Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Berjalan-jalan


__ADS_3

Mendapat hari cuti dari tuan Ken, Lee memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin. Ia tidak pergi kemanapun, bahkan beranjak dari dalam kamar saja rasanya malas.


Dengan gerakan sedikit kaku, ia menggendong putrinya. Maklum, ini pengalaman baru yang baru disandangnya.


Sebelumnya ia hanya tinggal seorang diri, tanpa siapapun.


Sekarang ia benar-benar bersyukur memiliki keluarga kecil yang harmonis dan bahagia. Hubungannya dengan Dewi lebih sederhana, dari pada tuan mudanya.


Sikap posesifnya lebih ringan dibanding tuan Ken. Hanya saja, Dewi yang terkadang bersikap manja tidak seperti Kei yang bisa berpikir dewasa.


Lee menatap wajah Alzena dengan lekat, wajah yang memiliki perpaduan antara mirip dirinya juga mirip Dewi. Bisa dikatakan mirip keduanya.


"Ze... Papa pulang, kau ini tidak bangun-bangun juga," Lee menoel pipi putrinya.


"Dasar putri tidur," imbuhnya dengan senyum cerah.


Setelah itu tak berapa lama Alzena mulai menggeliat, badan kecilnya benar-benar terlihat lucu. Kedua tangan yang bergerak disamping telinga kanan dan kiri dengan bibir yang mengerucut, tidak ada lagi hal menggemaskan selain melihat gerakan bayi yang polos.


Setelah menggeliat, wajah putih bersih itu menjadi kemerahan.


Satu detik kemudian terdengar suara tangisan Alzena dengan sangat kencang.


Bayi mungil yang terganggu oleh gerakan dari Papanya.


"Ma... Ze nangis..." Lee berteriak memanggil Dewi yang sedang berada di dapur membuat minum untuk suaminya.


"Iya sebentar," jawabnya. Tapi badan Dewi belum muncul, padahal Alzena semakin menangis kencang.


"Hei... putri Papa kenapa menangis kencang? Oke oke, maafin Papa yang sudah mengganggu tidurmu. Cup cup, diam ya..." Lee mencoba menenangkan.


"Uh... putri Mama kenapa menangis? kamu haus?" setelah menaruh minuman diatas meja, ia meraih tubuh Alzena dari gendongan Lee.


Berada dalam posisi pas dan nyaman, Dewi segera menyusui bayinya.


"Kenapa dia bisa langsung diam begitu?" tanya Lee menatapi aktivitas Ze yang sedang menyedot sumber makanan dengan kuat.


Dewi tersenyum, "Karna tadi dia haus, sekarang sudah dapat yang diinginkan makanya dia diam."


"Dia juga sama seperti mu 'kan? kalau belum dituruti tetap saja merengek." imbuhnya.


"Dia putri kecil tapi pintar sekali mengurangi jatahku."


"Au'..." Lee meringis, tangan Dewi bagai kepiting capit yang mengapit pinggang Lee kuat.


"Kamu aja yang maunya dobel terus!" ucap Dewi ketus. Bisa-bisanya suaminya bicara seperti itu.


Tak dipungkiri, jika mempunyai bayi maka waktu untuk berduaan pasti berkurang bahkan tak jarang hampir tak bisa menyentuh sepanjang malam.

__ADS_1


"Apa hari besok juga masih libur?" tanya Dewi mengalihkan pembicaraan yang tadi.


"Masih, tuan Ken memberiku libur 2hari." jawab Lee sambil menyesap kopi buatan Dewi tadi.


"Kenapa? kau mau jalan-jalan?" Lee menawari. Umumnya seorang wanita akan sangat suka berjalan-jalan dan shoping.


Lee menyadari bahwa selama Dewi melahirkan, istrinya tak lagi keluar rumah.


Kini umur baby Ze sudah satu bulan lebih, Dewi sudah bisa pergi berjalan-jalan.


Dewi tak begitu saja menyetujui, banyak pertimbangan dipikirannya. " Tapi bagaimana dengan Ze?" tanyanya.


"Tidak pa-pa, dia sudah bisa melihat dunia luar."


