Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Tikus dan Lubangnya.


__ADS_3

Berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit. Fikiran yang bercabang kemana-mana. Kini bukan hanya tuan Ken saja yang sedang kacau, tapi sekertaris Lee juga merambat kacau.


Setelah pertemuan bersama tuan Ken tadi, yang membahas tentang burung gagak hitam vs sarangnya sekretaris Lee mulai kehilangan fokus. Ia meminta izin pada tuan mudanya untuk pulang.


Dijalanan yang sedang padat merayap susah untuk berkonsentrasi. Beruntung sekertaris Lee bisa selamat sampai rumah.


"Istri... suami pulang." teriaknya. Tak berapa lama pintu terbuka dan terpampang senyum merekah dari sang istri yang menyambut dengan suka cita.


Tapi tidak seperti biasanya, sekretaris Lee langsung masuk kedalam tanpa membalas senyuman dari Dewi. Dewi memperhatikan langkah suaminya yang terlihat lemas. Ia mengikuti dari belakang.


Ketika Lee menjatuhkan tubuh diatas sofa, Dewi mengikuti gerakan itu.


"Suami, kamu kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi? bukankah tadi baik-baik saja?" cecar Dewi. Bukannya menghidangkan minuman atau camilan, justru menanyakan dengan berbagai pertanyaan. Ia tak bisa menunda rasa penasaran itu.


"Istri, bagaimana kalau kau lahiran dengan Cesar saja?" tidak mengindahkan pertanyaan Dewi, ia berganti memberi pertanyaan.


"Memang kenapa? aku ingin melahirkan normal seperti Kei." tolaknya.


Lee langsung menoleh, menatap dengan kengerian. Bukan muka Dewi yang menjadi objek, hanya saja bayangan dari cerita tuan Ken tadi masih mendominasi pemikirannya.


"Sayang, melahirkan normal itu banyak resikonya." Lee berkata dengan serius.


"Tapi kita sudah sepakat, kalau aku akan melahirkan normal, kemarin kamu juga yang mendukungku. Kenapa sekarang tiba-tiba berubah pikiran?" selidik Dewi. Merasa aneh dengan suaminya.


"Eum... aku takut sarangmu nanti digunting." akhirnya Lee keceplosan. Memberitahu seperti yang diceritakan tuan Ken tadi.


"Sarang apa? apa yang digunting?" pemikiran orang normal tentu tidak akan mengerti dengan kata kiasan seperti itu. Respon Dewi jelas sama dengan yang lainnya, yaitu bingung, heran dan penasaran.


"Begini," Lee menelan air ludah dengan susah payah. "Eum, itu mu 'kan kecil, lalu bagiamana bisa mengeluarkan bayi seperti baby Kio? nanti anumu digunting." ucapnya memandang kearah Dewi.


Respon Dewi diluar dugaan, istrinya tertawa terbahak-bahak. Membuat Lee kebingungan.


Setelah puas tertawa, Dewi berganti memandang kearah suaminya. "Dengarkan aku, anu seorang wanita memang kecil, tapi dia berbentuk elastis yang bisa mengembang saat mengeluarkan kepala bayi. Dan itu memang salah satu keajaiban yang dimiliki wanita. Kamu nggak usah takut, kita pasrahkan saja semuanya pada yang diAtas. Melahirkan Cesar atau normal itu sama saja, karna sama-sama berjuang demi kehidupan nyawa yang baru. Hanya saja, ada kebanggaan tersendiri saat wanita bisa melahirkan secara normal karna bisa merasakan nikmat kesakitan untuk berjuang. Sudah, nggak usah takut dan berpikir aneh. Meskipun digunting mungkin itu yang memang harus dilakukan, tapi, semoga saja tidak. Percaya saja sama dokter, mereka sudah hapal menangani setiap wanita melahirkan." panjang lebar Dewi menjelaskan.

__ADS_1


Tak sesuai pemikiran Lee, ternyata istrinya lebih dewasa dan lebih paham. Padahal ia sendiri sudah ngeri setengah mati, tapi Dewi bersikap tenang.


Lee memeluk Dewi, mencari ketenangan seperti sikap istrinya. Dewi yang akan melalui proses persalinan, tapi dia yang takut. Itu semua cerita dari tuan Ken yang membuatnya parno.


"Sekarang aku sedikit tenang, tadi aku membayangkan seperti yang diceritakan tuan Ken. Huh... mengerikan." ucapnya.


