Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kembalinya sebuah hubungan


__ADS_3

Sudut mata Ken melirik kearah Herlambang. Lelaki tua itu menundukkan pandangan. Keduanya belum ada yang mengawali untuk berbicara.


Terdengar Kei yang sedang bersenandung untuk Kio, bocah itu terlelap dengan nyaman disamping Mommy nya.


Mami Lyra beralih tidur disamping ranjang kosong yang khusus disediakan dikamar rawat itu.


"Pak,"


"Ken."


Herlambang dan Ken bersamaan memanggil. Keduanya terserang rasa gugup.


"Bagaimana Anda menemukan putra Saya?" tanya Ken. Ia memberanikan diri memulai percakapan dan mengusir rasa canggung.


"Putramu duduk sendirian dipinggir jalan, Aku menghampiri dan menawarkan untuk menghantarkan pulang tapi putramu tidak mau. Dia memintaku untuk membawanya pulang kerumah ku. Jadi aku membawanya pulang. Sebenarnya aku ingin menghubungimu tapi daya ponsel habis sampai aku lupa. Tadi Kio sudah tertidur tapi dia menangis mencari Mommy nya." Herlambang bercerita panjang lebar. Ken mendengarkan dengan seksama.


"Putramu sangat lucu, dia sudah pandai bercerita. Meski dia bilang membenci kau dan istrimu tapi ketika dia tertidur dia teringat padamu, lalu mencari keberadaan mu." saat bercerita ada kesedihan yang dirasakan oleh Herlambang.


"Anda benar, putraku memang pandai. Dia juga anak yang pintar," nada bicara Ken terdengar datar, ia tak lagi segan pada Herlambang bahkan terlihat acuh.


Herlambang menatap kearah Ken. Sorot mata yang merindu namun ia malu untuk mengakui perasaannya. Malu untuk mengucap maaf. Bahkan baru sadar jika kesalahannya sudah terlambat untuk diperbaiki.


"Pak Herlambang, terima kasih sudah menolong putraku. Aku akan membalas budi kebaikan Anda." nada bicara Ken seperti berbicara pada orang lain. Meski yang ada dihadapannya itu adalah mantan mertua yang sekaligus dianggapnya sebagai ayah sendiri tapi tidak untuk saat ini. Semua sudah berubah sejak pertemuannya terakhir di pesta pernikahan Tristan. Saat itu Herlambang sendiri yang menolak dipanggil dengan sebutan Papa.


Ken hanya menuruti.


Herlambang terdiam. Mendengar Ken berbicara dengan bahasa formal membuat perasaanya miris. Itu memang kesalahan dirinya. Kini hanya menerutuki kebodohannya.


"Kenapa harus memanggilku anda, apa kau sudah tidak mau memanggilku Papa?" ucap Herlambang lirih.

__ADS_1


"Bukankah itu kemauan Anda? kau sendiri yang menolak mentah-mentah saat aku menyebutmu dengan sebutan Papa." sebenarnya Ken tidak tega mengucap kata kasar tapi sebelumnya Herlambang lah yang memintanya.


"Ken, Aku tau kau membenciku karna ulahku sendiri. Aku yang mengibarkan bendera permusuhan, aku yang selalu menuduh mu melenyapkan Olive. Bahkan setelah tau fakta yang sebenarnya aku tetap menyalahkan mu. Saat ini aku ingin meminta maaf, untuk semua kesalahan ku. Meski kesalahan itu terlalu besar dan tidak bisa dimaafkan tapi aku tenang jika mengatakan maaf itu secara langsung. Umurku sudah tua, mungkin sebentar lagi akan menyusul Olive. Aku takut disaat menutup mata tapi masih ada kesalahpahaman yang belum terselesaikan." Herlambang menatap Ken dengan serius. Bahkan ucapannya terdengar tulus. Meski harus menjilat ludah tapi Herlambang tidak menyesal, demi kedamaian dihari-hati tuanya ia mengalahkan ego dan rasa malu. Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk meminta maaf.


Kini berganti Ken yang terdiam, seolah pendengarannya tak percaya mendengar ucapan per mintamaafan langsung dari Herlambang. Mantan mertua yang dulu membencinya.


"Ken tidak pernah membenci Papa, bahkan Ken masih sama seperti dulu. Selalu merindukan pelukan hangat darimu. Tapi semenjak kesalahpahaman itu, Papa yang membenciku. Aku sudah berusaha menjelaskan tapi Papa tidak percaya dan terus menuduhku. Apa yang bisa kulakukan selain menuruti keinginan Papa untuk tidak lagi menyebut dengan panggilan itu."


