Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Mendatangi Kontrakan Izham.


__ADS_3

Wanita yang menggemparkan dunia tuan Ken tidak tau jika suaminya sedang kesetanan kesana kemari mencarinya, Kei dan Dewi sedang menikmati mie ayam pangsit dipinggir jalan.


"Kei, memang tuan Ken tidak marah kalau kamu pergi tanpa izin?" Kei menghentikan makannya, terlihat berpikir.


"Pasti dia marah besar. Tetapi aku ingin menenangkan pikiranku sebelum mengambil keputusan."


Dewi mengernyit, "Keputusan? keputusan apa?" Dewi bertanya, Kei tidak menceritakan apapun.


"Keputusan untuk berpisah dengan tuan Ken."


"Apa...! uhuk...uhuk...." Dewi yang terkejut sampai terbatuk tersedak mie ayam pedas yang dikunyah. Raut wajah kesedihan kembali terlihat, Kei menunduk.


"Maaf Kei, maaf. Aku terkejut mendengar ucapan mu." Dewi segera meminta maaf melihat Kei kembali bersedih.


"Jalan hidupku terlalu rumit mbak, rasanya aku lelah. Aku sudah berjanji jika pernikahanku yang kedua ini gagal, aku tidak akan pernah menikah atau mencintai seseorang lagi."


"Ya Tuhan, Kei. Kenapa sampai mengucap janji seperti itu? masa depanmu masih panjang, perasaan datang dengan sendirinya tanpa bisa kita mengatur. Kamu masih muda, pasti bisa menemukan orang yang tepat."


"Tidak mbak, pernikahanku yang pertama sudah gagal dan yang kedua ini... apakah bernasib sama?"


"Pernikahanmu yang pertama gagal mungkin karna maaf, dulunya kakimu tidak bisa berjalan sempurna. Lalu yang kedua ini hampir gagal karna masalah apa? Kei, suamimu itu tuan Ken kekayaannya tidak diragukan lagi, bukan hanya kaya bahkan suamimu tertampan se-Indonesia. Dia lelaki yang memiliki segala-galanya, kamu beruntung bisa menjadi istrinya."


"Dia memang memiliki segalanya mbak, aku memang beruntung bisa memilikinya tetapi dia yang tidak beruntung karna aku tidak bisa memberinya keturunan."


"Maksud kamu?" Dewi masih belum mengerti, Kei tidak menceritakan dengan detail.


"Aku... aku mandul mbak."


"Hah..." Dewi kembali terkejut, membuka mulut lebar-lebar.


"Ya ampun, Kei." Dewi tidak bisa berkata apapun, bingung harus menenangkan Kei yang kembali menangis.

__ADS_1


"Kei-Kei, sudah jangan menangis lagi, banyak orang yang melihat kearah kita." Kei menghentikan tangisnya.


"Ayo kita pulang ke rumahku saja, biar kamu bebas bercerita."


"Tapi mbak, nanti merepotkan. Aku ingin cari kos-kosan saja atau rumah kontrakan."


"Ini sudah malam, kita mau cari dimana? besok saja cari kontrakannya, malam ini kamu bermalam di rumahku ya..." Kei mengangguk.


"Terima kasih ya mbak." berganti Dewi yang mengangguk dan tersenyum. Dewi berdiri menghampiri bapak penjual bakso, tetapi Kei lebih dulu mencegah. "Sudah biar aku saja yang bayar."


"Aku ada kok, katanya uangmu menipis." Dewi mencebikan mulut mengejek Kei.


"Kalau cuma bayar mei ayam dua mangkuk mah masih ada sisa." Kei langsung membayarnya. Mereka berdua memutuskan untuk pulang.


_____________________


Ken sedang menyusuri jalanan untuk mencari Kei, bukan hanya dia para pengawal juga ikut mencari. Raut wajah yang sangat khawatir, bayang-bayang wajah Kei yang sedang menangis membuat semua rasa menjadi satu. Berkali-kali mengumpat, kenapa dia teledor membicarakan rahasianya. Selama ini Ken sudah cukup memendamnya sendiri tetapi semua terbongkar begitu saja.


