Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Mengingat juga terkejut


__ADS_3

Hampir tujuh bulan Ken hidup sendiri tanpa dampingan siapapun, hanya bekerja-bekerja dan bekerja.


Hati Ken mulai resah, setiap malam dihantui suara anak kecil yang memanggilnya Daddy.


Hari-hari yang dilalui pun terasa hampa, seolah ada sesuatu besar yang telah menghilang.


"Ki Kio..." bibirnya berucap lirih ketika sedang merenung didalam kamar yang gelap, hanya ada sinar remang-remang. Sedari siang saat melakukan terapis dia selalu menyebut nama itu.


Ken mengambil figura kecil yang ada diatas nakas. Figura itu tadi siang sengaja ia ambil dari kamar mami Lyra. Ya... semua foto-foto keluarganya telah dipindahkan ke kamar mami Lyra. Itu pun atas perintahnya waktu itu.


Saat mengamati foto itu, mata Ken tertuju pada Kei yang tengah tersenyum manis. Entah, hati kecilnya tiba-tiba merasakan sebuah rindu dan ingin sekali melihat mereka.


'Aku sangat mencintaimu, Sayang.'


'Terima kasih, kamu adalah anugerah terindah yang dikirim Tuhan setelah badai besar berlalu.'


'Keluarga kita akan selalu bahagia, kita akan menua bersama.'


'Kita akan membesarkan anak-anak kita, Kio dan Kyura dengan penuh kasih sayang.'


'Saya terima nikah dan kawinnya Keihana Kazumi dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.'


'Sah...'


'Sah...'


'Honey...'


'Sweety.'


Suara itu sangat familiar didengarnya, Ken memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Sepenggal bayangan-bayangan itu berkelebatan muncul dalam ingatannya, otak Ken bekerja menyusun kejadian-kejadian yang mulai terlihat jelas. Ken merasakan sakit kepala yang teramat. Memejamkan mata untuk menghalau rasa sakit yang muncul tapi semakin terasa nyata.


"Mi..."


"Mami..." tidak tahan dengan rasa sakit di kepalanya, Ken memanggil mami Lyra meminta bantuan untuk memanggilkan dokter.


Beberapa kali memanggil mami Lyra, tapi tidak muncul. Dengan kepala yang berputar-putar, Ken beranjak melangkah menuju ke pintu dan ingin keluar mencari maminya.


Berjalan tertatih dan sempoyongan, dengan kedua tangan yang memegangi kepala yang berputar. Tidak tahan dengan itu, tiba-tiba tubuh Ken ambruk dengan sangat keras membentur lantai. Dan akhirnya tidak sadarkan diri.


Detik, menit, jam berlalu. Ditengah malam yang sunyi dan gelap tiba-tiba saja mami Lyra terbangun dari tidur nyenyaknya. Jantungnya berdebar tak karuan, seperti mendapat firasat buruk. Mungkin firasat keibuannya muncul disaat anaknya tengah membutuhkan bantuan.


Pikirannya tertuju pada Ken, padahal sebelum tidur tadi mereka bercengkerama. Tidak mungkinkan terjadi sesuatu?


Mami Lyra mencoba memejamkan matanya lagi, tapi hatinya merasa gelisah, nalurinya ingin mengetahui keadaan Ken.


Mami Lyra menghidupkan lampu utama dan pergi ke kamar Ken.


Mami Lyra mengetuk pintu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban. Memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Ken yang tertutup rapat.


Saat membuka kamar itu hanya ada lampu tidur yang remang tapi mata mami Lyra masih bisa melihat tubuh Ken yang tergelak dilantai.


Mami Lyra sangat terkejut. "Ken... astaga... Ken, kenapa kamu, Nak?" mami Lyra mendekat dan menggerakkan badan Ken.


Mami Lyra meminta bantuan para pengawal yang berjaga diluar rumah untuk membawa Ken kerumah sakit. Mami Lyra menghubungi Herlambang sampai beberapa kali dan baru terdengar jawaban, memintanya untuk menyusul ke rumah sakit.


Satu orang yang selalu siap siaga, tapi mami Lyra tidak ingin menggangu Lee. Akhirnya mengurungkan niat untuk melakukan panggilan.


Mami Lyra sudah berusaha menghubungi Kei, tapi nomornya sedang berada diluar jangkauan.




Menjelang pagi mami Lyra tidak bisa memejamkan matanya, Herlambang mengusap lengan mami Lyra yang tengah dipeluknya untuk memberi kekuatan.


__ADS_1


Matahari belum menyongsong, tapi sekretaris Lee sudah mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit.



