Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Raja Bisnis.


__ADS_3

Tuan Ken dan sekretarisnya baru saja sampai disebuah bangunan tinggi, mereka berada didepan gedung kantor Sanjaya Grup. Keduanya melangkah masuk, salah seorang staf menyambut orang penting itu dan menunjukan ruangan pemilik perusahaan.


Sampai didepan pintu bertuliskan Direktur Utama, staf itu membukakan pintu untuk tuan Ken. Ketika pintu sudah terbuka, tuan Ken sudah tau apa yang terjadi. 4orang berada didalam ruangan itu, Deny Sanjaya pemilik perusahaan yang sudah mengusik ketenangannya. Ada Tristan dengan sekretarisnya yang juga berada diruangan itu, dari raut wajahnya tuan Ken sudah mengetahui semuanya.


"Ough... sepertinya hari ini kantorku kedatangan orang penting, sang raja bisnis Tuan Kendra Kenichi." bukan sambutan hangat, Deny mengatakan itu dengan nada sinis.


"Jika tidak ada urusan, aku tidak sudi menginjakan kaki disini." meski kata itu terkesan kasar, tapi tuan Ken mengatakannya dengan nada santai. Tanpa dipersilahkan, tuan Ken sudah duduk dengan angkuh disofa hitam bergaris warna silver.


"Ada keperluan apa kau datang kemari?" mereka memang bersaing, tidak ada nada lembut disetiap ucapan mereka. Keduanya melayangkan pandangan tajam.


Berbeda dengan Tristan, ia yang dulu juga angkuh kini terlihat diam tanpa berkomentar. Wajah itu terlihat muram.


"Aku rasa kau tidak terlalu bodoh! kau sudah tau tujuanku datang kemari."


"Kau memiliki tujuan yang sama dengan Tristan bodoh itu!" Deny memandang remeh kearah Tristan. Tristan sendiri terlihat mengepalkan telapak tangan, membalas pandangan Deny dengan amarah.


"Bukan aku yang bodoh! tapi kau manusia picik, menjijikan!" Tristan menyentak Deny dengan nada tinggi.


"Hahaha... itu permainan bisnis! kau saja mudah dibodohi. Sekarang bersatulah kalian, membangun perusahaan kembali. Jika kalian masih bisa bangkit." Deny tergelak. Dia meremehkan dua orang sekaligus, tuan Ken dan Tristan.


Tuan Ken memutar bola mata, tetap cool ditempatnya. Tidak ada rasa khawatir ataupun marah, nampak santai menghadapi ocehan Deny yang tidak penting.


"Kau diam saja, tuan Ken? tidak ingin merengek seperti sainganmu yang bodoh itu? dia mengemis belas kasih padaku. Hahaha... itu sangat lucu. Jika kalian berlutut bersamaan pasti akan bertambah lucu." Deny masih tergelak, berpikir saat ini dia yang paling berkuasa karna berhasil menghancurkan dua perusahaan sekaligus. Ternyata benar dugaan tuan Ken, bahwa Deny mengajukan kerjasama dengan perusahaan Tristan hanya untuk keuntungannya sendiri. Memanfaatkan situasi dia perusahan yang juga bersaing, dia mengkambing hitamkan salah satu dan menghancurkan keduanya secara bersamaan.

__ADS_1


Kini dia tertawa puas. Merasa hebat bisa mengalahkan raja bisnis seperti tuan Ken.


Prok...prok...


"Aku salut denganmu tuan Ken, dari panjang lebar pembicaraanku kau masih bisa tenang. Bahkan disaat perusahaanmu mengalami bangkrut kau masih saja angkuh! Cih..." semakin lama Deny mulai kesal, sedari tadi ia sudah menghina seorang Kendra Kenichi tapi tuan muda itu tidak sedikitpun meladeninya. Tidak ada kemarahan ataupun kekesalan.


"Hah... apa kau sudah selesai mendongeng? aku sudah tidak tahan duduk disofa murahan seperti ini." akhirnya tuan Ken mau membalas hinaan dari Deny.


"Jangan sombong! kau sudah bangkrut Ken!" Deny sendiri yang terpancing dengan hinaan tuan Ken barusan.


