
Setelah beberapa jam Ken sudah kembali sadar, ia sedang berbaring miring diatas ranjang kesakitan nya.
"Kedua kalinya aku bangun, tapi kali ini kau yang aku cari." ucap Ken lirih. Tangan sebelah menggenggam tangan Kei.
Kei tersenyum. "Memang harusnya begitu, saat kau membuka mata hanya ada aku disampingmu."
Ken menanggapi dengan senyuman. Tangan yang tadi menggenggam jemari Kei, kini berganti mengelus pipi putranya yang asik dengan mainannya.
Jam menunjukan pukul 20.39.
"Kau sudah makan malam?" tanya Ken.
"Sudah," jawab Kei.
"Dimana Lee, aku ingin mengambil ponsel." kata Ken. Saat tadi siang ia memberikan ponselnya pada Lee untuk mengecek pesan pesan penting dari staf kantor.
"Aku lupa memberi tahu mu. Tadi siang Mbak Dewi juga melahirkan, jadi sekertaris Lee juga sibuk menunggui Mbak Dewi."
"Tadi pagi Lee cuma bilang kalau perut Dewi sakit, jadi ia izin masuk siang. Ah, aku melewatkan momen itu."
"Momen? momen apa?" tanya Kei.
"Momen mengerikan seperti waktu kau melahirkan putra kita. Apa penampilan Lee berantakan dan sama seperti ku dulu?" tanya Ken.
Kei tersenyum lucu, "Sepertinya lebih parah darimu." jawabnya.
"Padahal aku sudah katakan, aku orang pertama yang akan tertawa melihat penampilan Lee saat Dewi melahirkan. Tapi aku melewatkan momen itu."
"Anda tidak melewatkannya tuan muda." suara Lee menjawab. Ia muncul dibalik daun pintu dan berjalan mendekat.
"Ah, aku nggak bisa menyaksikan penampilan mu Lee. Pasti lucu."
"Tenang saja tuan muda, saya sudah mengabadikan momen itu diponsel."
"Kau pintar Lee, sekarang berikan ponselmu biar aku lihat." perintah Ken.
__ADS_1
Lee mengeluarkan benda pipih dari saku jaket putih yang ia pakai, langsung membuka fitur galeri dan mencari fotonya tadi siang.
Foto yang diambil saat Dewi meremas wajah, rambut tangan dan seluruh anggota tubuh bagian atas. Semua tak luput dari cakaran istrinya.
Berbagai gaya ekspresi kesakitan dan kekhawatiran bisa dilihat, bahkan tadi siang Lee menyuruh salah satu perawat untuk membuat video saat kejadian menegangkan itu terjadi.
Ia ingin menepati ucapan bahwa tuan mudanya ingin melihat pada saat gilirannya berada diruang eksekusi.
Lee memperlihatkan semuanya pada Ken. Saat Ken melihat foto dan video itu langsung tergelak, tak lama ia meringis karna lukanya ikut bergerak hingga sedikit kesakitan.
"Tuan muda, anda tidak pa-pa?" Lee khawatir saat melihat tuan mudanya meringis kesakitan.
"Aku tidak pa-pa Lee. Harusnya aku yang bertanya, apa keadaanmu baik-baik saja? bagaimana keadaanmu?" Ken bertanya dengan nada mengejek, disudut bibirnya masih tersisa senyuman.
"Kau sudah tau 'kan, bagaimana rasanya berada diruang bersalin?" tanyanya lagi.
"Eum, iya tuan. Menurutku lebih menegangkan daripada berada diruang sidang. Dan, setara seperti diruang eksekusi." Jawab Lee serius.
"Kau benar Lee, sangat mengerikan." kata Ken dengan bergidik ngeri.
Bos dan tangan kanannya itu mengobrol, Kei hanya menjadi pendengar setia.
"Tidak tuan. Kata dokter sarang milik Dewi tidak perlu digunting, karna jalan lahirnya sudah pas untuk melahirkan."
"Hei, kenapa begitu? punya Kei digunting, kenapa punya Dewi tidak?" heran Ken.
"Entahlah tuan. Mungkin tidak sama," jawab Lee. Ia juga tidak tau.
Kei tidak mendengar lagi, ia sudah berpindah dan menimang-nimang putranya agar tertidur.
