
Menjelang subuh, kedua pria dewasa berjalan bersamaan dengan bodyguard dibelakang mereka.
Lee mengambil mobil diarea parkir Bandara, membukakan pintu untuk tuan Ken.
"Tuan muda, jika anda lelah tidur saja, nanti akan saya bangunkan." kata Lee melirik lewat kaca spion didepannya. Ken memejamkan. "Lajukan mobil dengan kecepatan penuh Lee, aku ingin segera sampai." ucapnya.
"Baik tuan muda." Lee menambah laju kecepatan mobil. Menguasai jalanan yang lenggang karna hanya ada segelintir kendaraan yang lewat. Ia bisa bebas melaju tanpa hambatan.
Dikursi bagian belakang tuan muda itu tampak kesal, terdengar gerutuan dan sumpah serapah.
Mobil yang dikendarai sudah sampai didepan pintu gerbang, Lee membunyikan klakson mobil beberapa kali agar satpam segera membukanya.
Sampai dihalaman depan raumah tanpa menunggu Lee membukakan pintu, Ken sudah keluar lebih dulu. Berjalan cepat menuju pintu dan menggedor dengan tidak sabaran.
Para pelayan dirumah besar sudah terbangun, karna mendengar gedoran pintu yang keras salah satu pelayan setengah berlari menuju kepintu dan segera membukanya.
"Tuan Ken?" pelayan itu membungkuk hormat, Ken tidak perduli dengan keberadaan pelayan, ia segera berjalan masuk dan menuju kekamarnya.
Setelah memastikan tuan mudanya aman, Lee berbalik menuju pintu dan keluar. Ia juga akan pulang kerumahnya sendiri.
Sampai didepan kamar, Ken segera membuka pintu. Diatas ranjang Kei sedang terlelap dengan bergulung selimut. Didalam box bayi ada baby Kio yang juga terlelap.
Ken berjalan masuk, segera menghampiri Kei dan memeluknya dengan erat.
Mulanya Kei hanya menggeliat, ia seperti merasa ada yang memeluknya dengan hangat tapi ia rasa mungkin itu mimpinya. Tanpa membuka mata, ia melanjutkan tidurnya.
"Honey..." Ken memanggil dengan lembut ditelinga Kei.
Kei mendengar suara itu, tapi merasa tidak yakin jika suara itu nyata milik suaminya. Ia berpikir, Ken masih melakukan perjalanan bisnis tidak mungkin itu suaranya.
"Sweety... aku merindukanmu." ucap Ken lirih.
Itu terdengar nyata, Kei segera membuka mata. Saat menoleh kesamping jantungnya hampir terlepas. "Sa-sayang?" panggilnya terbata.
"Ini beneran suamiku? kamu bukan makhluk jadi-jadian 'kan?" Kei menarik tubuh dan menjauhi sosok suaminya.
__ADS_1
Ken tertegun mendengar ucapan Kei barusan, ia dikira makhluk jadi-jadian!
"Aku suamimu, bukan makhluk jadi-jadian." jawab Ken meyakinkan.
Kei menelisik pria yang ada didepannya, belum percaya jika pria itu adalah suaminya. Ia memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung kepala. Memang semua mirip.
"Hei, aku suamimu Sweety. Ayolah, aku sangat merindukanmu, Honey." ucap tuan Ken sendu. Dari kepulanganya yang mendadak ia hanya merindukan candunya, ingin segera memasuki sarang yang sudah sangat lama tak dijamah.
"Benarkah kamu suamiku?" tanya Kei yang masih belum percaya.
Tak sabar dengan reaksi istrinya, Ken mengambil ponsel dan menelpon Lee. Menyuruh Lee menjelaskan bahwa mereka pulang dengan jadwal yang mendadak.
"Nona Kei, benar yang dikatakan tuan muda. Kami baru pulang beberapa menit yang lalu, dengan jadwal kepulangan yang mendadak." Lee menjelaskan lewat sambungan telpon. Ia baru sampai didepan Apartemen.
"Oh, iya iya baiklah, sekarang aku sudah percaya kalau ini suamiku." ucap Kei. Setelah yakin itu suaminya, Kei segera mendekat dan memeluk tubuh Ken dengan erat. Ken dengan senang hati menyambut pelukan dari istrinya.
