
Pria dengan penampilan berantakan itu berdiri di depan pintu. Bukan depan pintu di istana barunya yang di tempati bersama Naya. Bukan! Melainkan rumah megah di mana dia di besarkan.
Pintu di buka oleh pelayan yang masih terjaga. Pelayan sampai terbengong melihat Akio datang hampir di tengah malam dengan penampilan tidak biasa.
"Tu-tuan Muda ... silahkan masuk. Saya akan bangunkan Tuan Besar," ucap pelayan dan berlalu dari hadapan Akio.
Pelayan yang sudah sampai di depan kamar Tuan Ken tak langsung mengetuk daun pintu. Pelayan itu berjalan kesana kemari karena bingung memikirkan cara bagaimana untuk membangunkan si pemilik rumah.
Bukan karena apa, larangan keras menganggu waktu istirahat sang majikan. Siapa yang melanggar, pasal berlapis siap di layangkan. Aturan dari Tuan Ken tidak pernah berubah.
Tok ... Hanya sekali pelayan mengetuk pintu. "Bagaimana ini?" ucapnya bingung. "Tapi kalau nggak dibangunkan, kasihan tuan muda, sepertinya sedang ada masalah."
Tok ... tok ...!
"Tuan ... Nyonya ...!" Akhirnya pelayan itu memberanikan diri melanggar aturan di rumah itu, bukan sengaja, dia kasihan dengan Akio.
"Hei ...! Apa kau sudah lupa dengan aturan di rumah ini?! Mau dipecat saat ini juga. Hah?!" Ken membuka pintu dengan wajah garang. Pria yang selalu benci ketika tidurnya di ganggu.
"Tidak Tuan, jangan pecat saya. Saya tidak bersalah. Saya terpaksa membangunkan Anda karena di bawah ada tuan muda."
"Ada apa Io malam-malam datang ke sini?" sahut Kei yang juga ikut terbangun.
"Kau pergilah!" Ken mengusir pelayan. Menunggu Kei memakai swetter panjang, lalu mereka segera turun ke lantai dasar.
"Astagfirullah ... Io, kamu kenapa, Nak?" Kei jelas terkejut melihat penampilan putranya.
"Kamu kenapa? Ada apa?" ulangnya dengan nada cemas.
Akio memeluk mommy Kei. Jiwanya rapuh setelah berkeliling mencari Naya namun tak membuahkan hasil.
"Na-ya ... pergi dari rumah."
__ADS_1
"Apaaa?!" Kali ini lebih membuat Kei terkejut. Bahkan Ken juga bereaksi sama.
"Pergi bagaimana maksudmu?"
Kei mengusap rambut dan bahu Akio bergantian. Berharap bisa sedikit menenangkan, sebagai seorang ibu, dia tak tega melihat putranya dengan keadaan demikian. Seperti seorang mengalami syok.
"Duduk dulu, jelaskan dengan perlahan," titah Kei. Akio duduk di samping Kei, lalu mulai menceritakan semuanya.
Kei antusias menanggapi dengan raut terkejut, sedangkan Ken menjadi pendengar.
"Aku nggak tahu, kenapa Naya tiba-tiba pergi." Setelah menjelaskan semuanya, Akio mengakhiri ceritanya.
"Tadi siang Naya datang ke sini, dia tidak cerita apapun pada Mom. Karena Mom ada janji dengan Tante Dewi, Mom suruh Naya mengobrol dengan oma. Mom menyuruh Naya menunggu, tapi ketika Mom pulang, Naya sudah tidak ada. Mom pikir, Naya sudah pulang ke rumah mu." Berganti Kei menceritakan kedatangan Naya siang tadi.
"Apa kalian sedang ada masalah?" tanya Ken.
"Tidak, Dad. Sama sekali tidak ada masalah. Baru semalam aku memberi Naya kejutan pesta ulang tahun. Keadaan kami bahkan sangat baik-baik saja," ungkap Akio.
"Dad akan kerahkan semua pengawal untuk mencari istrimu. Kau tenangkan dirimu," ujar Ken berdiri dan pergi ke kamar untuk mengambil ponsel. Dia akan menghubungi beberapa orang untuk mencari Naya, termasuk menghubungi Lee. Bahkan Anton ataupun Tama, juga akan tak luput untuk dimintai bantuan melacak ke beradaan gps ponsel Naya.
