
'Luar biasa. Meskipun arogan dan terkadang tidak waras tapi masih ada sisi baiknya juga' Lee membatin kebaikan Ken yang mau merenovasi bangunan panti yang baru saja mereka datangi.
Lamanya diperjalanan mobil yang dikendarai Lee sudah mulai merangkak menuju halaman rumah tuan Ken.
Di kursi belakang Ken tengah terlelap, mungkin karna kelelahan. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan mereka baru sampai.
Lee tidak berani untuk membangunkan, ia memilih menunggu sampai Ken terbangun dengan sendirinya. Untuk mengusir kejenuhan, Lee membuka gadget pribadi dan bermain sosial media.
Walau bermain sosial media namun menggunakan akun palsu, dulu selagi masih sendiri untuk menghilangkan gabut ia lebih suka bermain sosial media dan juga nge-game.
Namun hanya sekedarnya saja, karna tugas utamanya adalah mengabdi dengan si Arogan.
"Lee, kita sudah sampai?" Ken baru bangun dari tidur singkatnya. Ia melihat keluar jendela dan ternyata sudah sampai didepan rumah.
"Tuan Muda, anda sudah bangun. Anda tidur cukup nyenyak, saya tidak berani untuk membangunkan." kata Lee.
"Hem... kau mau masuk atau langsung pulang?"
"Sudah malam, saya langsung pulang saja, Tuan." meski Lee mengatakan langsung pulang, namun ia masih harus melaksanakan tugasnya, yaitu membukakan pintu mobil untuk keturunan sultan.
Kaki Ken sudah keluar dari mobil. "Terima kasih Lee, hati-hati dijalan." ucap Ken, lalu melangkahkan kaki meninggalkan Lee yang terbengong ditempat.
Lee menyentuh keningnya sendiri, "Apa nyawa Tuan Muda belum sepenuhnya masuk? tumben sekali mengucapkan kata terima kasih dan hati-hati?! seperti bukan tuan Ken saja. Mengerikan." ucap Lee lirih.
Ken sudah masuk kedalam rumah, Lee segera mengendarai mobilnya untuk pulang. Ia sangat merindukan bidadari hati juga sang buah hati yang seharian tidak ia lihat.
Ditengah jalan terjebak macet, mobil pun terpaksa terhenti diantara mobil lainnya.
Disaat sendiri, entah tiba-tiba teringat dengan almarhum John Lee. Seperti benang kusut yang susah untuk dibentangkan. Benang yang sudah terlupakan kenapa harus dipertanyakan kembali. Seharusnya biarkan saja tersimpan rapat seperti itu, tidak perlu lagi mencari titik terang tentang keberadaan anak itu.
Lee menghembuskan napas berkali-kali. Rasa lelah dan pikiran yang rumit membuat tubuhnya semakin terasa lemah. Ingin sekali beristirahat walau hanya sejenak, mencari ketenangan diri sendiri.
Didalam rumah Ken.
Semua anggota keluarga sedang menikmati santap malam, Ken berjalan pelan menuju meja makan.
__ADS_1
Suara sepatu yang beradu dengan granit membuat bunyi yang mengalihkan perhatian semuanya.
"Sayang, baru pulang?" Kei yang tadi duduk tenang, kini telah berdiri menyambut kedatangan suaminya.
Ken mendekat dan mencium pucuk kepala Kei.
"Ken, malam sekali kamu pulangnya?" kata mami Lyra.
Papa Herlambang tidak bertanya namun ikut memperhatikan ke arah Ken.
Ken mengambil duduk disamping Kei. "Iya Mi, sepulang menghadiri rapat Ken langsung pergi ke panti asuhan." Ken melonggarkan ikatan dasi.
"Dad melupakan Io, tidak mencium Io." Kio merajuk dengan Ken.
"Oh Boy... maafkan Dad. Dad melupakan mu, Sayang." Ken yang baru duduk harus berdiri lagi untuk mencium putra kesayangannya.
Puas menciumi Kio, ia kembali duduk ditempat semula. Kei sudah mengambilkan makanan untuk suaminya.
Mami Lyra ataupun papa Herlambang menahan diri untuk memberondong pertanyaan. Ia memberi waktu pada Ken untuk menikmati makan malamnya.