Lee sedang menikmati makan malam di Apartemennya, ponsel didalam kamar terus berbunyi. Lee sangat kesal jika ada yang mengganggu saat dia sedang makan karna setelah itu nafsu makannya akan hilang. Lee berusaha mengabaikan ponselnya yang berbunyi dan tetap meneruskan makan malam. Tidak berpikir jika yang menghubungi adalah tuan Ken, akhir-akhir ini tuan mudanya tidak terlalu rewel karna sudah memiliki candu. Pekerjaannya menjadi sedikit ringan.


Lama kelamaan geram juga mendengar bunyi ponsel yang tiada celah untuk berhenti, memutuskan untuk melihat siapa yang menelpon.


Membelalakkan mata ketika melihat 10panggilan tidak terjawab dari tuan Ken. "Mati kau Lee, tuan muda menelpon sampai 10kali! 3kali tidak menjawab telponnya saja kau sudah mendapat hukuman! dan lihat ini 10 panggilan, huh... siap-siap tamatlah riwayatmu." Lee berbicara sendiri, memukul kepalanya pelan, belum tau apa yang terjadi sudah merasa frustasi.


Segera menekan nomor tuan Ken, meski tau akan mendapat kemarahan tetapi lebih menakutkan jika tidak menghubungi kembali.


"Ha..." baru membuka mulut tetapi sudah terpotong dengan kemarahan tuan Ken.


"B*doh! si"lan kau Lee, dari mana saja kau! kali ini bukan pasal lagi, aku akan memb*nuh mu!!" Ken berteriak marah, suaranya seperti dew* kematian. Lee sudah merinding, pasti ada hal besar yang terjadi.


"Maaf tuan muda, saya sedang mandi tidak tau jika anda menelpon." mencari aman dengan sedikit berbohong, jika tidak raja segala-galanya itu akan lebih mengamuk.

__ADS_1


"Kei pergi dari rumah, cepat cari dia!"


"Apa...!" Lee terkejut dan setengah berteriak. Kembali tuan Ken mengumpat semua kata dia sebut. Kekesalannya bertambah, kenapa disaat seperti ini Lee sangat b*d*h. Pikiran yang kalut membuat dia menyalahkan siapapun yang dekat dengannya tidak memandang siapapun.


"Lacak nomor telpon dan cari dia sampai ketemu!" Ken mematikan sambungan telponnya. Menambah laju kecepatan mobil tidak memperdulikan keselamatannya sendiri.


Ken mendadak menginjak rem, teringat sesuatu dan menghubungi maminya.


"Mami tau dimana desa tempat tinggal Kei?" mendesis karna tidak mendapat jawaban, mami Lyra tidak tau dimana alamat desa itu. Kembali menghubungi Lee untuk mencari tau alamat rumah Izham lelaki itu pasti tau. Mobil masih terparkir dipinggir jalan, menunggu kabar dari Lee. Tidak lama Lee menghubungi dan menjelaskan dimana alamat rumah Izham. Ken menghidupkan mesin mobil dan melajukan dengan kecepatan sangat tinggi ingin segera sampai dirumah Izham.


Tidak memperdulikan keselamatan sendiri atau orang lain, dia menjadi manusia egois yang menguasai jalanan.


Ckit...


Berhenti dan segera keluar, dengan langkah lebar menuju rumah kontrakan yang tidak terlalu besar. Tidak ada kesopanan, Ken menggedor-gedor pintu dan berteriak memanggil Izham.


Izham yang sudah terlelap harus bangun karna suara berisik dari luar, segera membuka pintu.


Buk....


"Aakh.." Izham terhuyung kebelakang memegangi sudut bibir sedikit mengeluarkan darah tuan Ken memukulnya dengan keras.


"Ada apa tuan?" Izham sedikit takut melihat kemarahan tuan Ken. Ken maju dan menarik kerah baju Izham.


"Katakan dimana alamat desa tempat tinggal Kei!"


"Didesa xxx tuan."


"Selama tinggal di Jakarta dimana saja tempat-tempat yang sering dia dikunjungi?"


"Aku tidak tau tuan." tidak mendapat jawaban, Ken menghajar Izham sampai babak belur Izham sudah tak berdaya tergeletak dilantai.

__ADS_1


"Tu-tuan, apa salah saya." Izham tidak membalas perkelahian itu tidak mau nasibnya sama seperti Mira yang akan mendekam dipenjara jika melawan tuan Ken. Dia sendiri bingung kenapa tuan Ken datang-datang menghajarnya sampai babak belur. Jika itu bukan tuan Ken, sudah pasti dia akan melawan.


__ADS_2