
Akhirnya Lee dan Dewi bergabung dimeja tuan Ken. Kei sangat senang bertemu dengan Dewi setidaknya ada teman yang bisa diajak berbincang-bincang, sedangkan para dua lelaki itu terlihat berdiam diri. Raut wajahnya terlihat kesal.
"Apa kau sudah menemukan candumu, Lee?" pertanyaan dari tuan Ken membuat Lee bingung akan memberi jawaban apa.
"Belum tuan muda, sedang dalam pencarian." Lee tidak mau terlalu jujur. "Pencarian? lalu ada berapa kandidat wanita sebagai calonnya?" Ken penasaran. 'Kenapa tuan muda seperti mengintrogasi ku?' Lee membatin. "Tidak ada kandidat lain tuan, intinya aku dan teman nona Kei hanya berteman." Lee menjawab. "Teman? tetapi terlihat dekat?" kembali melayangkan pertanyaan. "Em... kami hanya tidak sengaja bertemu dijalan, dan kebetulan sudah waktunya makan malam saya mengajak teman nona Kei sekalian makan malam disini." berharap tuan Ken berhenti bertanya.
"Kau itu tidak pandai berbohong! aku bisa membaca pikiranmu!" hanya gertakan saja. Secepatnya Lee melihat kearah tuan mudanya, mencari kebenaran apakah benar yang diucapkannya jika tuan Ken bisa membaca pikiran! lalu kapan tuan Ken mempelajari ilmu itu?. Lee dibuat bingung dengan pemikirannya sendiri.
"Kau tenang saja, aku akan mendukung mu. Sudah waktunya kau merasakan candu." Ken tersenyum tipis. Kedua wanita itu juga asik dengan perbincangannya sendiri.
"Benar begitu tuan muda? apa setelah ini saya boleh sering meminta izin?" Lee terlihat senang. "Boleh, aku tinggal memotong gajimu." dengan kikuk, kesenangan Lee lenyap begitu saja. Sebaik apapun tuan mudanya tetap tidak lupa dengan ancaman atau kata-kata yang terdengar menyakitkan.
Ketika mereka asik berbincang, ada 2orang yang baru datang. Viona terlihat berbinar melihat lelaki pujaan ada di Restauran yang sama. Sedangkan Tristan terlihat enggan untuk masuk dia menarik Viona untuk pergi dari sana, tetapi Viona berganti menarik tangan kakak sepupunya dan menghampiri meja tuan Ken.
"Oho... hallo Ken." tersenyum memandang kearah tuan Ken, menyapa dengan ramah. Ken tidak bergeming tetapi raut wajahnya begitu kesal. Kei melihat kearah Viona dan mengerutkan dahi, dia tidak tau wanita itu siapa tetapi dia tau disamping wanita itu ada Tristan. Tanpa dipersilahkan Viona sudah duduk dikursi samping tuan Ken, Tristan menahan kesal dengan ulah adik sepupunya yang tidak tau malu. Tetapi dalam hati terasa panas karna melihat Kei makan malam bersama dengan rivalnya, sampai saat ini Tristan belum tahu jika mantan temannya itu sudah resmi menjadi suami Kei, wanita yang dia suka sejak pandangan pertama.
"Kita tidak sedekat itu untuk duduk disatu meja." Ken melayangkan nada sinis. "Cuih, gue juga nggak sudi makan satu meja dengan pria brengs*k!" Tristan tidak kalah sinis. Tangan Ken sudah menggenggam kuat.
"Nona Viona, mohon maaf tolong pindahlah dimeja yang lain." Lee mengusir Viona. "Kau mengusirku, Lee? kenapa, aku hanya ingin bergabung dengan Ken sudah lama tidak bertemu." Viona yang bersikap cuek tidak pernah menjaga perasaan orang lain, dia tidak perduli dengan adanya Kei disana. Dia-pun tidak mau tau Kei itu siapa.
"Vio, carilah meja lain!" berganti Ken yang mengusir. "Huh, kalian ini keterlaluan. segitunya kau Ken!" Viona kesal dan bangkit untuk berpindah.
"Pria breng*k seperti itu tidak pantas kau sukai! apa tidak ada lelaki lain yang bisa kau taksir!" Tristan mengomeli adik sepupunya. Mereka berdua berpindah keruang khusus VIP. "Hah, kau ini aneh kak, perasaan suka itu datang dengan sendirinya." Viona menunjukan kekesalan, tidak pernah mendapat restu dari Tristan.
