
Akio pulang ke rumah pukul 6 sore. Baru memasuki rumah sudah di hadang oleh Mommy Kei.
"Io, baru pulang, Nak?"
"Iya, Mom." Akio mendekat dan mencium tanga. kanan Mommy-nya.
"Sayang, kamu nggak ngerasa kehilangan sesuatu?"
Akio mengerutkan kening. Kenapa Mom tanya begitu? Apa Mom tahu aku kehilangan dompet?!
Melihat Akio diam. Kei mengeluarkan dompet dan memberikan pada Akio.
"Ini dompet Io? Apa tadi lupa nggak kebawa? Atau jatuh di rumah?" bingung Akio.
"Bukan semua. Kamu itu teledor! Dompet mu tadi jatuh di jalan. Untungnya ada perempuan muda, baik hati, yang mau anter dompet mu ke rumah. Sepertinya isi dompet masih utuh. Tapi coba kamu cek," kata Kei.
Akio membuka dompet dan memeriksa keseluruhan. "Iya, masih utuh, Mom. Baik banget mau ngembaliin ke sini," timpal Akio memuji.
Kei mengangguk. "Tadi Mom mau kasih imbalan buat ucapan terima kasih tapi dia juga nggak mau. Dia seumuran kamu. Siapa tadi namanya, Mom lupa." Kei menggerakkan bola mata ke atas demi mengingat-ingat sebuah nama. "Na ... em ... Na, siapa ya?"
"Na na na ...." Akio justru menyahut dengan candaan. Begitu di iringi dengan gelak tawa.
"Hush! Kamu ini! Mom lagi inget-inget namanya." Kei melirik Akio yang masih tertawa tanpa suara. "Ohya, sekarang Mom inget! Namanya Naya. Iya, namanya Naya."
"Uhuk ... uhuk ...." Akio tersedak ludah sendiri hingga terbatuk-batuk. Kaget begitu Mommy Kei menyebut nama Naya.
"Naya kesini buat ngembaliin dompet Io?" ulang Akio memastikan.
"Hem. Kamu udah tahu Naya?"
"Naya temen kuliah Io," jawab Akio.
"Oh. Dia baik banget, ya." Kei manggut-manggut.
•
Hari berganti begitu cepat. Tinggal berapa hari lagi Naya dan yang lain akan wisuda. Perempuan itu sudah tidak sabar untuk hari spesial yang di tunggu.
__ADS_1
"Naya, di minum dulu mumpung masih anget," titah ibu Naya yang membuat minuman.
Sejak pulang kerja Naya langsung terkapar lemas di atas kasur. Hal itu membuat ibu Naya khawatir. Apalagi wajah Naya benar-benar terlihat pucat.
"Nay, besok kita ke bidan buat periksa kesehatan. Ibu takut kamu kena penyakit bahaya," ujar ibu Naya.
"Nggak papa, Bu. Naya mungkin cuma kelelahan aja."
Ini bukan awal bulan. Naya tahu keuangan sedang menipis untuk persiapan wisuda yang akan di gelar satu Minggu lagi. Dia belum menjahit baju kebaya, juga menebus uang iuran dari pihak kampus. Ibu juga belum dibelikan baju untuk acara wisuda nanti. Intinya, bulan ini masih banyak kebutuhan dan dan menghabiskan uang banyak.
"Maafin Ibu yang nggak becus cari uang. Kamu sampai kelelahan bekerja gara-gara Ibu." Perempuan berumur kisaran 50 tahun itu menitikkan air mata. Merasa gagal memenuhi kebutuhan Naya dan menyusahkan putrinya dengan bekerja paruh waktu untuk membiayai kuliah sendiri.
"Ibu jangan bilang begitu. Ibu juga jangan sedih. Naya jadi ikut sedih. Ibu yang terhebat bagi Naya. Melanjutkan kuliah adalah keinginan Naya sendiri, jadi Naya harus bertanggung jawab dengan keputusan yang Naya ambil." Naya menggenggam tangan ibunya. Tak kuasa membendung rintikan air mata. Sejak beberapa bulan terakhir terusir dari tempat tinggal lamanya, Naya dan ibunya hanya tinggal berdua. Mereka saling menguatkan dalam pelukan.
Setelah pelukan melonggar. Ibu Naya berkata sesuatu yang membuat Naya menegang.
"Mungkin kamu mau kedatangan tamu bulanan. Biasanya juga gitu kan? Kamu sakit perut dan lemas. Persediaan soft*** masih enggak? Nanti Ibu belikan."
Deg! Jantung Naya seolah terhenti menyadari bulan kemarin dan bulan ini tidak kedatangan tamu bulanan. Oh, My God.