Akio bermalam di rumah daddy Ken. Kembali ke rumah pun rasanya percuma karena dia tahu Naya masih tetap tidak pulang.
Keesokan harinya.
Kantor Taisei Comporation dI tinggalkan 3 pemimpin besar. Ken, Akio, dan Lee sibuk mencari Naya. Menelusuri kembali jalanan yang kemarin sempat dilalui Naya. Bukan itu saja, Ken menyuruh orang-orangnya untuk mengecek CCTV yang mengarah ke jalanan. Siapa tahu menemukan sebuah petunjuk.
Tindakan itu tidak bisa dilakukan cepat, memerlukan waktu hampir seharian.
Tama yang mendapat tugas untuk melacak nomor telepon, harus kehilangan jejak di titik terakhir Akio kemarin duduk di trotoar. Tepat di sana, ponsel Naya sudah tidak bisa dilacak. Daya ponsel telah dinonaktifkan.
Akio teringat dengan makam almarhum mertuanya. Entah mengapa dia sangat ingin pergi ke sana. Masih kuat memiliki harapan bahwa Naya hanya pergi karena suatu hal. Dan istrinya itu akan segera kembali.
__ADS_1
Dia meminta izin terlebih dulu pada Ken, setelah Ken menyetujui, dia langsung melesatkan mobilnya menuju pemakaman umum dengan jarak sekiranya 3 kilo meter dari rumah Naya, jalanan berbeda arah dari tempatnya sekarang.
Sampai di makam dia harus kembali menelan kekecewaan. Ternyata felingnya salah, karena tak ada tanda-tanda Naya datang ke sana.
Sudah terlanjur sampai di sana, Akio memutuskan untuk berziarah makam sekalian. Tak lupa mendoakan almarhum ibu Naya.
*
Langit telah berubah menggelap, bahkan waktu telah menunjukan hampir tengah malam. Namun, tidak membuat mata Naya kelelahan dan terpejam untuk beristirahat.
Dalam perjalanan jauhnya, perempuan itu hanya melamun dengan tatapan kosong. Tidak peduli dengan keadaan sekitar yang bising dengan suara-suara dari penumpang lain.
Meski dia sendiri lelah menangis, akan tetapi air mata itu seakan tidak pernah surut. Sesekali masih menetes dan membuat pipinya basah.
"Maafkan, aku. Aku hanya berusaha menepati janjiku. Kamu bukan milikku, akan ku kembalikan kamu pada pemilik yang sesungguhnya," ucapnya lirih.
Naya menggenggam kalung liontin dengan erat. Satu-satunya barang pemberian Akio yang di bawanya pergi. Bukan karena tergiur dengan harga liontin yang mencapai milyaran rupiah, dia hanya ingin menyimpan liontin itu sebagai kenang-kenangan.
Dia tak memikirkan apapun, entah nanti di kota baru dia harus tinggal di mana dia pun tak tahu. Uang yang di bawa tidak banyak, hanya cukup untuk bertahan hidup beberapa bulan saja.
Namun, dia sudah menyerahkan urusan rumah kepada Dina. Ketika nanti rumah itu sudah laku terjual, Dina akan mentransfer ke rekeningnya.
Hari yang dilalui benar-benar terlalu lelah bagi Naya. Bukan hanya lelah fisik, tapi hatinya ikut lelah. Bahkan beberapa kali dia mendesis, ketika perutnya terasa kencang dan kram. sempat khawatir takut mengalami pendarahan lagi. Namun, sejauh ini dia dan bayinya masih bertahan.
Kelelahan membuat Naya tertidur, hingga dia merasakan goncangan di bahunya.
"Kita sudah sampai, Nona."
"Oh, iya. Terima kasih." Naya bergegas bangun dan antri untuk turun. Ketika keluar dari kendaraan, ternyata hari telah berganti pagi.
Dia menghela napas panjang. Telinganya mendengar orang berbicara dengan kalimat asing. Sungguh, dia datang ke kota itu hanya bermodal tekad saja. Dia serahkan semuanya kepada Tuhan untuk jalan hidup ke depannya.
__ADS_1