
Hening. Detak jarum jam mengambil alih suasana mencekam di antara dua insan yang merasa canggung untuk memulai percakapan.
Kanaya, dengan keadaan terbaring lemah tidak bisa bergerak bebas dan hanya menghela napas panjang setelah melirik sekilas seorang pria yang duduk di sampingnya.
"Kamu yang membawaku ke sini?"
Akio mengangguk pelan.
"Bagaimana kamu tahu tentang keadaanku?"
"Aku sudah mengirim pesan kalau aku ada di depan rumahmu, tapi sepertinya kamu belum sempat membaca pesanku. Sebelum aku pergi, aku mendengar ibumu berteriak, setelahnya melihat keadaanmu sudah begitu jadi aku langsung membawamu ke rumah sakit." Akio menjawab sambil fokus melihat tangan kiri Naya.
Naya ikut memperhatikan apa yang di lihat Akio, seketika mengingat kembali apa yang sudah terjadi tentang jalan pintas yang diambil untuk mengakhiri masalah besarnya.
Sudut mata Naya kembali mengeluarkan air mata. Ia menoleh berlawanan arah agar Akio tidak melihatnya menangis, tetapi itu jelas tidak mungkin.
"Kamu sampai nekat melakukan ini, berati benar kalau kamu memang sedang ... ha-mil?" Akio bertanya dengan suara tercekat, meski telah mengetahui dan yakin bahwa perempuan di depannya sungguhan tengah berbadan dua, namun ia ingin mendengar langsung dari mulut Naya.
Namun Naya tak sanggup untuk menjawab, ia hanya memejamkan mata dengan kembali meneteskan kristal bening. Jika Akio peka, pria itu pasti tahu jawabannya tanpa bersuara.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku? Ini bukan masalahmu sendiri, tapi masalahku juga. Kita tahu apa yang sudah kita lalui ...."
Mendengar itu Naya langsung menoleh, memberanikan diri untuk menjurus pada manik Akio yang juga tengah menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.
"Dan, maaf. Sekali lagi aku ingin meminta maaf," sambung Akio. Ia berhenti sejenak. Setelah mengatur napas, dan kembali berkata, "aku akan bertanggung jawab."
Deg! Kembali detak waktu yang mengambil alih. Hingga menit telah berlalu, akhirnya Akio memperjelas.
"Iya, aku akan bertanggung jawab untuk menikahimu," jelasnya karena melihat Naya hanya membisu, dan lebih merespon dengan air matanya.
Daddy, mommy, entah apa yang akan ia jelaskan pada ke dua orang tuanya. Terlebih Zee dan keluarganya, mereka pasti syok dan kecewa. Akan tetapi tak ada pilihan, ia tak bisa bersikap seperti pecundang dengan membiarkan Naya kebingungan atas masalahnya yang jelas-jelas ditimbulkan oleh mereka berdua. Ia harus bertanggung jawab untuk janin yang sedang tumbuh di rahim Naya.
"Enggak!"
Jawaban Naya membuat Akio terperanjat.
"Kamu nggak perlu menikahiku. Aku nggak mau menjadi perusak hubunganmu dengan Zee. Dua bulan lagi kalian akan menikah." Naya kembali memejamkan mata.
Harusnya ia senang Akio mau bertanggung jawab, tetapi ia tahu, keadaan tidak akan membaik dengan bersatunya mereka, kemungkinan terburuk justru semakin pelik karena Akio sendiri sudah akan menikah dengan Zee. Ia tak memiliki mental untuk muncul di tengah keluarga Akio ataupun Zee dengan status sedang mengandung anak Akio. Dan meminta pertanggung jawaban. Tidak!
__ADS_1
"Kamu nggak perlu bertanggung jawab dan nggak perlu menikahiku. Anggap saja tidak ada apapun."
Akio mendengus dan menggeleng tidak percaya. Bagaimana Naya mengatakan anggap saja tidak ada apapun. Apa dia tidak memikirkan nasib janinnya?!
"Nay ...."
"Itu jalan keluar satu-satunya, dengan begitu semua nggak akan ada yang berubah dan nggak ada yang akan kecewa. Bukan hanya Zee, tapi kedua orang tuamu pasti kecewa kalau tahu tentang kebenaran ini."
"Tapi, Nay ...." Lagi, ucapan Akio terus diserobot oleh Naya.
