Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Tebusan mahal untuk kesalahan yang tidak disengaja


__ADS_3

Kaki Ken berhasil menginjak tanah Yogyakarta. Keluar dari bandara ada supir sewaan yang sudah menjemput. Ken dan Lee masuk ke mobil itu.


Lee menunjukan alamat pada supir itu untuk menghantarkan ke rumah Kei yang dulu. Membutuhkan waktu sekitar satu jam ketika sampai dirumah bude Parmi.


Dirumah itu terlihat ramai, dengan beberapa ibu-ibu yang sibuk memasak. Disamping rumah masih ada tenda yang terpasang. Tidak tahu dirumah itu sedang ada acara apa.


Ken sudah tidak sabaran, dia dan Lee segera turun dan melangkah menuju halaman rumah itu.


"Heh.... hei.. siapa itu, ada artis datang. Ya Tuhan, ganteng banget." teriak salah satu ibu-ibu yang mengetahui kedatangan Ken dan Lee. Sontak teriakan itu mengundang semua umat ibu-ibu yang ada didalam tenda maupun didalam rumah, mereka heboh untuk melihat sosok artis yang muncul dengan dadakan.


Bude Parmi yang baru muncul terbengong beberapa saat, setelah sadar mulut gopreknya langsung berteriak kencang.


"Itu suaminya, Kei. Ya ampun, keponakan ganteng, kaya raya, pemilik dealer datang lagi ke rumahku. Yuhui....." bude Parmi berteriak heboh.


Ken dan Lee berganti mematung. "Penyambutan terburuk, Lee." bisik Ken kesal.


"Benar Tuan. Sepanjang sejarah inilah yang terburuk."


"Nenek tua itu masih menganggap ku berkaitan dengan orang dealer. Padahal aku tidak memiliki cabang pada transportasi." kata Ken.


"Mungkin anda harus mencoba mengepakkan sayap untuk membuka cabang transportasi." bisik Lee.


"Kenapa kita membahas ini bo doh. Cepat tanyakan dimana Kei dan anakku!" perintah Ken.


Lee maju untuk lebih mendekat, lalu bertanya tentang keberadaan Kei dan Kio. Bude Parmi mengatakan Kei dan Kio tengah mengunjungi makam ibunya.


Tanpa basa-basi Ken dan Lee menuju ke makam. Letak makam itu pun tidak terlalu jauh.


Saat mobil terhenti, manik mata Ken mampu melihat keberadaan sosok wanita berpakaian putih dengan anak kecil yang duduk disampingnya menggunakan peci hitam. Hati Ken tertohok melihat mereka. Bahkan sudut matanya hampir berair.


Ken membuka pintu mobil dan berjalan pelan mendekati Kei, tapi istrinya begitu fokus berkeluh kesah dihadapan makam kedua orang tuanya.


"Ibu, do'akan Kei kuat menjalani ujian ini, jikapun suamiku tidak lagi mengingat kami, Kei akan berusaha membesarkan anak-anak sendirian." bahu Kei bergetar, terdengar isak tangis yang memilukan.


"Mom, jangan nangis terus. Setiap hari Mom sudah nangis. Io nggak mau lihat Mom nangis lagi."

__ADS_1


Kei beralih melihat Kio dan mengusap rambut bagian belakang yang sebagian tertutup peci hitam. "Maaf Sayang, Mom nggak akan nangis lagi." Kei menghapus airmatanya dan tersenyum.


"Setiap malam Mom nangis gara-gara Dad, Io nggak mau dengan Dad. Io benci dengan Dad!"


Deg...Deg...


Ken semakin mematung, jantungnya berdegup kencang. Perkataan Kio barusan mampu meluruhkan airmatanya. Pertemuan yang sangat diharapkan, tapi mematahkan segalanya.


Harapan bisa memeluk mereka, anak dan istrinya harus pupus begitu saja.


Hati Ken yang mula berbunga harus layu sebelum berkembang. Semangat yang menggebu kini melebur sia-sia.


"Tuan Muda," panggilan Lee menyadarkan Kei dan Kio. Akan kehadiran sosok lain.


Keduanya langsung menoleh kebelakang. Dan, mata Kei langsung menangkap sosok Kendra Kenichi, suami tercinta yang amat dia rindukan selama tujuh bulan terakhir.


Airmata Kei semakin membanjiri pipinya, tapi mulutnya terkatup rapat tanpa mengucap sepatah kata. Dia tidak yakin dengan kehadiran suaminya sendiri.


Kei nampak ragu-ragu, apakah yang ada didepannya itu adalah suaminya yang dulu, suami yang OVER POSESIF DAN OVER PROTECTIVE. Atau seorang Kendra Kenichi yang sedang kehilangan sebagian memori ingatan hingga melupakan dirinya dan juga anak-anaknya? Kei belum tahu pasti, tubuhnya termangu ditempat.


