Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Pengganggu


__ADS_3

Menikmati potongan kue bersama dan mengobrol ditengah malam, baru ini dilakukan oleh Kendra Kenichi. Kebahagiaan terpancar jelas diwajah tampannya.


Duduk berdampingan diatas sofa dengan jari jemari yang saling bertautan.


"Jadi pengemudi mobil sport putih itu kau, Ray?" tanya Ken.


"Heum..." Ray berdehem dan mengangguk.


"Sial, kalian benar-benar merencanakan kejutan aneh untukku."


"Dan kau Lee, ah... gila! kau juga ikut andil dalam acara prank untukku? hebat sekali kau tidak takut denganku." Ken melirik sekretarisnya yang dengan santai menyantap kue.


Mendengar tuan Ken berbicara padanya, ia menghentikan kunyahan. Tersenyum lebar kearah tuan muda itu. "Yah... mereka sedikit memaksaku tuan, lalu aku harus bagaimana? Aku saja sebenarnya ragu, tapi sudah terlanjur kepalang jadi hanya menurut. Dan benar, bahkan dari kemarin hanya aku yang direpotkan." jawabnya.


Ken tersadar saat Lee mengatakan bahwa dari kemarin hanya dia yang direpotkan. Memang benar, Lee yang menemaninya untuk berkeliling mencari keberadaan mereka. Bukan itu saja, Lee harus terkena pukulan dan juga kemarahan darinya.


Ken melihat Lee dengan serius. "Maafkan aku Lee, kemarin begitu panik hingga memukul dan memarahimu." sesal tuan Ken. Ia sungguh-sungguh meminta maaf.


Lee terhenyak mendengar permintaan maaf dari tuan mudanya. Kata maaf bagai kata keramat yang jarang sekali keluar dari mulut tuan Ken. Baru saja tuan Ken mengatakan itu untuknya, membuat sekertaris yang selalu ada dan selalu setia itu terdiam mematung.


Tak mendengar jawaban, Ken mengernyitkan dahi, "Kau tidak mau memaafkanku, Lee?" tanyanya.


"Tuan muda tidak perlu meminta maaf, saya paham dengan perasaan anda kemarin yang pasti panik dan khawatir. Saya lah yang seharusnya meminta maaf, karna ikut mengerjai anda."


"Tidak Lee, aku sangat senang dengan kejutan yang kalian siapkan. Meskipun cukup membuatku hampir gila dan spot jantung, tapi aku sangat bahagia kalian peduli padaku." ucap Ken dengan mellow.


"Semua berawal dari Mami, Ken. Mami menelpon adikmu dan ia teringat tanggal kelahiran mu, Mami dan Ray yang menyusun rencana. Setelah itu, Mami meminta bantuan Kei dan Lee untuk ikut andil." jelas Mami Lyra.


"Untuk Mami, Ray dan juga kamu Honey, terima kasih untuk prank yang menyebalkan ini." ucap Ken dengan senyuman.


"Gimana kak, aksi adikmu ini sudah pandai belum?" Ray bertanya dengan membanggakan diri.


"Aksimu benar-benar Oke, sampai mengalahkan pembinor sungguhan." Ken meledek.


"Fiuh... kakak ini, kenapa aku disamakan sama pembinor! adikmu ini terkeren seantero, tidak mungkin menjadi pembinor, Kak!" sungut Ray.


"Lalu aksimu kemarin seperti apa? pangeran berkuda putih? Yang kemarin itu seperti pembinor yang mendukung istri orang untuk kabur." kata Ken dengan senyum mengejek.


Ray mendengus sebal, menerutuki kakaknya yang menyebalkan.


"Sudah sudah, kalian ini selalu saja bertengkar. Sudah hampir jam satu, ayo kita kembali ke kamar dan istirahat." Mami Lyra memberi perintah. Kenyataanya memang jam sudah berlalu cepat, kini menunjukan pukul 12.55 hampir satu jam mereka merayakan pesta kejutan untuk Ken. Badan yang lelah membuat rasa kantuk hadir, matanya sudah terasa berat.

__ADS_1


Mami Lyra ingin segera beristirahat.


"Baru juga jam segitu Mi, biasanya Ray merayakan ulang tahun sampai hampar pagi."


"Ini di Indonesia Ray, bukan di Tokyo." Ken memperingati.


"Eum, oke oke." jawabnya malas.


"Tuan muda, saya juga permisi akan pulang. Semoga malam ini tidur anda nyenyak."


"Tidak akan nyenyak Lee, mungkin sampai pagi aku tidak akan tidur." jawabnya dengan tersenyum miring.