"Setelah aku membaik, aku janji akan pergi dari kota ini. Dan, biarkan semua menjadi rahasia, sampai dewasa dan sampai kapanpun, dia tidak akan tahu siapa ayah kandungnya."
"Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu, Nay?!" ujar Akio dengan tak percaya. "Apa kamu tidak memikirkan masa depannya?" Kata 'masa depannya' yang dimaksud adalah masa depan calon anak mereka.
Naya terdiam. Bukan! Bukan ia tak memikirkan nasib masa depan anak yang dikandungnya, akan tetapi ia tak punya jalan keluar. Menurutnya hanya itu yang terbaik, tanpa mengecewakan banyak orang. Terutama Zee.
"Aku tahu. Tapi apa kamu juga tidak memikirkan masa depan Zee, ataupun kekecewaan orang tuamu?!"
"Ku mohon, jangan beritahu siapapun. Cukup kamu dan aku yang tahu."
Akio hampir membuka mulut, tetapi dering ponsel mengalihkan fokusnya. "Halo, Mom?"
"Io masih ada urusan. Sebentar lagi pulang."
'Katakan kamu di mana, biar pengawal menyusulmu. Kalau tidak, Dad akan telepon paman Tama untuk melacak posisimu.' Kali ini bukan Kei yang berbicara, melainkan Ken.
"Nggak perlu disusul, Dad. Io akan pulang sekarang."
'Sayang, hati-hati dijalan, Mom dan Dad menunggumu.'
'Iya, Mom.'
Sambungan lalu diakhiri. Setelah menyimpan ponsel ke dalam saku, Akio kembali melihat Naya.
"Sorry, aku harus pulang dulu. Pembicaraan kita belum selesai, besok aku akan kemari lagi," pamit Akio. Terpaksa, ia tak mau daddy Ken sungguhan menelpon ahli IT untuk melacak keberadaanya, maka semua akan terbongkar dengan waktu yang kurang tepat.
Naya mengangguk.
"Banyak istirahat, jangan berlarut-larut. Bukan cuma kamu, tapi ini juga masalahku. Ku harap kamu jangan egois untuk memikirkan jalan keluarnya sendiri," pesan Akio. Lagi-lagi Naya hanya mengangguk.
__ADS_1
Akio berjalan ke pintu. Sebelum menekan handel, ia menolehi Naya, perempuan itu memejamkan mata, membuatnya sedikit lega dan segera keluar.
Di depan masih ada ibu Naya dengan Tika, tak lupa untuk berpamitan.
"Sekali lagi terima kasih, ya, Nak," ucap ibu Naya.
"Iya, Bu." Akio tersenyum menunduk sebentar sebelum berlalu. Entah mengapa setiap melihat wajah ibu Naya, rasa bersalah terus bergejolak.
Keluar dari pelataran rumah sakit, Akio mencoba fokus mengendarai mobil meski banyak hal yang dipikirkan. Sampai deringan ponsel kembali menyita perhatiannya.
"Sudah tengah malam dia belum tidur," gumamnya. Ia memasang earphone untuk menjawab telepon tanpa harus menepi.
"Halo ...."
"Kakak di mana? Kata tante Mom, Kakak belum pulang?" Zee langsung menyembur dengan pertanyaan.
"Ini lagi di jalan mau pulang."
"Nggak biasanya Kakak pergi sampai selarut ini."
"Tadi ada urusan mendadak di cafe," kata Akio. "Kamu belum tidur?"
"Hist, gimana Zee bisa tidur kalau tahu Kakak dari tadi belum pulang. Tapi sekarang denger suara Kakak baik-baik aja, Zee udah tenang."
"Ya udah, tidur sana. Jangan sampai besok pagi bangun tidur punya mata panda."
Di seberang Zee terkekeh. "Iya-iya, udah ini Zee langsung tidur. Kakak hati-hati ya."
"Hem."
"Selamat malam, Kak. Mimpi indah."
"Aku masih di jalan, Zee."
"Ist, tahu. Kan nanti kalau Kakak mau tidur."
"Oh, oke-oke. Selamat malam dan mimpi indah juga buat kamu."
Melihat foto profil Zee yang tengah tersenyum bahagia, membuat Akio terbebani rasa bersalah luar biasa.
__ADS_1