Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Dia Kembali


__ADS_3

Setelah selesai bersiap, Ken menggendong baby Kio sedangkan Kei mengikuti dibelakangnya. Ken akan mengantar istri dan anaknya pulang kerumah, setelah itu baru berangkat kekantor.


Sebenarnya bisa saja Kei dan baby Kio pulang dengan Ray dan Mami Lyra, tapi suami over protective itu tidak semudah itu membiarkan anak dan istri pulang tanpa pengawasannya. Meski pun pulang bersama Mami dan adiknya sendiri tetap saja pikirannya tidak tenang. Jiwa posesifnya semakin akut.


Berjalan dengan menggendong jagoan, membuat Ken seperti hot Daddy. Terlihat semakin matang, keren dan berwibawa. Tak heran para staf karyawan saling berbisik bergosip tentangnya.


Ken berjalan dengan santai dengan sebelah tangan yang terus menggenggam tangan istrinya, seolah takut terpisah. Kei paham dengan keadaan sekitar, ia merasa risih dengan staf wanita yang menatap kearah mereka.


Mereka menyapa dengan tersenyum ramah, tapi setelah itu mereka terlihat berbisik-bisik lagi.


Setelah masuk kedalam mobil, Kei mendengus sebal. Raut wajahnya terlihat kesal.


Ken yang melihat menjadi penasaran, hal apa yang membuat mood istrinya buruk. "Sweety, kau kenapa, heum?" tanyanya. Baby Kio masih berada dipangkuannya.


"Seperti punya suami dari kalangan selebritis, mereka pasti mengagumimu." ucap Kei kesal.


Ken menahan tawa, ternyata istrinya sedang cemburu. Lucu sekali.


"Tidak mengherankan, bukan? dari dulu kaum wanita selalu menggilai wajah tampan ku." jawaban Ken semakin membuat Kei kesal.


'Dasar tuan muda sombong!' batinnya, ia melirik sinis.


"Iya berwajah tampan, maka itu aku sedang mencari ide agar wajahmu tidak lagi digilai para wanita." jawab Kei.


Ken tertawa lucu, " Kau mau mencari ide bagaimana, Honey? wajahku ini sudah tampan dari lahir, sama dengan jagoan kita. Baby Kio juga dari lahir sudah tampan."


"Aku rasa jika sedang berada diluar kau harus merubah menjadi buruk rupa." kata Kei dengan semangat.


Ken menyentil dahi Kei pelan, hingga terdengar ringisan dari mulutnya. Kei membalas dengan memukul bahu Ken.


"Kau ini ada-ada saja. Wajah tampan malah ingin dibuat buruk rupa."

__ADS_1


"Kalau wajahmu buruk rupa, tidak ada yang melirik dan mengagumi mu. Dan wajah tampan mu hanya untukku saja." kata Kei dengan tertawa.


Mobil yang ditumpangi itu sudah sampai didepan rumah. Ken dan Kei keluar.


Lee mengambil tas didalam bagasi dan diberikannya pada pengawal yang berdiri tak jauh darinya.


Ken menyerahkan baby Kio pada Kei, "Honey, aku langsung berangkat ke kantor ya." pamitnya dengan memberikan baby Kio pada Kei.


"Iya. Hati-hati Daddy." ucap Kei.


Ken tidak mengantarkan istrinya masuk kedalam, ia sendiri diburu dengan waktu. Baginya, yang terpenting Kei dan baby Kio sudah sampai didepan rumah berarti sudah aman.


Kei masih menunggu mobil yang ditumpangi suaminya pergi, ia setia berdiri didepan rumah dengan tangan yang melambai. Senyum dibibir tampak merekah, menunjukan ia sangat bahagia.


"Mobil Daddy sudah hilang, sayang. Ayo kita masuk." kata Kei mengajak baby Kio masuk kedalam.


Baru menjejakkan kaki masuk kedalam rumah, senyuman kebahagiaan tadi tampak memudar, perlahan tapi pasti kini menghilang. Manik mata itu menangkap bayangan seseorang yang tidak disukai.


Keduanya saling menatap, wanita itu terlihat biasa saja. Hanya Kei yang sedikit terkejut.


"Hallo Nona Muda, yang dulunya cacat dan malang tapi kini bagai ratu. Apa kabar?" wanita itu menyapa dengan ramah, tapi senyumnya juga menakutkan.


