tidak tau apa-apa itu mengatakan aku melenyapkannya."
"Itu sudah menjadi garis takdir Nona Olive, itu bukan kesalahan anda."
"Kau hanya menghiburku, Lee." Lee melirik lewat kaca spion. Tuan Ken mendesah berat menjatuhkan kepalanya dikursi belakang, mata terpejam menunjukan kesedihan.
Keluar dari lift berjalan menuju keruangan nya Kei sedang berjalan berlawan arah dengan mbak Dewi, mereka baru selesai membersihkan ruangan tuan Ken.
Berjalan cepat dan mengandeng tangan Kei untuk dibawa ke ruangannya. Mbak Dewi yang tidak tau apa-apa terkejut dan melongo, semua pertanyaan bermunculan.
"Tuan muda sedang ada suatu urusan dengan teman kamu!" Lee mendekat dan menatap tajam.
'Aduh ngeri sekali orang ini, kedua bola matanya seperti ingin keluar. Hih...'
"Wanita aneh, kamu ingin belajar menjadi patung!"
"Jika dibayar saya mau tuan. Ups... maaf." mbak Dewi reflek menjawab tanpa berpikir.
"Belajarlah menjadi patung ditugu Ancol."
"Bersama anda tuan?" mbak Dewi menutup mulutnya yang susah dikontrol.
'Wanita ini, kurang ajar sekali!!' Lee mengepalkan kedua tangannya, bukti dia mulai emosi.
"Maaf tuan, maaf. Saya akan kembali bekerja. Permisi, semoga hari anda baik." Lee tidak meladeni dan berlalu menuju ke ruangannya.
Satu jam lebih Ken menyalurkan hasratnya, keduanya masih mengatur nafas. Kei menelisik.
"Ada apa?" Ken bertanya.
__ADS_1
"Harusnya aku yang bertanya, tuan. Ada apa?"
"Tidak, aku hanya lelah menghadiri pertemuan." Ken berlalu kekamar mandi, kabut hitam yang mengelilingi sudah hilang.
'Dasar aneh, bilang lelah tapi menyerang ku seperti orang kelaparan! aku bukan anak kecil yang bisa kau bohongi tuan bengis!' Kei meremas selimut yang menutupi tubuhnya.
Beberapa lama Ken sudah segar dengan rambut yang meneteskan air.
"Kamu tidak mau mandi."
"Iya iya..." Kei tampak kesulitan memegangi selimut dia harus berjalan dengan tongkat. Ken langsung menggendongnya kekamar mandi.
"Yah... tuan, turunkan aku!!"
"Aku hanya membantumu."
'Kau tidak membantuku, tapi menyulitkan ku.' Kei mendengus.
"Kamu berpikir aneh?" satu alis Ken terangkat.
"Tidak, aku tidak berpikir aneh." Kei menyembunyikan wajahnya.
"Hahaha... kau sangat lucu." Ken tertawa. Mood sudah kembali.
'Terserah kau saja, aku sangat lucu dan kau sangat aneh.' Kei hanya berani mengatakan dalam hati. Ken menurunkan Kei disamping bathtub.
"Kamu ingin mandi sendiri atau ingin aku mandikan?" tersenyum licik.
"Aku mandi sendiri." Kei menjawab secepat kilat.
"Tidak merasa kesusahan?" Kei memutar bola mata.
"Tuan, sadarlah. Ini di kantor bukan dirumah bahkan ini masih jam kantor, keluar dari sini aku tidak yakin bisa selamat."
"Apa maksudmu!" Ken heran.
"Kita sudah sangat lama disini, teman-temanku pasti mencariku."
"Baiklah, bersihkan dirimu." Ken berlalu keluar.
'Dasar bos aneh! kau hanya memikirkan hasratmu saja, tidak memikirkan keselamatan ku! huh...'
Setelah membersihkan diri Kei keluar dengan pakaian rapi, dia ingin segera berlalu dari ruangan itu.
"Kau tidak ingin memberi ciuman perpisahan."
Kei mendekat dan mencium pipi Ken.
"Sudah jangan mencegahku lagi." Kei yang sedikit kesal berlalu keluar.
"Hahaha...." lagi Ken tertawa lebar.
__ADS_1