
Mami Lyra tidak kuat menahan berat tubuh Kei, hingga Kei tergolek dilantai. Mami Lyra berteriak memanggil Lee yang masih mendampingi Ken.
Mendengar namanya dipanggil, Lee segera meminta izin untuk menemui mami Lyra.
Lee yang baru membuka pintu begitu terkejut melihat nona mudanya pingsan.
"Nona," Lee segera menutup pintu dan menghampiri Kei dan bergerak cepat untuk menggendongnya.
"Kalian bo doh! melihat Nona Muda kalian tidak sadarkan diri kenapa kalian diam saja!!" Lee masih sempat memarahi pengawal yang ada didekat pintu, memandang tajam dan terlihat sangat marah.
"Ma maafkan kami, sekretaris Lee. Kami tidak ada yang berani menyentuh Nona Muda, takut Tuan Ken marah dan menggelar sidang untuk kami." salah satu pengawal memberanikan diri menjawab, meski mereka takut melihat tangan kanan bosnya itu marah, tapi mereka harus menjawab.
Tidak lagi meladeni alasan konyol dari pengawal, Lee sudah berlalu untuk memindahkan Kei ke ruang lain.
"Cepat panggil Dokter." ucapnya sambil berlalu.
Pengawal itu bergerak cepat untuk mencari dokter seperti perintah Lee barusan.
Mami Lyra menggandeng tangan Kio mengikuti dibelakangnya Lee.
Masalah satu belum selesai kini ada lagi yang muncul.
Mungkin jika Kendra Kenichi tidak hilang ingatan sampai besok pun Lee juga tidak berani menyentuh tubuh Kei.
Tapi mulai satu jam yang lalu semua berubah, bahkan Ken sendiri yang mengusir Kei dari ruangan rawatnya.
Lee menaruh Kei diatas brankar, Lee membawa Kei ke ruang rawat lainnya dengan jarak satu kamar saja.
Dokter dan perawat sudah datang dan langsung mendekat. Perawat mempersilahkan Lee, mami Lyra dan Kio untuk menunggu di luar. Tapi Kio merengek ingin menemani mommy nya.
Dengan lembut Lee membujuk Kio dan menggendongnya untuk keluar.
Ketika menunggu di luar mami Lyra terduduk lemas dengan tangannya yang mendekap tubuh mungil Kyura.
"Bagaimana ini, kenapa semuanya jadi begini? kasihan Kei dan Kio." mami Lyra seolah berbicara pada dirinya sendiri. Menundukkan pandangan ke wajah Kyura. Tak sampai hati melihat nasib cucu-cucunya yang pasti ikut merasakan kesedihan.
Lee mendudukan diri dikursi tunggu yang berjarak satu kursi kosong. Kio masih tetap berada dipangkuannya.
__ADS_1
"Sabar Nyonya, meski pun masalah datang silih berganti, tapi semua pasti ada penyelesaiannya. Kita harus mencari jalan keluar dan mencari tindakan terbaik agar ingatan Tuan Muda segera kembali." Lee menyahut pembicaraan mami Lyra.
"Iya, kau benar Lee, semua ada penyelesaian dan jalan keluarnya. Tapi aku tidak tega melihat Kio dan Kyura yang ikut merasakan kesedihan. Apalagi Kio.... satu minggu ini selalu menunggu Daddy nya bangun. Ketika Ken sudah berhasil melewati masa kritis dan kembali sadar semua malah jadi begini." mami Lyra bersedih.
"Bahkan Ken melupakan anak-anaknya." imbuhnya dengan suara bergetar.
Lee menunduk memperhatikan wajah Kio, dia pun merasakan kesedihan yang dialami mami Lyra.
Lee tahu yang dirasakan Kio karna dulu dia pernah mengalami, meskipun kisahnya berbeda tapi ada kesamaan, yaitu sama-sama tidak mendapat kasih sayang.
Untuk Kio masih ada harapan Ken bisa pulih dan ingat kembali pada keluarganya, jika dirinya dulu tidak ada harapan untuk bersama keluarganya.
Dalam hati terus berdo'a mencari jalan keluar untuk kesembuhan Ken, ia bertekad mencari kesembuhan Ken meski mencari ke ujung dunia. Karna Ken dan keluarganya masih menjadi prioritas kedua setelah keluarganya sendiri.