"Dimana lagi kalau bukan dikamar? namanya saja princess tidur, sudah pasti tidur terus." cibir Kei yang dibalas senyum simpul dari Ken.
Mereka semua menikmati makan malam bersama dengan ocehan Kio yang bercerita panjang lebar tentang kegiatannya.
Setelah makanan mereka telah selesai, mami Lyra memperhatikan Ken. Tampak ragu untuk bertanya tentang pencarian anak mantan suaminya.
Ken mengambil tissu dan membersihkan mulut dari makanan yang tersisa. "Mi, apa keluarga almarhum John Lee ada yang peduli dengan Frank Lee?" tanya Ken.
Kening mami Lyra mengerut, heran dengan pertanyaan yang dilontarkan Ken barusan.
"Tidak ada. Bahkan keluarga mereka mencari-cari keberadaan Frank Lee karna ingin melenyapkan anak itu. Anak yang mereka klaim sebagai pembawa sial." ucap mami Lyra.
Herlambang dan Kei hanya sebagai pendengar saja tanpa mau ikut campur.
"Tapi pengelola panti mengatakan bahwa Frank Lee berada di panti asuhan hanya sekitar dua bulan. Setelah itu Frank Lee dijemput oleh keluarganya yang berasal dari keluarga kaya." terang Ken.
__ADS_1
Bola mata mami Lyra melebar, ia tentu terkejut mendengar itu.
"Apa?! Frank Lee dijemput oleh keluarganya?" mami Lyra sangat shok. Bola matanya kini sudah berkaca-kaca.
"Tidak mungkin Frank Lee dijemput oleh keluarganya. Jangan-jangan..."
"Tidak Ken. Tidak! kalau sampai Frank Lee dijemput oleh kakeknya, itu berarti..." ucapan mami Lyra menggantung. Ia tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya. Setetes airmata telah lolos.
Tangan papa Herlambang mengelus punggung tangan mami Lyra untuk menenangkan.
Ken terdiam, memikirkan ucapan mami Lyra barusan. Apakah kasus ini berakhir tanpa ada kepastian?
Namun untuk melakukan pencarian pun sangat sulit mengingat tidak ada jejak atau petunjuk sama sekali.
"Kalau benar Frank Lee tiada, semua itu salah ku?! Ya, itu salah ku yang sudah meninggalkan anak itu didepan panti asuhan." mami Lyra begitu menyesal. Ia bahkan menyalahkan dirinya sendiri. Isak tangis mulai terdengar.
"Oma kenapa nangis? apa ada yang jahatin Oma? bilang sama Io? biar Io hajar." Kio menyela disela kegundahan para orang dewasa.
"Tidak Sayang, Oma hanya ingat sesuatu yang menyedihkan, makanya nangis." Kei menjawab perkataan Kio.
"Oma jangan nangis, nanti Io bacain cerita lucu. Oma pasti ketawa." ucap Kio lagi.
"Iya, makasih ya. Cucu Oma memang paling pintar." disela tangisnya, mami Lyra memuji Kio agar cucunya itu tidak khawatir melihat dirinya menangis.
"Jangan menangis didepan Kio. Malu kalau diledek cucu sendiri." ucap Herlambang dengan candaan. Berharap istrinya tidak lagi dilanda kesedihan.
Mami Lyra membersihkan sisa airmatanya. Walau didalam hati kesedihan itu masih melekat namun harus ditahan.
"Apa Mami tau dimana keluarga John Lee?" tanya Ken dengan melihat wajah mami Lyra dengan serius.
"Kedua orang tua John Lee sudah meninggal. Kalau Kakaknya John Lee masih hidup. Dia yang mewarisi semua harta almarhum John Lee."
"Hanya mereka berdua, yaitu John Lee dan juga Jason Lee. Karna John Lee sudah meninggal, maka harta kekayaan John Lee jatuh ke tangan Jason Lee."
"Sebenarnya jika Frank Lee masih hidup dialah yang akan mewarisi harta itu, tapi keberadaan Frank Lee tidak ditemukan, maka situasi itu sangat menguntungkan untuk Jason Lee."
__ADS_1
"Terakhir Mami dengar tentang Jason, dia dikabarkan sudah akan gulung tikar. Perusahaan yang dikelolanya mengalami kerugian besar, hingga ia harus menjual sahamnya." terang mami Lyra.