Kio pun sama, bocah itu hanya memandang sang ayah dengan keraguan. Hati kecil itu meragukan sosok ayah yang ada didepannya. Apakah itu ayah yang dia rindukan atau ayah yang dia benci, tega mengusir dia dan Mommy nya.


Mata Ken memerah, menatap anak dan istrinya dengan sendu. Kedatangannya tidak ada sambutan pelukan hangat atau tawa riang dari Kio. Bahkan bocah itu seolah takut, sedikit bersembunyi dibelakang Kei.


Hati Ken seolah hancur, dunianya yang indah dengan bayangan tawa Kei dan Kio saat menyambut kedatangan runtuh begitu saja. Tujuh bulan berhasil menyulap keadaan sedemikian rupa.


Dimakam itu, semuanya terdiam. Lee yang tadinya ingin menghampiri Ken, ia urungkan. Dia kembali menuju ke mobil dan membiarkan tuan mudanya mengatasi semuanya sendiri.


"Honey..." sekian menit terdiam, Ken mengawali dengan memanggil Kei seperti sebutan sayang mereka.


Mendengar itu Kei semakin terisak. Panggilan itu, ya... panggilan yang amat dia rindukan selama tujuh bulan. Selama itu dia tak pernah mendengar suara Ken memanggilnya seperti itu.


Kei melangkah mendekati Ken, "Apakah ini benar suamiku?" tanya Kei untuk memastikan bahwa yang dihadapannya itu benar Ken, suami Overnya yang sangat dia cintai. Menatap lekat-lekat mata Ken yang memerah.


"Aku suamimu. Aku datang untuk menjemput kalian."

__ADS_1


"Maafkan aku, Honey. Maafkan aku." ucap Ken dengan mata yang berkaca-kaca.


Kei menggeleng, lalu menubruk tubuh Ken, memeluknya dengan tangis bahagia. Bahkan Kyura yang ada di gendonganya ikut menangis kencang.


"Maafkan aku, Sweety." ucap Ken berkali-kali meminta maaf. Tapi Kei tidak menjawab sekalipun. Seorang istri yang sangat merindukan kehadiran suaminya, mengeratkan pelukan. Seolah beban berat yang ditanggung sudah terangkat.


"Aku merindukan kalian." ucap Ken.


"Bahkan selama tujuh bulan aku lebih merindukanmu. Aku.. Aku benar-benar lelah hidup sendirian." ucap Kei lirih.


"Maafkan aku. Selama tujuh bulan melupakan kalian."


Pelukan mereka merenggang setelah Kyura menangis kencang dan memukuli tubuh Ken.


Setelah pelukan itu melonggar, Ken dengan jelas bisa melihat putranya. Kio bahkan tak bergeming dari tempatnya berdiri.


Tidak mau menyambutnya dengan pelukan atau suara manjanya.


"Jagoan Dad." Ken lebih dulu memanggil seperti panggilan sayangnya.


Kio tetap tak bergeming, memandangi ayahnya dengan pandangan yang sulit dimengerti. Ada kerinduan, kemarahan, juga kekecewaan menjadi satu.


"Io bukan jagoan Dad!" tolak Kio.


Ken terdiam, penolakan dari Kio benar-benar membuatnya sakit. Inikah sebuah tebusan mahal untuk kesalahan yang tidak disengaja.


"Kyura, itu Daddy sudah datang Nak." kata Kei pada Kyura yang ada di gendongannya. Kyura menyembunyikan wajahnya ditubuh Kei.


Hati Ken kembali hancur, kedua anaknya menolak kehadirannya. Kini ia harus sekuat tenaga berjuang memenangkan hati keduanya.


"Io, maafkan Daddy." Ken mendekati Kio dan meminta maaf, berharap putranya mau memaafkan kesalahan yang tidak disengaja.


"Daddy melupakan Io, Io juga melupakan Dad." ucap Kio.


Ucapan Kio mampu membuat Ken berkaca-kaca. Ia menggeleng keras, tidak setuju dengan perkataan Kio.

__ADS_1


"Daddy membuat Mom menangis setiap malam. Daddy melupakan Mom, Io dan Adik Yura. Io benci dengan Dad. Daddy tidak mau memeluk dan menjemput Io. Io benci dengan Dad." teriak Io dengan disela tangisannya. Anak kecil itu masih belum mampu mengontrol kondisi jiwa dan hanya melampiaskannya dengan tangisan dan pukulan seperti pada saat Ken mengusir mereka. Kio masih sangat kecewa atas kejadian itu.


__ADS_2