"Kabar ku baik-baik saja, Mbak. Mbak sendiri apa kabar?" tanya Kei. Sebisa mungkin ia bersikap normal dan biasa saja.


Yang berdiri didepannya adalah kepala pelayan yang dulu sangat membenci Kei.


Sudah lama kepala pelayan itu resign dan pulang kampung karna Ibunya sedang sakit. Tapi entah bagaimana dan alasan apa, wanita bernama Ita itu bisa kembali kerumah dan berdiri dihadapannya dengan seragam yang pernah ia gunakan dulu.


"Kabar ku baik, bahkan sangat baik. Senang berjumpa lagi dengan mu." itu kebaikannya atau hanya berpura-pura baik.


"Eum, sekarang kau sudah memiliki anak?" imbuhnya. Ia berjalan mendekat, membuat Kei takut dan memundurkan langkah.

__ADS_1


"Kenapa? aku hanya ingin menyapa anakmu." Ita berkata lagi.


"Keberuntungan selalu memihak padamu Kei. Kau bisa menjerat tuan Ken, sekarang memiliki keturunan darinya. Uh... kau membuatku iri. Tapi... apakah kau masih bisa beruntung?" Ita memberikan tatapan sinis.


"Semoga saja keberuntungan selalu berpihak padaku. Tuhan maha Melihat, mana yang baik dan mana yang jahat, tidak akan membiarkan kejahatan menang melawan kebaikan." jawab Kei dengan lantang.


Dibalas dengan suara tawa keras dari Ita. Dia menertawai keberanian Kei, wanita yang dulunya lemah dan mudah ditindas olehnya. Kini Kei seolah menjadi pemberani melawannya karna itu ia tertawa keras.


"Begitu? kita lihat saja." setelah tawanya mereda, ia menjawab singkat.


"Dari dulu sampai sekarang aku tidak mengerti, Mbak begitu membenciku, padahal kita tidak ada masalah." kata Kei.


"Karna kau lebih beruntung bisa menjerat tuan Ken. Dan aku membenci keberuntungan mu itu!" jawabnya dengan tatapan tajam.


Diruang depan yang begitu luas terlihat sepi, para pelayan sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Sedangkan pengawal yang berjaga diluar lumayan jauh jadi tidak dapat mendengar percakapan itu.


Sudah lama Ita bekerja dirumah tuan Ken, ia sangat hapal dengan keadaan. Bahkan ia juga hapal, disebelah mana saja yang terletak kamera pengawas.


Beberapa kali Kei mendengar alasan ini, tapi baginya itu bukanlah alasan yang kuat. Dari awal ia tidak pernah menjerat Ken, Mami Lyra yang memintanya untuk menikah. Lalu, apakah dia yang salah?


Diawal pun hubungannya dengan Ken penuh dengan drama sedih. Jika dipahami, bukan dia yang menginginkan pernikahan itu.


Mungkin itu sudah takdir.


Kei tidak habis pikir dengan pemikiran Ita yang membencinya karna sebuah takdir keberuntungan.


"Kau iri dengan takdirku. Tapi kau juga menyalahkan aku? bukankah itu, lucu. Kenapa tidak menyalahkan Tuhan yang mengatur takdir hidup seseorang. Aku hanya mengikuti garis takdir. Dan, tolong diingat Mbak! aku tidak pernah menjerat tuan Ken. Mbak tau sendiri, aku bisa menikah dengannya karna permintaan Mami Lyra." jawab Kei dengan penuh penekanan pada setiap kalimatnya.


"Itulah, kau berpura-pura baik pada Mami Lyra mendonorkan ginjal dengan gratis padahal ada maksut tersembunyi 'kan?" tuduhnya.


"Orang jika sudah dipenuhi pikiran negatif maka tetap saja akan berpikir seperti itu. Aku tidak tau lagi harus berkata apa. Mudah-mudahan saja Mbak segera sadar." Kei berlalu menuju Lift yang akan membawanya kekamar. Ia tidak ingin meladeni kepala pelayan yang selalu berpikir negatif tentang dirinya.

__ADS_1


Ita mendengus sebal, kekesalannya selalu bertambah ketika melihat Kei tampak baik-baik saja.


__ADS_2