Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kio yang Manja


__ADS_3

Melihat putranya sudah tertidur pulas, Ken mengajak Kei untuk beristirahat.


Keduanya berjalan menaiki anak tangga.


"Lihat, putra kita sudah besar tapi tetap saja masih minum susu pakai botol begitu?" kata Kei dengan senyuman.


Ken yang menggendong putranya juga memperhatikan.


"Jangan salah, Kio mirip denganku. Dulu sampai umur 7tahun aku baru lupa dengan botol susu begini. Sampai Mami menyembunyikan botol susu dibawah lemari." kata Ken dengan tersenyum lucu.


"Huh, pantas saja Kio begitu, ternyata Daddy nya dulu juga seperti itu." kata Kei.


Keduanya sudah sampai didalam kamar, Ken menurunkan Kio diranjang khusus miliknya. Bocah berumur 4tahun lebih masih ingin tidur disatu kamar dengan kedua orang tuanya.


Kamar yang disiapkan menganggur begitu saja. Kio terbiasa bangun ditengah malam untuk meminta dibuatkan susu, dan jika bukan Kei yang membuat bocah itu tidak mau meminum.


Hal itu juga yang menjadi pertimbangan Kei, ia terlalu sayang pada putranya. Ia pun merasa keberatan jika Kio tidur dikamar sendiri.


Berbeda dengan Ken, ia yang merasa keberatan. Waktu untuk berduaan dengan Kei harus berkurang karna gangguan dari Kio.


Bahkan 2babysister tidak bisa membujuk Kio untuk tidur dikamar sendiri.


Apalagi yang Ken bisa lakukan selain membiarkannya begitu saja. Dia juga selalu memanjakan Kio dan tidak tega jika putranya menangis.


"Honey, putra kita sudah tertidur." setelah mencium Kio. Ia beralih memeluk tubuh Kei dari belakang.


Kei yang sedang menaruh botol susu diatas meja sedikit tersentak dengan pelukan dari Ken.


"Memangnya kenapa?" tanya Kei pura-pura tidak tau. Padahal ia paham dengan kode itu.


"Ayo kita buat adik untuk Kio. Dia selalu meminta adik bayi seperti adiknya Ze." kata Ken dengan memejamkan mata, menikmati kehangatan yang mengalir.


Saat ini Dewi sudah mengandung lagi, seringkali Dewi mengajak Ze untuk berkunjung kerumah Kei dihari libur.


Saat itu Ze selalu pamer pada Kio, bahwa ia sebentar lagi punya adik, untuk itu Kio selalu merengek meminta perut Mom nya agar buncit seperti Mamanya Ze.


Kio ingin merasakan tendangan dari adik bayi seperti yang dirasakan saat menyentuh perut Tante Dewi.


"Tapi aku masih takut, tunggu 2atau 3tahun lagi. Biar Io juga semakin besar, saat ini ia masih terlalu manja dan belum bisa mandiri masih sangat merepotkan." jawab Kei.


"Ada 2babysister yang akan menjaga putra kita," Ken sibuk dengan aktivitasnya.


"Walau ada 2babysister, apa putramu mau digendong selain aku dan kau?" Kei melirik kearah Ken.


Hanya hembusan nafas yang terdengar.

__ADS_1


Sebenarnya bukan hanya Kio yang menginginkan kehadiran makhluk kecil, Ken menaruh harapan besar agar Kei segera hamil.


Jangan lupakan jiwa iri Ken masih ada, apa yang Lee punya ia juga harus punya.


Saat ini Dewi hamil lagi, berarti tangan kanannya itu sudah akan mempunyai 2putra. Ia juga ingin Kei hamil lagi, agar sama dengan Lee.


"Kita lakukan proses pembuatan anak, tapi jangan dibuat berhasil." kata Kei.


Ken mengangguk antusias, mendapat izin dari Kei membuatnya semangat untuk menengok sarang milik Kei.


Burung gagak itu sudah berpuasa selama satu minggu karna Kei kedatangan tamu bulanan, baru kemarin Kei bersuci.


Saat ini Ken sangat bersemangat menyalurkan napsu yang menggebu, ia menyerang bibir Kei dan mengabsen bagian dari tubuh Kei.


Ketika Kei berisik, Ken akan menghentikan suara Kei dengan bibirnya. Ia tak mau ditengah kenikmatan yang mendera tapi tiba-tiba Kio terbangun.


