
"Apa ...? Naya hamil, Mbak?" Selepas kepergian dokter, tetangga yang menghantar Naya ke rumah sakit syok mendengar keterangan bahwa Naya hamil. Itu sangat mengejutkan mengingat selama mereka tinggal bertetangga, dia menilai Naya adalah anak yang baik dan pendiam. Tak menyangka sekalipun Naya bisa hamil di luar nikah.
"Ssttt, Tik, tolong pelankan suaramu. Ini di rumah sakit, jangan berbicara keras. Takut menganggu pasien yang lain." Ibu Naya memperingati, sekilas juga melirik ke arah Akio. Meski dia tidak kenal dengan Akio, tetapi ada perasaan risih bila pria itu mendengar aib putrinya. Dia canggung dan malu.
"Tik, tolong diam dan jangan beritahu siapapun. Kalau tetangga semua tahu, aku takut mempengaruhi guncangan jiwa Naya lagi. Untuk sementara diam, biar kami mencari solusi," pinta Ibu Naya pada Tika, tetangganya.
"Astagfirullah ... iya-iya, Mbak, tenang aja. Tika bisa dipercaya. Yang tabah ya, Mbak. Kalau bisa, segera minta tanggung jawab sama pacarnya Naya biar perutnya tidak semakin gede. Eh, aku lupa. Tapi Naya hamil sama pacarnya, kan, Mbak? Bukan dinodai pria jahat?"
"Itu kita bicarakan nanti, nggak enak di dengar orang lain." Ibu Naya tidak mau menanggapi tetangganya yang terus bicara. Dia kembali melirik arah Akio, supaya tetangganya sadar bahwa tak jauh dari mereka juga ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. Tidak elok bila aib besar harus di dengar orang lain.
Tetangga Naya yang paham itu langsung mengangguk mengerti .
__ADS_1
Tak lama ibu Naya bangkit dan mendekati Akio.
"Anak muda, terima kasih sudah mau menolong anak ibu. Alhamdulillah putri ibu bisa selamat karena kamu segera mengantarnya ke rumah sakit," ucap Ibu Naya tanpa tahu Akio lah pria yang menghamili putrinya.
"Sama-sama, Bu." Akio nampak canggung dan grogi. Selain itu, ada perasaan bersalah yang terus bergejolak. Dia yang merusak Naya, tanpa langsung menyebabkan Naya nekad ingin mengambil jalan pintas mengakhiri hidup. Dia tak tega melihat perempuan paruh baya di depannya menangisi keadaan putrinya. Sungguh kesalahannya kali ini begitu fatal.
"Nak ini siapa, ya? Sepertinya Ibu tidak pernah melihat kamu sebelumnya, dan tiba-tiba ada di sekitaran rumah Ibu. Apa kamu tetangga Ibu yang baru pindahan?" tanya Ibu Naya sangat penasaran.
"Aku temannya Naya. Tadinya ada perlu dengan Naya, tapi mendengar Ibu berteriak, aku langsung masuk saja," jelas Akio.
"Ka-kamu teman kuliahnya Naya?" Ibu Naya nampak terkejut. Wajahnya seketika berubah. Dan Akio menyadari hal itu.
__ADS_1
"Ibu jangan takut. Aku tidak akan bercerita pada siapapun. Tapi apa aku boleh menemui Naya?"
Ibu paruh baya itu mengangguk.
Setelah meminta izin, Akio masuk ke dalam ruang rawat Naya. Hal pertama dilihatnya adalah tubuh Naya yang terbaring lemah. Selang infus menempel di tangan kanan perempuan itu. Sedangkan pergelangan tangan kiri terdapat bebatan kasa dengan sedikit noda darah yang menembus.
Akio mendekat, tetapi Naya masih terpejam. 'Dia sampai nekat melakukan ini! Bangsat kamu, Akio!' umpatnya pada diri sendiri.
Saat kaki Akio tak sengaja menyenggol kursi, lalu menimbulkan suara berderit, saat itu Naya bergerak dan terbangun.
"Ka-kamu?!"
__ADS_1