
"Di mana rumahmu?" Akio bertanya hingga memecah kesunyian di antara mereka.
"Tidak jauh lagi," jawab Naya menunduk, suaranya pun terdengar bergetar.
Akio menoleh dan memperhatikan perempuan itu, ternyata Naya menggigil kedinginan. Diapun kedinginan, namun jaket yang dipakai cukup tebal, tidak seperti Naya yang menggunakan kemeja putih tipis dan sudah sangat basah.
Akio menengok ke kursi belakang, mencari sesuatu yang mungkin bisa dipakai oleh Naya. Seperti kaos atau handuk yang sering dia taruh di sana.
"Ambil kaos di kursi belakang, kamu bisa memakainya." Akio berusaha kembali fokus pada jalanan. Kondisi jalan yang lumayan sepi juga curah hujan yang semakin deras, membuatnya harus ekstra hati-hati.
Naya menurut, menjulurkan tangan ke belakang untuk mengambil kaos itu, tetapi dia lupa dengan kondisi bajunya yang sudah robek sana sini hingga membuat bagian private-nya terekspose.
Bola mata Akio melebar sempurna, saat sesuatu terlarang terpampang di depannya. Damn it! Bagaimanapun Akio pria normal, melihat yang demikian membuat sesuatu birahi tiba-tiba melonjak. Apalagi harum tubuh Naya menyeruak di indera penciuman, membuatnya kehilangan akal.
Dia tidak fokus menyebabkan mobilnya oleng.
Ccckkiiiet! Akio menginjak pedal rem saat hampir saja menabrak pembatas jalan. Namun ... apa yang terjadi? Naya ikut oleng dan menimpa di atas tubuhnya.
Dag dig dug! Jantung keduanya saling bersahutan. Kedua remaja dengan posisi begitu intim hingga semakin menimbulkan gelora panas.
Wajah keduanya sangat dekat, bahkan Akio dapat mengendus harum napas Naya. Mencermati wajah manis di depannya sampai beberapa waktu lamanya.
•
Mobil Akio sampai di depan gerbang, satpam yang berjaga segera membuka pintu besi menjulang tinggi itu membiarkan mobil sang tuan mudanya masuk. Perlahan mobil Akio masuk ke garasi, namun pria itu tak lantas cepat-cepat turun. Akio diam dengan sejuta pemikirannya, segudang kebingungannya.
Drrt drrt ... Ponsel di atas dasbor mobil bergetar. Pria itu tahu siapa yang menghubungi. Dad, Mom, Kyu bahkan oma Lyra juga menghubungi. Dia tak berniat menjawab, justru kalut dengan apa yang dipikirkan. "Huh!" Mendekus sambil mengusap wajah dengan gerakan kasar.
Memikirkan apa yang terjadi, dia sampai tidak sadar dengan luka-luka di wajah juga di beberapa tubuhnya. Bagaimana jika keluarganya bertanya atau mengusut semuanya.
Berdiam di mobil juga tidak merubah keadaan, Akio memutuskan untuk turun dan masuk.
Ketika membuka pintu, semua anggota keluarganya menyambut dengan antusias. Apalagi Mommy Kei.
"Sayang, kenapa baru pulang? Kamu lupa malam ini ada acara makan malam bersama dengan keluarga Zee?" cecar Kei.
"Iya, Kak. Kasihan Kak Zee kelihatan kecewa banget karena Kakak nggak ada," celoteh Kyu.
__ADS_1
Akio tetap menunduk demi menutupi luka di wajahnya. Berharap bisa lolos dari interogasi keluarganya, namun sepertinya sulit.
"Mom, Dad, Oma, Io mau ganti baju dulu."
Ketika Kei lebih mendekat, perempuan hampir paruh baya itu melongo. "Ya Tuhan, Akio, sudut bibirmu kenapa berdarah?" Kei memekik terkejut. Dia meraih lengan putranya tetapi langsung mendapati jaket Akio basah.
Ken, oma Lyra dan Kyu segera mendekat.
"Apa yang menimpamu, Sayang?" Oma Lyra khawatir.
"Kakak kok bisa begini?"
"Kio, apa yang terjadi padamu?" Ken pun tak kalah khawatir. Bila keluarganya mendekati Akio, Ken mundur dan segera memanggil pengawal untuk menyiapkan mobil.
Kei memeluk tubuh Akio dengan tangisan, tak tega melihat wajah putranya terdapat luka seperti itu.
