
Jam kuliah telah dimulai, namun dosen mereka masuk ke kelas tidak hanya sendiri. Ada perempuan yang mengekor di belakangnya.
"Selamat pagi," ucap sang dosen menyapa.
"Selamat pagi, Pak," jawab para mahasiswa dan mahasiswi serentak.
"Sebelum jam kuliah kita dimulai, Bapak ingin mengenalkan teman baru kalian. Dia pindahan dari Kampus AIN Surabaya." Pak dosen beralih pada perempuan yang berdiri tak jauh darinya. "Ayo perkenalkan dirimu," titahnya.
"Hai semua ... perkenalkan, nama saya Khanaya Rumi Sahila. Kalian bisa memanggilku Khanaya atau Nayya saja." Ketika menampilkan sebuah senyum, gadis bermata teduh itu memiliki lesung pipi di kedua pipinya.
"Hai juga, Nayya." Semua menyambut Khanayya dengan ramah. Kecuali perempuan-perempuan yang merasa tersaingi dengan kecantikan mahasiswi baru itu. Beberapa dari mereka memasang wajah masam.
Berbeda dengan para pria, mereka sangat antusias menyambut Khanayya, bahkan dari mereka tak berkedip demi memandangi wajah ayu Khanayya. Akio satu-satunya pria yang hanya melirik sekilas, lalu sibuk dengan buku mata pelajaran.
"Baiklah kita panggil dengan Nayya saja biar mudah di hapal," sela pak dosen. "Nayya, silahkan duduk di bangku belakangnya Akio."
"Loh, Pak. Kenapa harus di belakangnya Kak Io?" Zee langsung protes. Susah payah dia mengusir beberapa teman perempuannya agar tidak duduk berdekatan dengan pangeran pujaannya, tetapi mahasiswi baru itu justru mendapat kesempatan untuk menempati bangku kosong belakang Akio. Nyebelin banget. Dan sialnya dia terlihat cantik!
"Hanya bangku itu yang kosong. Biar saja Nayya duduk di sana. Langsung kita mulai pelajarannya sekarang. Ini sudah telah 7 menit."
Zee mendekus dengan menahan kesal. Ekor matanya melirik sinis saat Nayya berjalan ke arahnya dan hampir melewati mejanya. Tiba-tiba muncul ide jahil untuk melakukan sesuatu. 'Siapapun gak boleh mengambil alih perhatian Kak Io. Termasuk orang baru sepertimu!'
Sraaakkk!
Buuuukk!
"Auh'!" Nayya terjatuh dan merintih saat kedua lututnya terbentur kerasnya keramik. Gadis itu menahan malu karena beberapa orang menertawai juga menyorakinya. Kecuali dua pria yaitu, pak dosen dan Akio. Akio sendiri hanya menatap datar.
Nayya mengambil tas yang terlempar jauh ke depan, dia lalu melanjutkan duduk di belakang Akio. Pria itu terlihat dingin dan cuek. Nayya pun tak ambil pusing.
Ketukan di papan tulis membuat kegaduhan di dalam kelas berhenti. Pak dosen meminta perhatian murid untuk memulai kelas.
2 jam kelas berlangsung, akhirnya pak dosen harus menyudahi pertemuan mereka dengan memberi tugas, membuat mahasiswa dan mahasiswi mengeluh karena tugas kali ini cukup memusingkan.
__ADS_1
Setelah pak dosen meninggalkan kelas. Akio terlihat mengemasi buku ke dalam tas dan juga akan pergi. Melihat itu, Zee seperti kesetanan memasukan barang dengan asal dan beranjak mengikuti.
"Kak Io!"
Panggilan Alzeena sudah mewakili bila gadis itu pasti mengikuti langkahnya, tetapi Akio cuek dan terus berjalan.
"Kak, buru-buru banget. Apa Kakak mau langsung ke toko buku buat nyari bahan tugas dari Pak Deni?" Zee mencoba mengimbangi langkah Akio. Karena terburu-buru, Zee belum sempat membetulkan letak tas di punggungnya.
"Zee, baru ini kamu bisa jahil." Akio menghentikan jalannya. Dia berbalik, menatap perempuan yang ada tepat di belakangnya, membuat Zee berhenti mendadak. Dia menatap serius.
Alzeena terkesiap, berkedip dua kali dan mencoba setenang mungkin. "Jahil gimana maksud Kakak?" Memilih pura-pura tidak tahu, padahal Zee sudah bisa menebak bahwa Akio sedang membahas kejadian Nayya tadi.