Tinggal Lee dan Ken yang asik mengobrol tentang pengalaman diruang bersalin, saat menemani istri mereka melahirkan.
Mata Ken sesekali melirik kearah Kei, memastikan istrinya tidak mendengar.
"Maksudmu tidak sama?" tanya Ken yang benar-benar dibuat penasaran. Kenapa cara melahirkan istrinya dengan istri Lee berbeda.
__ADS_1
"Ya itu, buktinya sarang Nona Kei digunting, sedangkan punya Dewi tidak." Lee tidak memberikan jawaban spesifik, karna ia sendiri juga bingung.
"Mungkin punya istrimu lebih besar dari milik istriku?" jawab Ken asal.
"Apa begitu ya?" Lee nampak berpikir. Tetapi sejauh keduanya berpikir tentu tidak akan menemukan fakta. Mereka berdua sama-sama tidak tau. Tentu para dokter yang tau jawaban dan bisa memberi penjelasan.
"Tapi itu tidak adil Lee, punya istriku digunting dan dijahit sedangkan punya istrimu tidak." sungut Ken.
"Tidak pa-pa Bos tidak adil, bukankah itu keberuntungan. Sarang Dewi bisa sembuh sebelum 42 hari. Tikus ku bisa buka puasa lebih cepat." berbeda dengan Ken, Lee tampak tersenyum cerah saat mengatakan itu.
Ken memandang sinis. "Coba aku tadi melihat istrimu melahirkan, aku akan menyuruh dokter untuk menggunting dan menjahit sarang Dewi. Biar nasib kita sama." ucap Ken dengan kesal.
"Kenapa begitu tuan, harusnya anda tidak iri. Lagi pula anda sekarang sudah bisa sesuka hati masuk kesarang. Giliran saya yang harus berpuasa, tapi 10hari saja nggak sampai 42 hari." kata Lee. Padahal ia tidak tau, jika masa nifas hampir semuanya sama. Minimal 42hari dan bisa lebih dari itu. Ia mengatakan 10hari hanya asal, dan menurut perkiraannya sendiri bukan dari penjelasan dokter.
"Enak sekali kau Lee, dapat keringanan 32hari. Sial, bagian diriku sampai 42hari, sedangkan kau cuma 10hari. Ini benar-benar tidak adil. Berikan ponselku."
"Ponsel anda? untuk apa tuan?" tanya Lee.
"Aku mau searching google cari tau apa bedanya punya Kei dengan istrimu, kenapa bisa berbeda."
"Kenapa tidak tanya pada dokter saja tuan, biar lebih jelas."
"Tidak mungkin sekarang minta penjelasan dokter. Lihatlah, ada Kei." Ken menunjuk keberadaan Kei lewat sorot matanya. Saat ini tidak mungkin memanggil dokter untuk menanyakan kebingungan mereka, jika Kei tau pasti akan marah atau ditertawakan.
Lee paham dengan isyarat yang diberikan tuan mudanya. Ia mendukung tuan Ken untuk melanjutkan niat mencari tau lewat searching goggle.
"Kau saja yang mencari, tanganku sakit." perintah Ken dengan alasan sakit, padahal ia geli melihat gambar yang muncul yaitu va**** yang disobek saat melahirkan.
Lee mengambil ponsel dari genggaman tuan Ken. Saat melihat kelayar, ia juga terkejut melihat gambar seperti itu membuatnya ngeri.
"Astaga... kalian berdua melihat gambar tidak senonoh! tidak sadar kalian sedang dirumah sakit masih sempatnya melihat foto seperti itu! jangan-jangan, kalian berdua sering melihat video vulgar?" selidik Kei satu persatu.
"Keterlaluan! benar-benar memberi pengaruh buruk!"
"Kamu, sayang! bahu mu terluka, masih sempatnya melihat foto yang tidak pantas dilihat." Kei benar-benar terlihat kesal. Ia mengomel dan terus memarahi keduanya.
__ADS_1
Ken dan Lee saling pandang. Ini tidak seperti yang dituduhkan. Kedua wajah itu memucat. Kebingungan dan keingintahuan mereka, justru menimbulkan kesalahpahaman.
"Ti tidak, Honey. I ini tidak seperti yang kau pikirkan." sanggah Ken dengan terbata. Ia harus menjelaskan apa pada Kei.