Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Jangan Tinggalkan Aku.


__ADS_3

Dokter masuk keruang rawat dan berjalan mendekat, sudah saatnya mengecek kondisi nona muda itu. Saat beberapa dokter mendekat Kei terbangun. Tuan Ken menatap tajam, kesal dengan para dokter yang sudah menganggu istrinya yang sedang tidur.


"Kau tidak liat istriku masih tidur, gara-gara kalian dia terbangun!" mengatakan dengan nada dingin.


"Maaf tuan, tapi ini jadwal kami memeriksa kondisi nona." dokter itu memberanikan diri untuk menjawab.


"Kau bisa memeriksanya nanti!" masih menatap tajam. Kei menggerakkan tangannya, tuan Ken segera mengalihkan perhatian. Ketika sudah saling memandang, Kei menggelengkan kepala pelan. Memberi isyarat agar tuan Ken jangan memarahi dokter itu lagi.


"Sweety, kau tidak apa-apa? apa yang kau inginkan?" tuan Ken menanyai Kei. "Aku tidak menginginkan apapun." Kei menjawab dengan sangat lirih. Bibirnya kering dan pecah-pecah, wajahnya juga terlihat sangat pucat.


Sudah terlanjur, akhirnya dokter melanjutkan untuk memeriksa Kei. Kei memang sudah sadar, tapi kondisinya benar-benar masih lemah. Dokter menyarankan agar tidak banyak bergerak, harus bed rest total. Saran dari dokter bukan masalah besar, kali ini Ken akan menjaga istrinya dengan sangat baik. Tidak akan terjadi keteledoran seperti sebelumnya.


Ketika dokter keluar dari ruang rawat, mami Lyra menghadang didepan pintu untuk menanyakan kondisi Kei. Tapi dokter itu sudah memperbolehkannya masuk, jadi mami Lyra memutuskan untuk langsung masuk kedalam.


"Kei, bagaimana keadaanmu, sayang?" mami Lyra bertanya lembut, mengelus punggung tangan menantunya. "Kei masih lemas, mi." jawab Kei.


"Iya sayang, sekarang mami sedikit lega karna kamu sudah sadar. Semoga cepat pulih." kata mami Lyra. Kei mengangguk dan menarik sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman.


"Kakak ipar harus segera sembuh, Ray belum sempat berbicara panjang dengan kakak. Banyak yang ingin Ray ceritakan." Ray ikut tersenyum, dia memang pria yang hangat dan humoris.


"Sudah, kalian jangan mengajaknya berbicara terus. Kei baru sadar, butuh banyak istirahat." peringatan dari tuan Ken. Mami Lyra dan Ray menghela nafas, sikap posesif tuan Ken sudah kembali.


"Ya sudah, kalau gitu mami sama Ray pulang dulu ya, nanti mami kesini lagi." mami Lyra yang sudah tua, badan tuanya itu cepat merasa lelah. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar, nanti sore akan kembali lagi.

__ADS_1


"Iya Mi." jawab Ken. Mami Lyra membungkuk sebentar untuk mencium rambut Kei sebagai tanda perpisahan. "Mami dengan Ray, hati-hati." pesan Kei. Mami Lyra menganggukkan kepalanya, dan berlalu menuju ke pintu.


"Aku pulang dulu ya kakak ipar, semoga cepat sembuh." berganti Ray yang berpamitan. Setelah mengucap itu berlalu menyusul mami Lyra yang sudah keluar.


Setelah pintu tertutup, Kei memperhatikan wajah suaminya. "Ada apa, Sweety?" Ken bertanya. "Aku haus." adunya, tuan Ken segera meraih gelas berisi air putih yang ditaruh diatas nakas lalu mendekatkan gelas itu didekat mulut Kei, membenarkan letak sedotan agar memudahkan Kei meminumnya.


"Apa sekarang sudah baik-baik saja? aku sangat takut." tuan Ken terlihat serius, pandangan matanya menyorot rasa takut. "Takut apa?" Kei tidak mengerti, apa yang suaminya itu takutkan.


"Honey, apakah kau mau berjanji padaku?" tuan Ken bertanya lagi. Kali ini terlihat sangat-sangat serius.


"Berjanji apa?"