Dewi menanggapi dengan senyuman. "Aku mencoba berpikir positif, kamu jangan menakut-nakuti ku."


"Tidak, aku tidak akan mengingat cerita tuan Ken. Aku yakin, tuan muda hanya menakut-nakutiku saja." wajah pucat Lee berangsur hilang. Kini pikirannya sudah berangsur normal, meski masih berkelebat bayang ketakutan, tapi ia mencoba menepis.


Dewi beranjak dari duduknya. Tangan Lee yang ada diatas pundaknya harus terlepas.


"Kau mau kemana?" tanya Lee.


"Mau buat minuman. Tunggu sebentar." Dewi sudah berjalan menuju kedapur.


Lee menyangga dagu dengan kedua tangannya, ia mencoba berpikir positif seperti sang istri.


Tak butuh waktu lama, Dewi sudah kembali dengan secangkir teh dan kue bolu yang dihidangkan diatas piring kecil. Menaruh itu diatas meja dihadapan suaminya.


Lee mengambil cangkir teh yang masih mengepul asap panas, ia menyeduh dengan pelan.


Setelah menyeduh teh panas, ia sudah bisa tersnyum. Mengangkat tangan kanan, menyentuh dan mengusap perut Dewi untuk menyapa calon anaknya. Itu hal yang sering ia lakukan, bagai rutinitas yang tak bisa ditinggalkan.


"Anak Pap-pap lagi apa?" Lee mengajak calon anaknya untuk berinteraksi. Tersenyum saat merasakan tendangannya.


"Lagi bobok, Pap pap." Dewi yang menjawab dengan menirukan suara anak kecil.


"Mam mam, setelah aku pikir-pikir, kita harus sering main kuda-kudaan." ucap Lee dengan menaik turunkan kedua alisnya.


Pipi Dewi menyembul rona kemerahan, ia tengah malu. Ia paham dengan kata kiasan main kuda-kudaan.


"Memang kenapa?" Dewi terlihat malu-malu, meski mereka sering melakukan hal itu tapi tetap saja menggelikan saat mendengarnya langsung.

__ADS_1


"Belajar dari pengalaman tuan Ken. Setelah kau melahirkan aku juga harus berpuasa 42 hari."


"Puasa?" ulang Dewi.


"Iya. Sesudah melahirkan kita tidak bisa main kuda-kudaan. 'Kan sarangmu cedera."


Lagi-lagi Dewi menanggapi dengan tertawa lebar. Ada-ada saja suaminya. Meski semua yang diucapkan benar, harusnya tidak sekarang mempraktekkannya. Umur kehamilannya masih 7bulan, bukankah masih lama untuk proses persalinan.


"Kamu lupa, kehamilanku masih 7bulan, masih lama proses melahirkan. Jadi tidak perlu sering melakukannya."


"Tapi sering main kuda-kudaan dari sekarang tidak pa-pa 'kan, nanti kalau kau melahirkan, kepala tikusku tidak akan lupa lubangnya."


"Ih... apaan sih. Geli ah.." Dewi mencubit lengan tangan suaminya. Dia malu untuk menanggapi.


"Jangan malu-malu begitu, aku jadi gemas. Nanti tikusku bangun."


"Sudah, jangan diteruskan. Mandi sana, bau." Dewi mengusir keberadaan Lee, lebih tepatnya ingin menyudahi obrolan ngawur itu.


"Ayo, kita mandi bersama." Lee tersenyum menggoda.


"Tidak. Aku sudah mandi tadi." tolak Dewi.


"Mandi doubel. Nanti jatah tikusku juga doubel ya." Lee tak mau menyudahi obrolan itu, ia ingin menggoda istrinya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Enggak! capek." jawab Dewi singkat. Semakin diladeni maka suaminya itu semakin berbicara asal.


"Kau tinggal berdiri, biar aku yang kerja." Lee merayu. Awalnya ingin menggoda, tapi melihat istrinya yang malu-malu membuatnya ingin.


Buk...


Dewi memukul lengan suaminya lumayan keras, hingga Lee meringis kesakitan. Berharap mendapat kenikmatan malah mendapat pukulan.


"Mandi nggak? kalau nggak mandi, nanti malam tidak ada kesempatan tikus masuk lubang."

__ADS_1


"Baiklah-baiklah, aku mandi sekarang." mendengar ancaman itu, Lee segera bangkit. Ia harus menuruti perintah Dewi, daripada nanti malam tikusnya keluar tapi tak bisa menemukan lubang. Bisa gawat.


__ADS_2