Lee membalas tersenyum miring dan segera berdiri. "Nyonya besar, Nona Kei, dan tuan muda Ray, saya permisi pulang." pamitnya pada yang lain.


"Hati-hati ya Lee, ini sudah lewat tengah malam kamu harus bener-bener konsentrasi mengendarai mobilnya." pesan mami Lyra.


"Iya Nyonya besar." Lee berjalan keluar dan hilang dibalik pintu.


Mami Lyra mengajak putra keduanya untuk kembali kekamar masing-masing.


Kini tinggal Ken Kei yang masih duduk diposisi sama seperti tadi.


"Honey..." Ken tersenyum lebar, ia senang istrinya sudah kembali. Istri yang sangat dirindukan.


"Kemarilah, aku merindukan mu."


"Tidak mau, aku masih ada sisa marah padamu."


"Hah, marah apa lagi Sweety?"


"Tentang wanita jadi-jadian itu?" imbuhnya.


Kei mengangguk.


"Oh... Ya Ampun, bisakah kita lupakan kejadian itu. Aku sangat merindukanmu." Ken mendekat, ia mengendus wangi shampo yang sangat harum pada rambut Kei.


"Tapi aku masih kesal kalau ingat video itu." Kei cemberut.


"Kau memegang tangannya 'kan? kau juga menciumnya! hah? bibirmu bekas mencium wanita itu." Kei menggebu-gebu.


"Lalu aku harus bagaimana? apa aku harus mengoperasi bibirku?" tanya Ken dengan menyentuh bibirnya sendiri dengan jari tangan.

__ADS_1


"Terserah." Kei mengangkat bahu.


"Baiklah, aku akan menghubungi Lee untuk menyewa dokter operasi plastik." Ken mengambil ponsel dan akan menghubungi Lee kembali. Padahal Lee baru sampai dilobi hotel, bukankah itu keterlaluan.


"Hei, kau tidak kasihan dengan sekretaris Lee, dia baru saja ingin menghirup kebebasan dan akan kau hubungi lagi."


Ken mengurungkan niat, ia menaruh ponselnya kembali. Tubuhnya melemas. "Apa malam ini aku tidak mendapat jatah?" tangannya lemas.


"Tidak! bahkan ciuman juga tidak."


Ken menggaruk rambutnya kasar, hingga rambut itu berantakan.


"Aku pikir dihari spesialku bisa mendapat kado indah. Kenapa malah begini." Ken menggerutu pelan.


Sedangkan Kei menyembunyikan senyum lucu. "Eum aku kasih keringanan, cuci dulu mulutmu sampai bersih baru boleh cium aku sama baby Kio. Ingat! yang bersih sih sih, jangan ada jejak wanita ular itu lagi!"


"Benarkah? Oke, Honey..." Ken segera berlari kekamar mandi.


Setelah pintu kamar mandi tertutup, terdengar suara kran air. Kei tertawa lebar, padahal ia hanya mengerjai suaminya.


Kini rumah tangga yang dijalani terasa sangat sempurna, suami yang dingin seperti balok es sudah mencair. Bahkan lebih hangat dari sinar matahari pagi.


Ken sangat mencintainya, bukan itu saja, ia juga memiliki putra yang sangat tampan. Kebahagiaan yang sangat sempurna.


Indahnya dengan lamunan, tiba-tiba baby Kio menangis Kei segera menuju keranjang.


"Hei, anak Mommy bangun?" ucap Kei. Ia segera memberikan asi untuk baby Kio.


Kei menatap lekat-lekat wajah putranya, bayi kecil yang masih berumur satu bulan setengah itu tampak mengedip-ngedipkan mata.


Baby Kio melepas sumber makanannya, ia melihat kearah Mommy nya.


"Kenapa sayang? kenapa tidak tidur lagi? Hem?" tanya Kei.


Baby Kio seolah melebarkan mata, ia mengeluarkan suara dan mengoceh.


"Honey, aku sudah membersihkan mulutku, bersih sih sih..." teriak Ken yang baru keluar.


"Hei... kenapa baby Kio terbangun?" ucapnya terkejut.


"Dia baru saja terbangun." jawab Kei, jari tangan digenggam oleh baby Kio dengan erat. Baby Kio tertawa dan mengoceh.

__ADS_1


"Oh... baby boy, kenapa kau harus terbangun. Tidakkah kau memberi kesempatan untuk Daddy merasakan candu, sayang." tubuh Ken melemas, ia menjatuhkan diri disamping baby Kio. 'Putraku sendiri menjadi pengganggu.'


Baby Kio dan Kei malah tergelak. Bayi itu tidak tau menertawakan apa, tapi Kei jelas menertawakan suaminya.


__ADS_2