
"Ibu, perkenalkan, saya ibunya Akio," ucap Kei memperkenalkan diri sekaligus menjawab kebingungan ibu Naya yang heran mengetahui kedatangannya.
"Anak muda ini bernama Akio?" tanya Ibu Naya memandang Akio dengan raut bingung dan seolah mengingat-ingat sesuatu. Memang sejak semalam ia belum mengetahui nama Akio karena tak sempat menanyakannya. Tetapi nama itu rasanya ia pernah mendengar.
Akio terhenyak, bagaimana ia melupakan bahwa ibu Naya belum tahu siapa dirinya, juga belum tahu fakta yang sebenarnya. Lalu ... apakah nanti akan syok, marah juga kecewa seperti reaksi keluarganya dan paman Lee?
Ya Tuhan ... Akio ingin mengeluh. Rasanya ia lelah dan tak sanggup untuk menyaksikan lagi kekecewaan dari orang-orang yang bersangkutan. Ia hanya bisa tertunduk lesu nan suram, menantikan hal selanjutnya. Dan hanya berpasrah kalaupun ibu Naya murka dengan memakinya.
Di sisi lain, Kei melirik Akio dengan kening berkerut. Tidak mengerti dengan reaksi ibu Naya yang bahkan belum tahu nama putranya. Ia hanya menebak-nebak kalau ibu paruh baya di depannya jangan-jangan belum tahu kebenarannya. Dan, berikutnya gelengan kepala Akio menjadi jawaban.
Kei menghela napas berat, itu artinya ia harus berbicara hati-hati.
"Terima kasih, Nak Akio dan Ibu menjenguk anak saya," ucap Ibu Naya dengan napas teratur dan mulai sedikit tenang. Isak tangis yang tadi terdengar sudah mereda. Ia tak berhasil mengingat nama Akio dan memilih melupakan rasa penasarannya.
"Sewaktu Ibu baru kembali ke rumah sakit, Ibu kaget karena kondisi Naya dikatakan sangat mengkhawatirkan, dia sempat pendarahan dan hampir ke ... em, maaf." Ibu Naya menghentikan kalimatnya karena hampir keceplosan membongkar keadaan Naya.
"Pendarahan?! Lalu bagaimana dengan bayinya?" Akio reflek bertanya juga tak bisa menyembunyikan kepanikannya.
"Bayinya masih bertahan, tapi kondisi Naya benar-benar harus dipantau secara intensif. Kalau dia kembali pendarahan, kemungkinan terburuk bayinya bisa lahir lebih cepat dan ada riwayat cacat bahkan bisa menyebabkan meninggal," terang Ibu Naya.
"Tapi, bagaimana kamu tahu kalau Naya hamil? Maaf, apa semalam kamu mendengar pembicaraan ibu dengan ibu yang semalam ikut mengantar Naya?" selidik ibu Naya penasaran.
Kei dan Akio saling pandang, dari sorot mata Kei, ia memberi isyarat untuk meminta izin mengatakan kebenaran pada ibunya Naya. Akio yang tak bisa berpikir lagi hanya mengangguk pasrah.
"Ibu ... maaf sebelumnya karena saya ingin menjelaskan suatu penting tentang anak saya juga anak ibu ...."
"Suatu penting?! Maksud Anda?" ucapan Kei yang belum selesai dipotong cepat oleh ibu Naya. Raut wajahnya sudah terlihat tidak bersahabat. Dari kalimat 'anak saya juga anak ibu' pikiran ibu Naya sudah paham akan menjurus kemana. Bahkan kelopak mata yang baru beberapa detik terlihat jernih, kini mulai memupuk cairan bening.
__ADS_1
"Saya sebagai ibunya Akio, meminta maaf sedalam-dalamnya atas perbuatan anak saya yang telah menghamili anak ibu."
"Apa!?"
Deg! Ibu Naya terhuyung satu langkah ke belakang sambil memegangi dadanya. Terlihat kesulitan bernapas karena terlalu syok.