"Aku tahu, kamu yang membuat perempuan tadi jatuh."
Sekakmat!
"Em, itu hanya ... hanya sebagai perkenalan saja, Kak. Ha ha ... gak usah dibahas." Zee terkekeh kecil dan tidak ingin membahasnya lagi. Dia menggandeng lengan Akio namun ditepis. Pria itu berjalan lebih dulu.
Sedangkan gadis bernama Nayya tidak berani meninggalkan kelas sebelum semua temannya keluar. Dia masih terbayang dengan kejadian memalukan tadi. Bukan dia tak tahu ada seseorang sengaja melakukannya. Akan tetapi, statusnya sebagai mahasiswi baru membuatnya enggan memperpanjang masalah.
Keluarga Nayya bukanlah dari orang berada, bisa pindah ke fakultas unggulan sudah menjadi keberuntungan baginya. Untuk itu dia tidak meladeni seseorang yang sengaja mencari gara-gara dengannya. Selain itu, dia tidak mau terkena masalah yang nantinya bisa mempengaruhi beasiswa dan kelancaran kuliahnya.
Nayya hanya ingin mencari ilmu dan mengikuti wisuda akhir untuk membuat ibunya bangga.
Menatapi sekeliling sudah sepi, Nayya buru-buru keluar kelas untuk segera melakukan hal penting.
•
Seusai penolakan panjang sekaligus dibarengi drama, akhirnya Akio tidak lagi diikuti oleh Zee. Pemuda dengan sejuta pesona itu bernapas lega berhasil memperdaya mis riweh untuk tidak lagi mengikutinya.
Tangan sebelah dibuat mengendalikan setir mobil, sedangkan tangan sebelah digunakan mengetik keyboard hp. Mengirimi pesan seseorang untuk mengajak bertemu di tempat tongkrongan biasanya. Tongkrongan itu tak lain cafe miliknya sendiri.
Hanya 20 menit, mobil sport terbaru yang di kemudikan Akio sudah terparkir di tempat khusus miliknya. Saat masuk ke dalam cafe, Akio langsung disambut oleh segelintir pegawai restoran yang tahu siapa Akio. Namun, hal itu tidak semua pegawai tahu, karena Akio sendiri yang menyuruh mereka bungkam.
__ADS_1
Pria itu terlalu malas menjadi sorotan di mana pun berada. Laiknya artis, memiliki fans di mana-mana yang justru membuatnya tidak nyaman.
Akio menaiki anak tangga menuju ruangannya. Tetapi, belum sampai meraih handel pintu, deringan ponsel membuat langkah kakinya terhenti. Tertera nama 'Q' membuat Akio buru-buru menjawab telepon.
"Ada apa, Princess?"
"Kakak di mana? Mommy pingsan, Kak!" teriakan panik dari seseorang di ujung sana.
"Apa? Mommy pingsan?! Sekarang bagaimana? Mommy di mana?" Akio sangat terkejut.
"Mommy udah dipindah ke kamar. Aku cuma sama oma."
"Daddy?"
"Daddy ada pertemuan di luar kota. Pulangnya nanti malam."
"Syukurlah," ucap Akio berganti membuat seseorang diseberang bingung sekaligus terheran-heran.
"Kok malah ngucap syukur sih Kak?"
Akio menghela napas panjang. "Daddy akan kesetanan kalau tahu Mommy pingsan. Sudah, Kakak akan segera pulang. Nanti kita bawa Mommy ke rumah sakit," ujarnya.
"Oh. Baik, Kak."
•
Di rumah megah hampir setara dengan mansion, kaki Akio melangkah cepat menuju lift yang langsung terhubung dengan kamar kedua orang tuanya.
Saat pintu dibuka oleh Akio, semua mata tertuju padanya.
"Kakak!" Gadis menggunakan seragam SMA, tak lain adalah adiknya. Satu-satunya adik kesayangan yang selalu bersikap manja padanya.
Kyunara Almera Kenichi, selisih umur kurang lebih 5 tahun dari sang kakak. Gadis itu tumbuh sangat cantik dengan mewarisi 60 persen garis wajah daddy-nya. Gadis manja, pendiam dan mudah cengeng, membuat Kyu sangat dijaga dalam keluarganya. Tidak ada yang berani menyakiti keturunan Kendra Kenichi.
__ADS_1