Semalam ada tiga panggilan tak terjawab dari Herlambang dan juga pesan yang menanyakan keadaan Ken, apakah sudah sadar atau belum? biasanya Lee selalu ada dimana Ken berada, untuk itu Herlambang menghubunginya. Padahal Lee tidak diberitahu oleh mami Lyra. Dari pesan yang dibaca, Lee baru tahu jika ada sesuatu yang terjadi. Ia langsung menelpon pengawal yang berjaga dirumah Ken.



Ken baru saja sadar, memperhatikan sekeling lalu beranjak duduk. Melihat itu mami Lyra dan juga Herlambang langsung mendekati.



"Ken, kamu sudah sadar?"



"Ken kenapa, Mi?" tanya Ken bingung dengan memegangi kepala belakang yang terasa nyeri karna terbentur lantai semalam.



"Semalam kamu pingsan,"



"Pingsan?" Ken masih kebingungan. "Istriku dan Io dimana?" tanya Ken mengedarkan pandangannya.



Mami Lyra terkejut, mematung dan melongo. Sedangkan Herlambang menyenggol lengan mami Lyra. Mami Lyra yang tersadar lalu menatap Ken lekat-lekat. "Kamu sudah ingat, Ken?" tanya mami Lyra.



"Ingat..?" Ken mengernyit.




"Alhamdulillah, akhirnya ingatan kamu bisa kembali, Ken. Berbulan-bulan kami menunggu ingatanmu pulih." kata Herlambang.



Ken tidak begitu paham dengan mereka, saat ini hanya ingin melihat Kei dan anaknya. Kenapa tidak terlihat dan juga tidak menemaninya.



"Mi..." panggil Ken dengan kesal. Mami Lyra dan Herlambang malah berpelukan bagai pengantin baru, yang mana membuat Ken kesal.



"Dimana Kei dan anakku?" Ken mengulang.



"Iya, ada... ada, mereka ada. Biar pengawal menjemput istri dan anak-anak mu." ucap mami Lyra gembira.



Melihat Ken yang masih kebingungan, mami Lyra menceritakan semuanya. Berkali-kali Ken memekik kaget atas perbuatannya sendiri. Terdiam, tertohok dan juga terkejut, entah apalagi untuk menjabarkan ekspresi wajahnya.



Yang jelas pikirannya sangat kacau, atas kebenaran yang terjadi. Ken menyusut sudut matanya yang berair kala mami Lyra menceritakan pengusiran Kei dan anak-anaknya dari rumah. Bahkan semuanya diceritakan tanpa ada yang kurang.



Hingga tak terasa sudah hampir satu jam tapi sesi cerita itu belum juga selesai.

__ADS_1


Pengawal yang diberi tugas untuk menyusul Kei ke apartemen sudah kembali dan sedikit takut menghadap Ken.



"Maaf Tuan, Nona Kei tidak ada di Apartemen." dengan gemetaran pengawal itu menghadap Ken.



"Apa...." Ken terkejut. Mami Lyra dan Herlambang juga ikut terkejut.



"Katakan yang jelas, dimana Kei kalau tidak ada di Apartemen!" sentak mami Lyra.



"Petugas mengatakan kalau Nona Kei, Tuan Muda Kecil juga Tuan Putri Kyura sudah pergi dari Apartemen kemarin siang dengan terburu-buru. Nona Kei membawa tas dan menitipkan kunci pada petugas." pengawal yang menjelaskan merasa takut melihat sorot mata Ken yang menyala.



"Dimana alamat Apartemen itu, biar aku sendiri yang menjemput Kei dan anak-anak." Ken mencabut jarum infus dan mulai turun dari ranjang.



"Ken, Ken... kamu belum pulih. Biar Papa dan Lee yang akan mencari mereka. Kamu masih harus dirawat, Ken. Biar dokter memeriksa keadaanmu dulu." cegah mami Lyra.



Tapi Ken tidak mendengarkan, segera berjalan menuju ke pintu, tapi saat itu bertepatan dengan Lee yang akan masuk. "Tuan Muda," sapa Lee.



Lee memperhatikan wajah Ken yang marah tapi juga ada kekhawatiran.



"Lee ingatan Ken sudah pulih." mami Lyra memberitahu.



"Syukurlah ingatan Tuan Muda sudah pulih." Lee mengucap syukur.



"Itu tidak penting, Lee! yang terpenting cari istri dan anakku, mereka pergi, Lee!!" sentak Ken.



Baru beberapa menit bernapas lega, kini dibuat terkesiap dengan sentakan Ken barusan.


.


.


.


.


.



Hayo... Kei pergi kemana ya?


Biar Tuan Ken kalang kabut dulu mencari Kei dan Kio ya,


__ADS_1


apakah setelah bertemu, si pangeran kecil mau memaafkan daddy-nya?


__ADS_2