"Maaf ya sayang, aku kira tadi makhluk jadi-jadian. Bukankah kamu pulangnya masih besok malam?" tanya Kei. Ia berada didekapan Ken, menghirup wangi parfum yang menusuk indra penciumannya.
"Sayang, kenapa wangi parfummu berbeda? ini seperti parfum wanita?" Kei menghirup wangi parfum suaminya, ia ingin memastikan bahwa penciumannya tidak salah.
"Mungkin karna aku tadi tak sengaja menabrak seorang perempuan saat berada Bandara jadi parfum wanita itu menempel." Ken terpaksa berbohong. Waktu yang tidak tepat untuk menjelaskan.
Kedua mata Kei bergerak kesana kemari, sebenarnya ia masih ragu. Tapi tidak alasan untuk mencurigai suaminya.
Ken kembali mendekap tubuh Kei, "Honey, aku sudah bisa berbuka puasa?" tanya Ken tanpa melepas pelukannya.
Baru pulang sudah meminta jatah? apakah suaminya benar-benar sudah menginginkan berhubungan badan. Dia baru pulang, bukankah harusnya merasa lelah. Kenapa meminta jatah sekarang? Kei segera menepis pikiran yang tidak penting.
"Iya, dari kemarin aku sudah bersuci. Jadi aku sudah halal buat kau jamah." ucap kei malu-malu.
Tak butuh waktu lama, Ken segera menjatuhkan Kei diatas ranjang. Mencumbui dengan rakusnya, seolah sudah bertahun-tahun birahinya tak tersalurkan.
Waktu yang menjelang pagi tubuh mereka sama-sama basah dengan keringat yang bercucuran.
Kei mendesah nikmat dibawah tubuh suaminya, ia juga menantikan sentuhan dari Ken yang bisa membuatnya melayang ke udara.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama menikmati hasrat birahi yang semakin memuncak hingga mereka mencapai kenikmatan yang tiada tara.
Kei sangat lemas, masih berusaha mengatur nafas yang tersendat karna kelelahan.
Ken memindahkan tubuh disamping Kei. "Honey, aku sangat mencintaimu. Apapun yang terjadi, kita tidak akan berpisah." Ken yang juga sedang mengatur nafas, menerawang langit-langit kamar.
"Aku juga mencintaimu, sayang. Mudah-mudahan cinta kita tetap seperti ini, tidak ada gangguan atau ujian apapun." jawab Kei. Ia juga melakukan seperti Ken, menatap langit kamar.
"Kedepannya, jika ada apapun yang terjadi, percayalah padaku. Hanya itu pintaku." kini Ken mengalihkan pandangannya, menatap Kei dengan pandangan yang dalam. Kei juga menoleh, mereka berdua saling pandang.
Bibir Kei menyunggingkan senyum dan mengangguk.
Ken ikut tersenyum dan menarik Kei kedalam pelukannya.
Beberapa lama menikmati kehangatan tubuh satu sama lain yang masih sama-sama polos, Ken merenggangkan pelukan itu. "Ayo kita lakukan lagi." ajak tuan Ken.
"Apa? lagi?"
"Iya."
Kei menggelengkan kepala pelan, ia tau nafsu suaminya itu besar. Tapi badannya terasa remuk redam, apalagi bekas jalan lahir yang dijahit itu terasa perih.
"Sayang, apa kamu tidak lelah?"
"Tidak Honey, kau lupa ingin memberiku jatah dobel jika burung gagak ku sudah buka puasa." ucap Ken.
"Tap..." ucapan itu terhenti, Ken sudah membungkam mulut Kei dengan lidahnya.
Dan mereka melakukannya sekali lagi, untuk yang kedua ini Ken lebih berhati-hati dan tidak seagresif tadi. Ia bisa menguasai diri agar tidak menyakiti Kei.
Tak terasa jam dinding sudah menunjukan pukul 5pagi. Mencapai puncak untuk kedua kalinya, masih terasa nikmat seperti yang pertama. Mereka baru selesai melakukan hubungan yang kedua kali, tepat saat itu baby Kio menangis.
"Honey, aku mandi lebih dulu, setelah itu berganti kau." kata Ken. Ia berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Sedangkan Kei memakai handuk kimono dan berjalan menghampiri putranya yang sudah terbangun. Mengambil dan menggendong baby Kio untuk dibawa keranjang dan akan memberikan asi.
__ADS_1