Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Do'a di Bawah Langit Jingga


__ADS_3

Seorang laki-laki tengah duduk di atas kursi roda dengan pandangan menunduk. Rasa bersalah hinggap di relung hati ketika melihat seseorang yang selalu ada untuknya sedang menangis. Miris, ia sendiri yang menjadi penyebab sang istri menangis.


Dari semenjak mulai mencintai wanita itu, Ken sudah berjanji akan selalu membuatnya tersenyum. Tapi apa? hari ini, tanpa sengaja ia telah menyakiti hati Kei.


Apa yang bisa ia lakukan selain menerituki kebodohannya. Ia yang tersadar hanya teringat dengan almarhum Olive, menyesal dan menyalahkan diri atas keteledorannya dimasa lalu. Tanpa ia mengerti, sikapnya telah menyakiti perasaan Kei.


Keduanya terdiam ditempat ia berpijak masing-masing.


Kei larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Sedangkan Ken larut dalam rasa bersalah.


Ken mencabut selang infus yang ada dipunggung tangan. Lee ingin mencegah tapi tidak mungkin bisa, apa yang dilakukan tuan mudanya ketika kalut memang seperti itu. Bertindak semaunya tanpa bisa dicegah.


Berjalan tertatih-tatih untuk mendekati Kei, ia ingin menghapus airmata itu dengan senyuman.


Tiba-tiba saja Ken menjatuhkan lututnya diatas tanah, membuat Kei terlonjak kaget. Terkejut, Kei sangat terkejut saat Ken bersujud padanya.


Shok yang mendera, Kei membisu dalam tangisan. Kelopak mata yang sudah membengkak karna lamanya menangis hanya mampu berkedip.


Ketika sadar, ia segera menghapus airmata itu dan tersenyum. "Sayang, kenapa kau kemari? lukamu akan bertambah parah. Kau terjatuh, aku bantu untuk duduk. Dimana sekretaris Lee, kenapa tidak mengantarmu?" serentet pertanyaan yang keluar, Kei bersikap biasa. Ia sangat khawatir jika luka pada bahu Ken akan bertambah parah. Ia harus berpura-pura baik, tidak akan memperlihatkan kesedihan dan kekecewaannya. Meski sulit, tapi ia harus bisa.


Ia harus menjadi wanita dewasa, tidak boleh egois seperti anak kecil. Ia akan memaklumi sikap Ken. Setelah merenung, tak akan membahas dan memperpanjang semuanya. Cukup disimpannya dalam hati, seperti itu sikap pendewasaan.


Tangan Kei memegang lengan tangan sebelah kiri, ia melakukan gerakan untuk membimbing Ken duduk diatas kursi.


Ken menggeleng, ia menjatuhkan kepalanya diatas pangkuan Kei.

__ADS_1


Kei terdiam, dibiarkan tangan itu tak bergerak.


"Maafkan aku, Honey," ucapnya lirih.


"Maaf untuk apa, sayang?" tanya Kei pura-pura tak mengerti. Ia tak ingin menebak sesuatu yang belum pasti, Ken tidak tau keadaanya, mungkin ia hanya meminta maaf untuk hal lain. Ia tak ingin terpancing untuk mengatakan kejujuran yang dirasa.


Ken mendongak, kedua bola mata itu terarah lurus memandang mata Kei.


Kei tersenyum manis kearahnya, membuat rasa bersalah semakin besar. Betapa tulus wanita itu menjaga perasaannya, ia yang terluka dan kecewa masih bisa memberikan senyum tulus.


Menyembunyikan rasa sakit demi memberinya sebuah senyum.


Ken menggenggam punggung tangan istrinya. "Aku sudah menyakitimu."


"Kau tidak menyakitiku, bahkan kau sudah menyelamatkanku. Jika bukan karna mu, mungkin aku yang akan tertusuk pisau itu. Terima kasih, kau selalu menjagaku dengan baik." ucap Kei dengan berkaca-kaca.


"Kau tidak perlu menutupi rasa sakitmu. Ungkapkan semua yang kau rasa. Beri aku hukuman yang setimpal untuk kesalahanku."


"Sayang, kau ini bicara apa? untuk apa aku memberimu hukuman, kau tidak melakukan kesalahan apapun." Kei masih tetap menyangkal.


Ken beralih memeluk tubuh Kei dengan erat, bahu yang terluka itu terasa sakit. Mungkin sudah mengeluarkan cairan merah dan kulit yang tertarik menyebabkan bekas jahitan itu terbuka lagi.