Dewi beralih menatap putrinya, masih menimbang-nimbang. Apa tidak apa-apa jika putri kecilnya melihat dunia luar?


"Kalau jalan-jalan di Mall banyak orang, takut banyak virus. Kalau di taman banyak debu, lalu kemana?" Dewi kebingungan.


Sudut bibir Lee terangkat, "Sayang, kalau pun pergi ke Mall, kita akan dapat fasilitas utama. Kau lupa, Mall itu milik tuan Ken. Bahkan Mall itu aku yang mengurus.


Jika pergi ke Taman, aku akan menghubungi pihak keamanan disana untuk menyewa taman itu supaya khusus untuk kita saja." ucapnya enteng.


Dewi melebarkan mata, segitu berkuasanya dua lelaki itu. Yang satu suaminya dan yang satu atasannya. "Memang bisa begitu?" tanya Dewi keheranan.


"Kau tenang saja, katakan kau ingin seperti apa?"


"Kalau mau terima kasih, kasih jatah dobel dong.." goda Lee.


"Huh... dasar mesum..."




Keesokan hari, sesuai kesepakan yang dibuat. Lee sudah rapi dengan pakaian biasa.


Keluarga kecil itu akan berjalan-jalan ke Mall dan juga tempat indah.



Dewi menggendong Ze, setelah Lee membuka pintu mobil ia segera masuk. Lee ikut masuk lewat pintu samping.



Menempuh perjalanan tak terlalu lama, mobil yang dikendarai sudah sampai diparkiran Mall.


Mereka berdua masuk kedalam Mall dengan banyak pengunjung lainnya, mula Dewi ingin menuju eskalator tapi Lee mencegah. Ia mengajak Dewi menaiki lift khusus yang hanya untuk tuan Ken, dia dan orang khusus lainnya.

__ADS_1



Tentu saja Lee takkan membiarkan putrinya berbaur dengan lautan manusia. Ia harus menjaga Dewi dan Alzena.



"Kau mau beli apa?" tanya Lee.



"Apa ya? aku tidak antusias belanja, ku pikir bisa jalan-jalan saja sudah senang."



Tak mau berlama, Lee membawa Dewi ke toko perhiasan. Ia membelikan satu set lengkap perhiasan yang sangat indah dan tentunya mahal.


Setelah itu Lee mengajak Dewi ke butik baju yang masih ada didalam Mall, memborong baju untuk dia dan Dewi.



"Kenapa banyak sekali?" Dewi memperhatikan gerakan Lee yang mengambil banyak baju. Ia sendiri kesusahan untuk memilih. Ia masih mendekap Alzena.



"Tidak pa-pa, biar sekalian. Nanti setelah ini kita cari baju buat Ibu dan juga putri kecil kita." ucap Lee.



Pelayan yang berdiri tak jauh dari posisi mereka terus memperhatikan interaksi keduanya. Lee yang biasa dingin seperti tuan Ken, bisa juga bersikap hangat didepan istri dan anaknya. Pemandangan langka yang jarang dilihat. Lee adalah manusia lurus dan kaku bahkan tangan kanan si raja bisnis itu tak kalah seram dan dingin dari tuan Ken. Melihat keberadaannya saja sudah membuat bergetar, performanya hampir sama dengan tuan Ken.



Semua urusan didalam Mall sudah selesai, Lee dan Dewi sudah kembali memasuki mobil. Putri kecil mereka yang sedari tertidur kini mulai membuka mata, kedua bola mata kecilnya bergerak kesana kemari seperti mengamati atap mobil.



Kedua orang dewasa sama-sama menyunggingkan senyum.



Mobil yang disetir Lee melaju dengan kecepatan sedang, mereka berdua sesekali mengobrol dan bercanda.



Menikmati waktu bersama keluarga benar-benar obat mujarab untuk mengusir lelah dan kebosanan.


Sungguh disayangkan ia tak bisa selalu menemani Dewi, bahkan ketika tugas di luar kota bukan hanya dia saja yang kadang mengeluh. Tuan Ken lebih lagi tak sabaran ingin segera pulang.

__ADS_1


Dunia memang harus seimbang, antara orang tersayang dengan pekerjaan. Keduanya sama-sama penting.


__ADS_2