"Sssttt, Mom, sakit," adu Akio dengan setengah mendesis.
Kei melonggarkan pelukan lalu melepas jaket serta mengangkat baju Akio ke atas. Terpampang lagi beberapa lebam di tubuh putih bersih Akio.
"Astaga ...." Kei sampai terhuyung ke belakang, beruntung Ken segera mendekap.
"Dad, nggak perlu. Io mau di rawat di rumah saja." Akio menolak. Biasanya Mommy Kei yang menolak, kini Akio yang tidak mau menjadi penghuni kamar pesakitan.
"Nggak perlu bagaimana?! Lukamu sangat parah, dan itu butuh di tangani dokter," tegas Ken.
Pengawal datang dan memberitahu jika mobil sudah disiapkan. Ken segera menggiring keluarganya untuk mengantar Akio ke rumah sakit.
"Mom, Dad, Io nggak papa, beneran aku nggak papa. Akio ingin segera istirahat saja."
"Kau bisa istirahat di rumah sakit." Ketika Ken berkata tegas, siapapun tidak akan bisa membantah.
Tengah malam dengan cuaca gerimis yang masih mengguyur bumi, 2 mobil MPV dan Sedan mewah keluaran terbaru, baru sampai di pelataran rumah sakit. Petugas rumah sakit segera menyambut pasien yang datang, namun para petugas dibuat terkejut dengan kedatangan satu keluarga yang selalu mereka doakan akan baik-baik saja. Kalian pasti tahu kenapa petugas berdoa demikian.
"Hih, itu keluarga Tuan Ken," ucap salah satu perawat.
Teman sebelahnya yang merupakan petugas baru tidak maksud dengan ucapan temannya. "Memang kenapa dengan keluarga itu?" tanyanya.
__ADS_1
"Huh, kamu belum tahu siapa Tuan Ken? Dia Tuan paling ribet dan paling aneh yang pernah kutemui."
"Heh? Kenapa begitu?"
"Tunggu saja nanti. Kamu akan lihat seheboh apa keluarga itu."
Ketika keluarga pasien lain datang, mungkin hanya 2 atau 3 petugas yang menyambut. Namun khusus untuk keluarga Tuan Ken, ada lebih dari 5 perawat yang mendekat. Brankar dan kursi roda telah disiapkan.
Dari itu si perawat baru tadi sudah merasa aneh, namun hanya bisa diam karena teman-temannya seolah memasang wajah panik.
Akio memilih duduk di kursi roda, tetapi Ken berjalan mendekat. "Tiduran di atas brankar saja!"
"Pakai kursi roda aja, Dad."
"Tidak! Nanti luka di tubuhmu bertambah sakit karena tertekan."
"Nggak papa Dad, luka ini nggak begitu sakit."
"Tubuhmu lebam-lebam dan bibirmu berdarah kamu bilang tidak sakit?! Jangan bohong Akio! Cepat pindah atau Daddy yang akan memindahkan mu."
"Io Sayang, nurut saja ya." Kei ikut bersuara.
Salah satu perawat menyenggol lengan temannya. "Cuma mau masuk ruang ICU aja banyak drama? Ini belum apa-apa, nantinya bakal lebih dari ini," berbisik pelan di telinga temannya.
Temannya mengangguk dan meringis.
Akio mengalah untuk pindah ke atas brankar. Mereka semua mendorong brankar Akio menuju ruang ICU.
Ken, Kei, oma Lyra dan Kyu ditahan di depan pintu. Mereka tidak diperbolehkan masuk agar nantinya tidak mempengaruhi konsentrasi dokter.
"Kenapa dokternya belum ada!" tanya Ken dengan gusar.
"Dokter sedang menuju kemari, Tuan. Namun hanya ada dokter umum dan dokter jaga. Untuk dokter spesialis, besok pagi baru datang," jelas perawat.
"Panggil dokter spesialis gigi, kulit, dan spesialis organ dalam. Aku mau putraku di periksa sekarang juga."
Perawat itu memandang dengan bingung sekaligus takut-takut.
__ADS_1
"Kau tidak dengar! Panggil dokter yang kusebutkan tadi, sekarang juga!"
"Ba-baik, Tuan." Perawat itu tidak jadi masuk, memilih kembali ke ruang pendaftaran untuk mendiskusikan keinginan Tuan Ken.