Mengabaikan rasa sakit dipermukaan kulit, Kei lebih sakit dari rasa sakit yang dialami.


Ia ingin menebus rasa sakit yang dirasakan istrinya.

__ADS_1


"Jangan menutupi dengan berpura-pura kau baik-baik saja. Aku tau kau kecewa padaku. Untuk itu, maafkan aku."


Berada dalam pelukan Ken membuat dada Kei semakin sesak, inilah pelukan yang ia nantikan sejak Ken tersadar tadi. Harusnya pelukan hangat itu bisa didapat sejak pertama suaminya membuka mata. Disaat itu ia merasa langsung merasakan kebahagiaan tanpa harus menelan kepahitan.


Beberapa saat menikmati pelukan hangat, keduanya mulai merenggangkan pelukan. Kei langsung menunduk, ia tau kini kantung matanya mulai membengkak lagi. Wajah sembabnya tertutup dengan rambut yang menjuntai kebawah.


Gerakan tangan tak henti menghapus airmata.


Tangan Ken terangkat menyapu rambut hitam itu dan menyelipkan diantara daun telinga.


"Berhenti menangis dan berikan aku hukuman. Jika kau seperti ini, aku sangat kesakitan. Maafkan keegoisanku. Aku tidak bermaksud membuat lubang kesakitan. Tadi hanya bentuk penyesalan karna tidak mengusut lebih jauh tentang kematian Olive.


Sekian lama kejadian itu, baru hari ini semua terungkap. Aku menyesal dan menyalahkan diri atas keteledoran ku dengan pekerja dirumah yang justru menjadi musuh untuk orang-orang yang ku sayangi. Maafkan aku, kuharap kau mengerti." ucap Ken dengan pandangan sendu.


Kei mengangguk tapi tak sanggup untuk menatap kedua mata Ken.


"Aku sudah memaafkanmu. Mungkin aku yang seperti anak kecil, belum dewasa dalam berpikir. Harusnya aku tak seperti ini. Hanya saja, entah rasanya aku ingin menangis saat kau seolah tak membutuhkan ku, tak menginginkan kehadiranku. Lebih membutuhkan orang lain untuk berbagi keluh kesah mu. Mungkin aku egois, aku ingin menjadi prioritas utamamu. Dalam keadaan apapun."


"Kau selalu menjadi prioritas utamaku. Aku tidak mungkin menceritakan penyesalanku padamu, karna akan menyakitimu. Untuk itu aku menyembunyikan dan memilih bercerita pada orang lain." jawab Ken jujur. Ia memang tak mungkin berbagi cerita tentang Olive, karna membuat Kei sakit. Tapi tanpa sadar jika yang dilakukannya tadi juga salah.


"Kau tidak perlu menyembunyikan perasaanmu atau keluh kesah mu padaku. Bercerita lah, aku siap menjadi pendengar setia dan menjadi petuah untuk masalahmu. Itu lebih membuatku dihargai, daripada kau mengabaikan kehadiranku. Seolah aku hanya menjadi pendamping tanpa bisa menjadi sahabat atau orang terpenting. Masa lalu hanya masa lalu, apalagi almarhum Olive sudah berada dialam ketenangan. Aku tidak akan mempermasalahkan perasaanmu untuknya. Aku yakin, dia punya tempat tersendiri di hatimu. Kalian terpisah karna takdir maut bukan karna kesalahan lain. Aku bisa memaklumi."


"Kenapa kau bisa berpikir sedewasa ini? aku beruntung memilikimu. Terima kasih dengan sikap dewasa mu, aku bisa belajar banyak hal. Dan untuk masa lalu tetap menjadi masa lalu. Tetaplah menjadi masa depan yang selalu mendampingiku."


Kei tersenyum dan mengangguk. Ken kembali mendekap tubuh Kei dari samping. Seakan beban berat yang dirasa tadi menghilang.

__ADS_1


Dibawah langit senja yang indah, cinta itu masih tetap bertahan. Untuk kedepannya lebih bertambah, ketika akan ada badai pun semoga takkan goyah. Itu sekecil do'a dihati keduanya. Do'a yang disaksikan langit jingga diufuk barat.


Meski langit jingga mulai menghitam, tapi cinta mereka takkan gelap, akan semakin bersinar terang seperti bulan purnama.


__ADS_2