
Tiga hari Akio mendapat perawatan di rumah sakit. Hari ini dokter sudah membolehkannya pulang.
"Pelan-pelan sayang," ujar Kei dengan memegangi lengan Akio yang ingin berpindah tempat, ke samping jendela.
Setelah memastikan Akio duduk dengan nyaman, Kei melanjutkan aktifitasnya untuk mengemasi barang-barang. Hanya menunggu Ken, dan mereka akan pulang.
"Kita pulang ke rumah dad, kan?" tanya Kei.
"Io mau pulang ke rumah Io sendiri."
"Sayang ...." Ucapan Kei terhenti.
"Mom tidak perlu khawatir, Io tidak akan kenapa-napa. Ada banyak pelayan di sana." Dia tahu mommy Kei mencemaskan keadaanya, tapi untuk pulang ke rumah dad, dia justru takut menyakiti hati oma nya. Di takutkan tidak bisa mengontrol diri, karena kemarahan dan kekecewaannya belum hilang. Apa yang dilakukan oma nya sangat keterlaluan, dia butuh waktu untuk memaafkan.
"Mom tahu. Kamu pasti sangat kecewa dengan kesalahan yang dilakukan oma. Mom juga tidak menyangka," ujar Kei.
"Bukan cuma kecewa, Io sakit dan menyesal. Sakit, kenapa orang itu harus oma. Kenapa bukan orang lain saja. Kepada oma, Io nggak mungkin membalas sakit hati yang di alami Naya. Menyesal, karena semuanya sudah terlambat. Menyesal, Io menjadi suami yang tidak berguna. Aku tidak tahu tekanan seperti apa yang di alami Naya. Semua pasti berat untuk dia."
Kei menghentikan aktifitasnya dan sudah berpindah duduk di samping putranya. "Jangan menyalahkan diri. Semua bukan seratus persen kesalahanmu. Mom tahu kamu sudah bersikap baik dan sangat menyayangi Naya, tapi Naya terlalu pandai menutupi perasaanya. Mungkin dia memikirkan hubungan darah antara kamu dan oma. Dia tidak mau kamu dan oma berjarak gara-gara kamu membelanya. Semua nggak ada yang salah."
"Memang, seharusnya oma sudah menerima pilihanmu, bukan memaksa kehendak kamu harus bersama Zee. Oma salah, tapi jangan benci oma. Kita tahu, sedari dalam kandungan oma sangat menyayangimu. Cobalah memaafkan. Allah pasti punya jalan dan takdir untuk mempertemukan mu lagi dengan Naya. Percaya Allah akan mengembalikan tulang rusukmu," imbuh Kei.
"Io rindu Naya, Mom. Sangat merindukannya. Io rindu gerakan bayi yang menendang telapak tanganku. Di mana mereka?"
Kei mengusap punggung putranya. "Rindumu akan segera berlalu, Nak. Kita jangan putus berdoa."
Di Kantor.
Layar laptop menyala, tetapi Ken tidak mengerjakan sesuatu. Pria paruh baya itu menyandarkan kepala di kursi kebesarannya. Mata tuanya terpejam, namun pikirannya melayang tak menentu.
Tok ... tok .... Ketukan pintu tidak di pedulikan. Dia tetap pada posisi sama.
Lee masuk. Dia mengira Ken ketiduran, mengurungkan niat untuk memberikan berkas penting, dan akan berbalik.
"Ada apa, Lee?" Suara Ken bertanya, tetapi posisinya masih tetap sama.
__ADS_1
"Aku kira Anda tertidur, Tuan."
"Pikiranku tidak setenang itu untuk tertidur. Walau aku sangat menginginkan tidur dengan nyenyak, tapi akhir-akhir ini aku justru tidak tidur sama sekali," ujar Ken.
"Anda membutuhkan dokter, Tuan. Biar dokter meresepkan obat tidur."
"Jangan kaku, kita cuma berdua Lee. Berlagak lah jadi kakakku," pinta Ken. Dia membuka mata dan membenarkan posisi duduknya.
"Aku harus bagaimana, Ken. Bukan cuma kamu, kalau kamu ada masalah, aku lah orang pertama yang lebih pusing dari yang punya masalah itu sendiri."