"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku." kedua mata tuan Ken menatap Kei dengan pandangan memohon, terlihat jelas rasa ketakutan yang besar.


" Aku bisa gila tanpamu, Sweety. Melihatmu seperti tadi membuatku sangat ketakutan. Aku takut, kau dan anak kita akan pergi meninggalkan aku." kini sorot mata tuan Ken meredup, tidak ada sisi tuan Ken yang arogan dan kejam seperti biasanya. Yang ada saat ini hanya seorang Kendra Kenichi yang lemah, tidak mempunyai kekuatan.


"Hust... aku tidak akan meninggalkanmu. Aku dan calon anak kita akan selalu menemanimu." selesai mengucapkan itu, Kei memejamkan matanya sebentar.


"Kau kenapa?"


"Tidak, aku tidak pa-pa. Terkadang perutku terasa sakit." jawab Kei berusaha tenang, perutnya yang buncit dia elus dengan rasa sayang. 'Nak, bertahanlah. Meski Mommy harus menahan sakit, mommy akan lakukan demi kamu Nak. Berharap, kamu bisa lahir kedunia. Jika mommy tidak bisa menemani Daddy, Mommy harap kamu bisa menemaninya.' Kei berbicara dalam hati, seolah anaknya bisa mendengar kata hatinya.


Kedua sudut mata Kei mengeluarkan air.

__ADS_1


Bukan hanya tuan Ken yang merasa takut, Kei jauh lebih takut. Takut tidak bisa bertahan, saat ini ia menahan rasa sakit demi anaknya.


"Kenapa menangis? apa ada yang sakit?" tuan Ken sudah nampak cemas.


"Tidak sayang. Aku menangis bahagia, betapa beruntungnya bisa menjadi istrimu. Kamu begitu sempurna untukku. Maafkan aku jika aku sering menyusahkanmu." airmata itu semakin bercucuran. Dia berbohong dengan keadaanya, agar suaminya tidak cemas.


Tuan Ken beranjak dan memeluk Kei, "Kau tidak pernah menyusahkanku, kau istriku, aku sangat mencintaimu. Bukan aku, tapi kaulah yang sempurna bagiku."


Kei memejamkan mata, bukan menikmati kehangatan pelukan tuan Ken padanya, tapi menahan rasa sakit dibagian perut bawah. Dengan sangat hati-hati, Kei menghirup udara dan menghembuskannya pelan.


Setelah melepas pelukannya, tuan Ken kembali duduk. Tangannya menghapus bekas airmata yang keluar disisi kanan dan kiri mata istrinya.


"Kau mau makan sesuatu?" tuan Ken menawari, Kei menggeleng. "Tidak, nanti saja." jawabnya.


"Sebentar, aku ingin kekamar mandi." tuan Ken melepas tautan tangan mereka dan berjalan kekamar mandi. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Kei meringis kesakitan perut bagian bawah terasa sakit padahal anaknya masih bergerak-gerak meski tidak terlalu kuat menendang.


"Kamu harus bertahan ya Nak, jangan keluar sekarang, ini belum waktunya. Tunggulah 2bulan lagi didalam perut Mommy, setelah itu kita berjuang bersama agar kamu bisa melihat indahnya dunia, melihat Daddymu yang begitu tampan." Kei kembali mengajak anaknya untuk berinteraksi. Dia tau, calon anaknya pasti bisa mendengar suaranya.


Pintu kamar mandi terbuka, tuan Ken mulai melangkah keluar. Segera Kei memasang senyum manis dan menyembunyikan rasa sakit.


"Jika lelah, istirahatlah Baby." kini tuan Ken telah duduk kembali. "Aku tidak lelah, sedari tadi sudah istirahat. Bukankah kamu yang lelah karna terus menungguku, kamu saja yang istirahat."


"Tidak, aku tidak mau istirahat. Aku akan menunggumu."

__ADS_1


"Baby, Daddy senang, kau dan Mommy baik-baik saja. Kau harus menjadi anak yang kuat, jangan membuat mami kesakitan ya..." tuan Ken mengelus perut Kei dan mengajak anaknya berbicara. Saat tangan kekar itu mengelus perutnya, rasa sakit itu berangsur hilang. Untuk sejenak Kei bisa bernafas lega. Sebelum rasa sakit itu kembali.


__ADS_2