Perawat sigap mendekati dan menuntun ibu Naya untuk duduk. Pantas ia tak asing dengan nama Akio. Ia baru ingat kalau Naya kemarin menyebut nama itu sebagai pria yang menghamilinya.
"Ja-jadi ... ka-mu ayah dari bayi yang dikandung Naya?" tanya ibu Naya lirih dan terbata.
"Mohon maafkan saya, Bu," ucap Akio penuh sesal. "Tapi saya akan bertanggung jawab untuk menikahi Naya," imbuh Akio.
Ibu Naya menunduk dalam dengan isak tangis tertahan. Semalam ia sangat bersyukur dan berterima kasih pada anak muda yang dinilainya sebagai penolong, akan tetapi kebenaran barusan membuatnya tak karuan.
Ternyata anak muda itu juga yang menjadi penyebab putrinya melakukan kenekatan.
Kei meminta bantuan untuk berpindah ke samping ibu Naya dan mengelus bahunya pelan, menenangkan.
Akio memang terdiam, namun hatinya bagai tercabik-cabik taring tajam melihat dua perempuan paruh baya menangis sangat sedih karena ulahnya. Andai ... dia hanya bisa berandai-andai jika waktu dapat berputar kembali, dia tentu tidak akan membiarkan nafsu menguasai diri. Hingga hal mengecewakan ini tidak terjadi.
Di sisi lain, mata Naya memang terpejam, namun sudut matanya tak dapat dicegah untuk mengalirkan cairan bening. Yah ... sebenarnya ia telah sadar saat Akio dan Kei datang, namun dia enggan dan memilih berpura-pura terpejam.
Teringat kembali dengan Zee, dia merasa sangat bersalah. Semua gara-gara pria itu. Andai Akio tidak kekeuh bertanggung jawab dan memberitahukan semuanya pada kedua orang tuanya, Zee tidak dan semua orang tidak akan tahu. Rahasia akan tetap aman. Dia menerutuki kebodohan Akio.
"Ibu merestui hubungan mereka?" tanya Ibu Naya.
Kei mengangguk. "Saya setuju."
__ADS_1
"Tapi aku tidak!" Suara penolakan begitu lantang membuat semua orang mengarah ke sumber suara. Seseorang berdiri di tengah pintu.
"Dad?"
"Sayang?" Kei dan Akio berbarengan mengucap.
"Aku tidak setuju mereka akan menikah begitu saja."
"Akio, apa kamu yakin itu darah dagingmu?!" Pertanyaan Ken membuat semuanya terkejut. Bahkan Naya yang masih berpura-pura belum sadar begitu sakit hati dengan ucapan Ken.
Harga diri Naya terluka, karena Ken meragukan janin yang dikandung bukanlah darah daging Akio. Padahal Akio tahu, sewaktu malam panas itu terjadi, dia masih perawan. Harusnya percaya bahwa itu anak Akio.
"Dad!"
"Jawab pertanyaan, Dad!"
"Io ingin bicara," pinta Akio. Dia berjalan menuju ayahnya untuk diajak keluar dan dia akan menjelaskan kejadiannya.
Pada saat Akio mengajak Ken keluar, Naya tak bisa lagi berpura-pura terpejam. Isak tangisnya didengar ibunya juga Kei.
"Nay, kamu sudah sadar?" Ibu Naya sampai beranjak dari duduknya. Mendekati putrinya dan mengelus lengannya.
Kei yang sedari tadi terfokus dengan ibu Naya sampai tidak memperhatikan Naya. Begitu melihat, Kei sedikit terkejut karena teringat Naya pernah datang ke rumah untuk mengembalikan dompet Akio. Dia masih mengingat Naya dengan jelas.
'Pantas saja Akio tergoda, dia memang cantik.' Kei masih sempatnya membatin.
Naya mencoba bangun, tapi ditahan ibunya.
__ADS_1
"Kamu sama sekali nggak boleh bergerak dulu. Takutnya darah bisa keluar lagi."
"Ibu ...." Naya menangis, menyembunyikan wajahnya di pinggang sang ibu. Rasanya dia ingin berteriak memberitahukan rasa sakitnya.