"Hei ... kenapa keluhan mu seolah lebih parah dariku. Ini masalah keluargaku," sinis Ken.
"Dan aku yang harus mencari solusi," sambung Lee cepat.
"Kalau kau bosan tidak perlu mencarikan solusi. Pergilah!" usir Ken bertambah kesal.
Lee tertawa. "Jangan terlalu tegang. Kita cari solusi dengan kepala dingin."
"Ah ... otakku panas. Sudah hampir terbakar."
"Aku harus bagaimana, Lee. Mami sakit karena terus-terusan menyalahkan diri, meminta agar dirinya di hukum. Io tidak mau memaafkan Mami, dan keadaanya kamu sendirilah ...," keluh Ken mulai bercerita.
"Tidak harus bagaimana-bagaimana." Lee menanggapi santai.
"Serius kau, Lee!" sentak Ken.
"Aku serius. Biarkan saja. Ikatan darah lebih kental dari apapun. Io pasti akan memaafkan oma Lyra," kata Lee.
"Kamu tidak tahu, semarah apa Io dengan Mami," sahut Ken.
"Io hanya butuh waktu, berikan dia waktu."
"Sampai kapan? Sampai kondisi oma semakin buruk?" Ken melirik sinis. Bagaimana dia bisa tenang.
"Jika oma menyadari kesalahannya, harusnya terima dan memaklumi sikap Io. Beri dia waktu untuk memaafkan. Coba kita berpikir seandainya kita jadi Io, apa kita bisa terima begitu saja istri kita dibuat tertekan sampai ibunya juga meninggal." Lee mencondongkan tubuhnya.
__ADS_1
Ken menerawang dan mengerutkan kening, seperti berpikir.
"Iya. Tapi bagaimana memberi pengertian kepada mami. Yang aku takutkan kesehatannya semakin menurun. Mami juga tidak mau di rawat."
"Oma sudah tua, umur adalah rahasia sang pencipta, pasrahkan saja. Lihat diri kita, rambut kita sudah beruban, kita pun nantinya akan pergi untuk selamanya. Semua sudah ada yang mengatur. Jangan terlalu di pikirkan. Kalau ingin berpikir, pikirkan juga kesehatanmu agar kamu tetap kuat untuk mereka. Kalau kamu yang sakit, aku yang bakal kelimpungan," ujar Lee.
"Bedebah gila! Serius, Lee! Aku tidak akan sakit, kalau Kei tidak sakit. Yang terpenting adalah dia."
"Ah iya, itu juga. Kalau Kei sakit, rumah sakit akan heboh."
"Kalau mulutmu tidak diam. Bukan mami, tapi kau yang akan aku penjarakan!"
Lee tergelak melihat Ken mendengus kesal.
"Sekarang yang terpenting kamu berusaha menasehati Io, dan juga beri pengertian kepada Oma." Lee berubah serius.
Ken menghela napas panjang. "Aku sudah melakukannya, tapi mereka masih dengan diri mereka sendiri. Sepertinya benar, jalani saja. Aku sudah terlalu pusing memikirkan. Biarkan saja dan pasrah."
"Bagaimana ... apa mereka sudah mendapat kabar di mana Naya?" Ken teringat dengan pencarian Naya.
"Belum. Sulit mencari jejaknya."
"Tidak ada petunjuk sama sekali. Kalau untuk daerah sini, semua sudah di sisir habis sampai ke perkampungan kumuh. Tapi tetap belum ditemukan."
*
Ketika ponselnya berdering, Zee langsung menjawab telepon. "Halo, Ma ... Zee merindukanmu sepanjang waktu."
Di seberang Dewi terkekeh. 'Lebay mu semakin bertambah Zee. Sayang, kamu masih belum mengaktifkan nomor Io?'
"Ma ...."
"Maaf, Mama cuma bertanya."
'Dia sedang terluka, Zee. Dia merasakan seperti yang kamu rasakan. Tuhan tidak tidur, sayang.'
__ADS_1
'Aku tahu, ma. Bahkan sekarang orang yang dicari kak Io ada bersama ku. Apa kak Io sudah mencintai Naya sampai dia terluka dengan kepergian Naya? Ketika aku pergi, bahkan Kak Io tidak mencari ku,' batin Zee.