"Maafkan Papa mu ini Ken, kesalahan Papa sangat besar, apakah kau masih mau memaafkan pria tua ini?" kata Herlambang dengan sedih.


"Ken selalu memaafkan Papa. Semua hanya kesalahpahaman. Ken tetap menganggap Papa sebagai Papa Ken menggantikan almarhum Papi Hiro."


Mendengar kata-kata Ken kini senyum dibibir Herlambang langsung terbit. Lelaki itu itu memeluk tubuh Ken. Dengan senang hati Ken menyambut pelukan itu.


Pelukan itu kembali setelah bertahun-tahun mengibarkan bendera permusuhan. Pelukan yang sangat dirindukan oleh raja bisnis, Kendra Kenichi.


Tak bisa dipungkiri, harinya merasa bahagia. Setelah bertahun-tahun Ken mengawasi dari jauh, kini bisa melepas rindu dengan Herlambang.


Terdengar pintu diketuk, setelah itu Lee masuk kedalam. Sedikit terkejut menyaksikan dua kubu yang tidak akur bisa saling berpelukan. Ada apa gerangan?


"Tuan muda," Lee membungkuk sebentar. Melihat kearah Ken dan Herlambang bergantian.


"Bolehkah Saya pulang?" tanyanya.


"Hem.. pulanglah Lee. Hari ini pasti melelahkan." Ken memberi izin.


"Terima kasih, Tuan. Kalau begitu Saya permisi."


"Tunggu," cegah Ken. Lee yang tadi akan pergi mengurungkan niat, ia kembali menatap tuan mudanya.

__ADS_1


"Papa akan menginap disini atau pulang?" Ken bertanya pada Herlambang.


"Papa pulang saja, besok Papa kesini lagi untuk menjenguk istri kamu dan juga Kio." Jawab Herlambang.


'Papa? kenapa tuan muda memanggil dengan sebutan papa? apa kesalahan pahaman itu sudah terselesaikan? tapi syukurlah kalau memang keduanya sudah berdamai. Pasti tuan muda sangat bahagia.' batin Lee.


"Biar sekalian bareng dengan Lee. Sudah tengah malam, jalanan sudah sepi. Akan aman kalau Papa pulang bersama Lee." perintah Ken.


"Tidak perlu, Papa diantar supir pribadi. Jadi biarkan saja jika sekretaris mu mau pulang sendiri." Herlambang menolak.


"Lee, antar Papa Herlambang sampai didepan gerbangnya. Pastikan Papa pulang dengan aman." ucap Ken.


"Baik Tuan Muda."


"Mari Pak, kita pulang sekarang." ajak Lee.


Herlambang mengangguk. "Ken, Papa pulang dulu. Terima kasih sudah memaafkan ku dan masih mau menganggap ku ayahmu. Boleh 'kan, besok Papa kesini lagi untuk bertemu dengan Kio?"


"Tentu saja, kapanpun Papa ingin berkunjung Ken akan selalu menerima dengan senang hati. Kio pasti senang kalau Papa mau menganggapnya sebagai cucu."


"Dia memang cucuku, aku pasti menyayanginya seperti cucuku sendiri. Sudah malam, istirahatlah." Herlambang menepuk pundak Ken, senyum bahagia masih tersungging.


Ken membalas senyuman itu dan memperhatikan tubuh Herlambang yang mulai hilang dibalik pintu.


Setelah pintu tertutup rapat, dengan pelan Ken menghampiri Kei dan Kio yang terlelap.


Rasa khawatir dan cemas sudah menguap begitu saja. Kini putra kesayangannya sudah kembali dengan selamat. Bahkan berkat putranya hubungannya bersama Herlambang kembali membaik dan terjalin sebagai ayah dan anak lagi.


Kebahagian yang berlipat ganda, dibalik ujian ada hikmah yang menyertai.

__ADS_1


Istrinya baik-baik saja, calon anak yang ada dikandungan Kei juga selamat. Ken benar-benar merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Tinggal esok hari masih ada tugas untuk meyakinkan Kio dan memberinya pemahaman. Memberi kasih sayang yang lebih, seperti saran dari Lee. Semoga Kio mau menerima calon adiknya.


__ADS_2