•
Jingga sore membentang indah di angkasa. Semilir angin menerbangkan helaian rambut ke sana kemari. Wajah ceria yang tak letih menyungging senyum kebahagiaan. Baginya sangat sempurna.
"Aku bahagia," ucapnya lirih yang bisa didengar oleh pria di sampingnya. Namun, bergeming. Tak membalas apapun.
"Kak ...." Zee menunduk dan fokus memegang jemari Akio. Pria itu membalas menatap Zee.
"Makasih ya, mau nemenin Zee ke tempat indah ini. Dari lama Zee pengen bermalam di villa, tapi baru sekarang kesampaian. Itupun Tante Mommy yang buat jadwal."
"Kita menginap berdua gini udah kayak honey mood, deh." Zee tersenyum malu.
"Zee, berpikirmu jauh banget. Emang kamu mau kita bulan madu sekarang?"
Zee mengerutkan kening. Detik berikutnya pipinya merah merona. Malu. Otaknya jelas traveling. "Kalau nggak ada halangan, dua bulan lagi kita menikah, Kak." Perkataan Zee seolah mengingatkan bila sebentar lagi mereka sudah menjadi pasangan halal. Mungkin tidak masalah bila sedikit berbuat yang lazim dilakukan orang-orang pacaran. Misal, ciuman, pelukan. Hanya sebatas itu, bukan selebihnya.
Akio tersenyum. "Hem. Kita akan menjadi pasangan halal. Tapi masih AKAN, Zee. Belum halal beneran kalau belum sah."
__ADS_1
"Kakak benar, masih AKAN. Apa semua berjalan lancar sampai terdengar kata 'sah'? Kita dekat, sangat dekat, tapi kenapa Zee ngerasa makin jauh ...."
Jauh nggak ngenalin Kakak lagi. Sangat beda dari yang aku kenal dulu.
"Ssstttt ... jauh bagaimana? Dari dulu kita dekat sekarang makin dekat. Bahkan bentar lagi tak terpisahkan." Akio tersenyum lebar. Entah dia serius atau hanya sekedar mengimbangi perkataan Zee.
Zee bergeser lebih dekat dengan Akio. Menatap dengan sayu. Kini meraih sebelah tangan Akio untuk kembali di genggam. "Apa Kakak mencintaiku?"
Akio membalas tatapan tanpa berkedip. Lekat memindai wajah perempuan yang selama ini selalu ada dan mengejarnya. Tatapan sayu itu membuat Akio tak tega untuk berkata jujur. Tak tega untuk menyakiti. Memilih menjawab dengan anggukan.
Sudut mata Zee berkaca-kaca. Baru ini mendapat respon langsung dari pengerannya. Sungguh, kadar kebahagiaanya makin bertambah. Kebimbangan tadi hilang seketika.
Kebahagiaan yang dirasa terlalu membuncah, membuat Zee tak sadar telah memeluk tubuh Akio dengan erat. "Katakan, Kak. Zee ingin mendengar langsung dari Kakak," pintanya.
"A-aku juga mencintaimu, Zee."
Aku akan berusaha mengganti peran Kakak menjadi pasangan. Kenapa kamu harus jatuh cinta dengan pria sepertiku, yang mudah tergoda. Apa kamu masih cinta begitu tahu aku sudah ... bersama Naya?
Naya lagi. Naya lagi. Kenapa harus muncul nama dan kejadian itu ketika sedang bersama Zee. Membuatnya bersalah dan merasa sangat bre ng sek.
Setelah pelukan itu melonggar, Zee memejamkan mata. Memberi kesempatan pada Akio untuk melakukan hal apapun.
Akio tahu apa yang diharapkan Zee. Mendekatkan wajah dan membiarkan bibir mereka bersentuhan. Seketika jantung Zee berdebar kencang. Ini yang pertama baginya, tetapi sayang, bukan yang pertama bagi Akio.
Semakin terpejam, semakin terbuai, justru semakin jelas bayangan Kanaya terlintas.
Fucking! Lupakan Akio! Lupakan! Sekarang hanya ada Zee dalam hidupmu. Lupakan yang terjadi dengan Naya. Itu bukan kesengajaan.
Ciuman terlepas. Zee langsung menunduk untuk menyembunyikan rona malu. Seperti ini rasanya ciuman? Jantungku? Jantungku terasa sakit berdebar-debar tak karuan. Tapi aku bahagia. Oh, Kak Io. Zee tersenyum-senyum.
"Jangan malu-malu begitu, Zee."
"Emang kenapa, Kak?"
"Kalau kamu malu-malu di depan cowok, bisa habis kamu di makan."
"Heh? Emang Kakak psikopat mau makan aku? Ada-ada aja."
__ADS_1
"Bukan makan tubuhmu. Tapi makan sesuatu berharga darimu."