Proses itu cukup lama dan berhasil. Keduanya terkapar diatas ranjang tanpa sehelai benang. Keadaan lampu yang gelap gulita. Ken sengaja mematikan, agar disaat Kio terbangun, anaknya tidak melihat langsung adegan dewasa.


Deru napas bersahutan, dalam gelap Ken mencium kening Kei dengan dalam. "Terimakasih Honey. I love you." ia membisikan kata cinta.


Dalam gelap itu Kei mengangguk dan tersenyum, meski tak terlihat tapi kebahagiannya mewakili senyum cerahnya.


"Dad, Mom, gelap.... Hua..." Kio terbangun dan langsung menangis. Dalam kamar itu gelap gulita tanpa ada sinar apapun.


"Cepat hidupkan lampunya!" perintah Kei.


"Tapi kita belum memakai apapun." jawab Ken.


"Ya ampun, dimana lagi pakaianku." Kei meraba-raba diatas bed, tapi tak menemukannya.


Sedangkan Kio masih menangis.


"Sayang, ada Daddy disini. Kio jangan takut." Ken bersuara.


"Io takut, Dad. Io mau digendong Daddy." ucap Kio disela tangisnya.


"Sepertinya ini celana mu, cepat pakailah." perintah Kei lagi. Ia memberikan celana yang diduga milik suaminya dan menaruh diatas perut Ken.


"Tapi ini celana cuma celana luar, ****** ******** mana?" Ken meraba-raba kain celana itu.


"Masih mikir celana da**m juga. Cepat pakai dulu, kasihan Kio menangis terus. Nanti Mami dan yang lain datang, bisa lebih kacau."


Ken berdecak, sebenarnya ia tidak mau tapi tak ada pilihan. Ia segera memakai celana pendek dan menghidupkan lampu temaram.


Sedangkan Kei menutup seluruh tubuh dengan kain selimut.

__ADS_1


Ken menghampiri Kio dan duduk pinggir bed.


"Jagoan Daddy sudah besar masih cengeng." ucap Ken, tangannya menghapus sisa arimata dipipi Kio.


"Kio takut gelap Dad," tangisan Kio sudah berhenti, tubuh mungilnya mendekap Ken dengan erat.


"Io mau tidur sama Daddy,"


"Tentu, sini Daddy peluk. Kio harus tidur lagi ya."


Kepala Kio mengangguk, ia mulai berbaring lagi. Ken mengusap-usap rambut kepalanya dengan pelan. Tapi kedua bola mata itu tak juga terpejam.


"Kenapa?" tanya Ken.


"Io mau susu dalam botol"


"Ah, kau ini... sudah besar masih saja mencari botol itu."


"Io mau susu dalam botol." Kio merengek.


"Baiklah Daddy buatkan." Ken yang tadi berbaring, ingin beranjak duduk. Tapi Kio mencegah.


"No! Io mau minum susu buatan Mom!" pintanya dengan suara merajuk.


"Mom sudah bangun sayang, sebentar Mom buatkan susunya dulu." Kei menyahut. Ia sudah memakai pakaian lengkap. Ia menggunakan waktu sebaik mungkin untuk kembali memakai pakaiannya.


"Iya Mom," jawab Kio.


"Dasar, sudah besar masih saja manja. Kalau Kio mau adik bayi, harusnya sudah bisa mandiri." kata Ken.


"Mandiri itu apa Dad?" diumur Kio yang belum genap 5tahun tentu belum mengerti dengan kata mandiri.


"Mandiri itu melakukan apapun dengan sendiri, contohnya, Kio tidur dikamar sendiri. Dan, tidak boleh terlalu manja dengan Mom, karna Mom harus menjaga adik bayi."


Bola mata Kio bergerak-gerak, seolah ia sedang berpikir. Ia memang menginginkan adik, tapi ia juga tak ingin menjadi mandiri seperti yang diajarkan Daddy nya.


"Susunya sudah jadi," Kei mendekat dengan membawa botol susu. Memberikan itu pada putranya.


"Daddy, Io nggak mau mandiri. Io masih mau bersama Dad dan Mom. Aku nggak mau adik bayi." ucapnya dengan cemberut.


Kei langsung menatap kearah Ken.


Ingin mencari tau alasan Kio bisa berkata seperti itu.


Ken belum menjelaskan, ia mengangkat bahu dan kembali menidurkan putranya.

__ADS_1


__ADS_2