"Oma jangan nangis, Kio takut." ucap Kio lirih. Tergambar rasa takut dan sedih diwajahnya yang sendu.
"Enggak Sayang. Oma udah nggak nangis. Io takut apa?" mami Lyra bertanya lembut.
"Mommy nangis, terus pingsan. Kalau Oma nangis nanti Oma juga pingsan." ternyata itu ketakutan Kio.
"Enggak Sayang, Oma kuat, nggak akan pingsan. Oma kan jagain kamu sama Adik bayi." jawab mami Lyra untuk menenangkan ketakutan Kio. Masih kecil pun Kio sudah mampu berpikir seperti itu, hati mami Lyra semakin tercubit mendengar perkataan cucunya.
"Bagaimana Dok?" kali ini Lee yang bertanya.
"Tidak pa-pa Sekretaris Lee, tidak ada yang serius. Nona hanya kekurangan suplemen nutrisi dan juga banyak pikiran, jadi tekanan darahnya rendah." terang dokter.
Lee mengangguk.
"Apa Kei akan lama dirawat disini?" tanya mami Lyra.
"Tidak Nyonya, begitu tekanan darah Nona sudah naik dan cairan infus sudah habis, Nona sudah boleh pulang. Tapi harus menjaga gizi dan juga tidak boleh banyak pikiran. Akan mempengaruhi kondisi tubuhnya yang akan kembali lemah." dokter itu menjeda sebentar.
"Nona Kei juga sedang menyusui, harus makan makanan bergizi dan tidak boleh terlalu banyak pikiran bisa berpengaruh pada bayinya." pesan dokter.
"Baik Dok, saya akan lebih mengawasi Kei. Terima kasih Dok,"
"Sama-sama Nyonya. Nona sudah sadar, jika anda ingin menemui, silahkan. Didalam juga masih ada Perawat. Saya permisi." kata dokter itu dan berlalu dari hadapan mami Lyra dan Lee.
__ADS_1
Mami Lyra menghembuskan napas dan mulai masuk ke ruang Kei.
Kei tengah berbaring dengan tubuh yang lemah. "Kei.." mami Lyra lebih mendekat ke ranjang Kei.
"Mi, maafin Kei ya, Kei jadi ikut merepotkan Mami." Kei merasa tidak enak hati. Ketika mami Lyra sudah mendekat, Kei meminta maaf.
"Tidak Sayang, kamu sama sekali tidak merepotkan." mami Lyra mengelus punggung tangan Kei.
"Mom," panggil Kio, ia masih berada digendongan Lee.
"Sini, Sayang." jawab Kei melambai dan menyuruh Kio duduk disampingnya.
Lee menurunkan Kio di ranjang samping Kei.
Kei menyambut Kio dan mendekap dengan sebelah tangannya.
"Maafin Mom, gara-gara Mom, Io nggak jadi pulang."
"Io mau pulang sama Oma atau Paman Lee? hari ini boleh main ke rumah Zee dan bermain seharian bersama Zee." bujuk Kei.
Kei ingat permintaan Kio yang ingin pulang ke rumah, tapi karna keadaanya yang lemas Kio masih harus menunggu.
"Io nggak jadi pulang, mau nemenin Mommy, disini." Kio membatalkan keinginannya. Melihat mommy nya terbaring lemah, bocah itu ingin menemani Kei saja, meskipun pulang ke rumah,tidak ada siapapun karna semua berada dirumah sakit.
"Tidak ingin bermain ke rumah Zee?" Kei bertanya lagi. Membujuk Kio untuk mengalihkan kesedihannya.
"Tidak. Io disini bersama Mom." tangan Kio memeluk tubuh Kei.
"Sekretaris Lee, boleh minta tolong?" tanya Kei.
"Minta tolong apa, Nona?" Lee berganti bertanya.
"Tolong bilang pada Dokter aku ingin pulang sekarang." meski badannya masih sangat lemah, demi Kio Kei ingin pulang saja.
"Tapi Nona, kata Dokter anda belum boleh pulang. Tunggu cairan infus itu habis dan kondisi anda membaik." Lee menolak.
"Aku bisa dirawat di rumah." tegas Kei.
__ADS_1
"Baiklah." Lee mengangguk dan keluar untuk menemui dokter. -