"Hah... iya, aku lupa. Kalian berdua sudah membuatku bangkrut, meretas data rahasia dikantorku. Menjatuhkan harga pasar dan membeli sahamku? huh... aku harus bagaimana? sekarang sudah menjadi gembel." seolah-olah Ken meratapi diri. Tristan tidak berani menatap kearah tuan Ken saat mendengar pernyataan mantan temannya itu dia menjadi bersalah. Dalam hati menyesal telah membuat Ken bangkrut, karna tindakan bodohnya yang kurang hati-hati dengan kelicikan Deny dia hanya digunakan sebagai umpan saja. Kini perusahaan miliknya juga telah diambil alih oleh perusahaan Sanjaya Grup.


"Hahaha.... kau baru sadar tuan Ken? nikmatilah hidup kalian yang baru sebagai gembel."


"Sepertinya orang bego' itu memang lebih banyak bicara tanpa bertindak hati-hati. Tidak punya wibawa sama sekali."


"Hei... Kendra Kenichi. Jaga bicaramu!" Deny yang marah menunjuk tepat didepan wajah raja bisnis itu.


"Turunkan jari kotormu itu, gembel!" kesabaran tuan Ken sudah habis. Dia menatap tajam kearah Deny, tidak ada gaya santai seperti tadi.


"Beraninya kau mengatakan itu padaku!!" Deny tak kalah tajam menatap tuan Ken.


"Kau menguji kesabaranku. Buka matamu lebar-lebar dan lihat siapa diantara kita yang menjadi gembel!"

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Deny, nada suaranya sudah tidak meninggi seperti tadi.


"Masih kurang jelas! sekali bodoh tetap saja bodoh! lihat saham siapa yang berpindah tangan." perkataan tuan Ken membuat Deny sangat terkejut. Dia segera bangkit dari duduknya dan berjalan kemeja kerjanya. Membuka hasil laporan perusahaan. Mata itu seolah ingin melompat keluar, shok. Tubuh angkuhnya tadi seolah sirna, ia terduduk lemas.


Tristan memperhatikan kawan dan juga lawannya, merasa bingung. Diapun meminta notebook yang dibawa sekretarisnya dan mengecek saham semuanya. Kini bukan hanya Deny, tapi Tristan juga sangat terkejut. Ini tidak mungkin!


"Ke...n!" Tristan memangil dengan terbata dan lirih.


"Kenapa? kalian kira bisa menghancurkan aku dalam sekejap? lihat, siapa yang hancur? Aku tidak mengusik kalian, tapi kalian lebih dulu mengusikku, jadi...aku hanya meladeni saja."


"Brengsek kau, Ken!!" Deny berjalan cepat menghampiri tuan Ken tangannya terkepal ingin melayangkan sebuah pukulan.


Sekretaris Lee sigap memasang badan dan menangkis pukulan itu.


"Anda jangan berbuat macam-macam! tuan Ken sudah berbaik hati tidak melaporkan tindakan kalian kekantor polisi. Tindakan meretas sebuah data rahasia dari perusahaan lain merupakan tindakan berat, pasal yang akan menjerat kalian seumur hidup!" Lee mengancam dengan tindakan tegas. Dia selalu siap memasang badan didepan tuan Ken, tidak akan membiarkan tuan mudanya tersakiti.


"Ini tidak mungkin! bagaimana bisa seperti ini?" Deny terlihat frustasi, dirinya yang percaya diri sudah mengambil alih perusahaan tuan Ken tapi saat ini rencana itu berbalik kepada dirinya sendiri. Merasa bahagia telah menjatuhkan dan membuat bangkrut perusahaan besar itu tapi dirinyalah yang bangkrut. Dirinya akan menjadi gembel.


"Bukan aku yang harus angkat kaki dari sini, tapi kalian! perusahaan ini sudah menjadi milikku." tuan Ken menegaskan.


"Tu-tuan Kendra Kenichi, baiklah aku mengaku kalah. Tolong jangan usir aku dari perusahaanku sendiri. Aku mengakui kau memang tidak bisa dikalahkan, kau memang pantas disebut raja bisnis." tidak ada pilihan lain selain menjatuhkannya harga diri, Deny berlutut dikaki tuan Ken.


"Hahhaa...." berganti tuan Ken yang tergelak. Musuh kecil itu sudah ditaklukan. Memandang remeh.

__ADS_1


"Kau sudah menyerah? tidak mau bersaing denganku lagi?" pertanyaan yang mengejek. Tapi Deny tidak bisa berkutik, semua sudah habis tiada sisa miliknya.


__ADS_2