__ADS_1
Tristan terdiam dengan pemikirannya, 'Apa hubungan Kei dan Ken sudah jauh? sampai Ken terang-terangan makan ditempat umum bersama Kei? bersama Olive dulu Ken tidak pernah tampil didepan umum, Ken tidak suka mengumbar privasinya.'
"Kakak kenapa diam saja?" Viona bertanya. "Tidak pa-pa."
"Kakak tau nggak wanita yang bersama Ken tadi?" Viona kembali bertanya. "Tidak tau!" Tristan menjawab singkat. "Hist... kakak ini kenapa sih jadi aneh! sudahlah permusuhan kalian itu diakhiri saja, ingat kita dulu pernah bersama. Melewati hari-hari yang indah, suka duka bersama." ucap Viona mengenang masa kebersamaan mereka. "Lebay..." ucap Tristan. Viona hanya mencebikan mulutnya, keduanya berhati batu.
Dimeja tuan Ken.
"Huh, buruk!" Ken menunjukan kekesalan. Semua yang berada dimeja itu hanya saling memandang, mereka tau jika mood tuan Ken sedang buruk maka orang-orang disekitarnya juga akan buruk.
Para pelayan menghidangkan makanan dimeja mereka, "Silahkan dinikmati tuan, nona. Semoga sesuai selera anda." pelayan menunduk sebentar dan berlalu dari sana.
"Ini pasti enak..." Kei sudah tidak sabar ingin mencicipi semua makanan yang terlihat menggoda. "Makan sesuai biasanya, jangan memakan semuanya!" seperti tau isi kepala Kei yang ingin menghabiskan makanan, Ken lebih dulu mengingatkan aturan makan Kei.
Kei hanya menelan air liur saat melihat makanan yang tidak boleh dimakan tetapi terlihat menggoda. Mereka berempat menyantap makanan.
"Mbak, aku kangen pengen ngobrol banyak kapan-kapan mainlah kerumah." Kei memecah keheningan dimeja itu. "Iya Kei, tetapi aku tidak tau dimana rumah kamu."
"Tanyakan pada, Lee." tuan Ken ikut menjawab. "Saya tidak berani tuan." jawab Dewi. "Kenapa tidak berani? kalian makan bersama saja berani." ucap tuan Ken. Tidak berani menjawab, suasana mencekam.
Selesai menghabiskan makanan mereka keluar dari Restauran, ditempat parkir mobil kedua pasangan itu berpisah karna Lee mengendarai motor.
Ken dan Kei sudah didalam mobil, Kei tidak henti tersenyum. "Kau kenapa?"
__ADS_1
"Ternyata mereka berdua ada sesuatu ya sayang," Kei masih tersenyum. "Heum, kalau tidak terciduk kita tidak akan tahu! dan Lee tidak akan jujur."
"Sekretaris Lee tadi terlihat kesal, mungkin kita mengacaukan rencananya. Hihi..." Kei tertawa lucu. "Bukan rencana mereka saja yang kacau! kita juga!"
"Aku melupakan sesuatu!" ucap Kei. "Apa?" Ken penasaran. "Perempuan yang bernama Viona tadi siapa? apa mantan pacarmu!" senyum yang tadi sudah hilang. "Iya, dia mantan pacar yang paling dekat denganku." tuan Ken sengaja memanasi Kei. Dan benar, Kei langsung membelalakkan matanya. "Huh, mantan pacar?" berpaling melihat keluar jendela. Ken tergelak. "Kau cemburu? haha.." Ken meledek masih dengan suara tawanya.
"Huh, siapa yang cemburu! bolehkah aku berpesan!" ucap Kei melihat kearah tuan Ken.
"Berpesan apa?"
"Buanglah mantan pada tempatnya!" Kei terlihat kesal.
"Hahahaha...." Ken tergelak sangat kencang, lucu melihat istrinya yang sedang cemburu.
"Aku sudah membuangnya ke-Amerika, tetapi mereka berdua kembali lagi kesini."
"Lalu kamu cemburu tidak, saat mantanmu tadi bersama Tristan?"
"Ah, kau mengingatkannya lagi. Aku jadi cemburu, sekarang." Ken belum puas mengerjai istrinya.
"Ah.. turunkan aku disini! aku malas dengan pria yang ternyata masih belum move on!"
"Kenapa sekarang berganti kau yang suka mengancam?"
__ADS_1
"Suka-suka, aku!" Ken hanya menggelengkan kepala dan tertawa kecil.