
Luka yang ada di kepala Ken cukup serius. Karna pertolongan pada Ken cukup lambat maka terjadi penggumpalan darah dan harus dilakukan tindakan operasi.
Pukul dua dini hari si raja bisnis telah masuk keruang operasi.
Hanya ada Herlambang, mami Lyra dan Lee yang tetap menunggu didepan ruang operasi.
Kei bersikeras ingin menemani Ken sampai selesai dioperasi. Menunggu sampai sang suami sadar dan akan menjadi orang pertama yang dilihat oleh Ken. Tapi, keinginannya harus ditelan mentah-mentah karna dua babysister dirumah terus saja menghubungi mengatakan bahwa Kyura terus menerus menangis sedangkan Kio tidak nyenyak dalam tidurnya, sebentar-sebentar terbangun karna mencari keberadaan mommy dan daddy nya.
Kini Kei telah pulang kerumahnya dengan berat hati.
Sama halnya dengan Dewi yang juga harus pulang demi Alzeena dan Alvaro.
Dengan harapan besok pagi akan segera menyusul kembali ke rumah sakit.
Di dalam kamar, Kei tengah mengaASIhi Kyura. Jika biasanya setelah kenyang akan tertidur tapi malam ini Kyura tidak berpihak pada Kei, balita itu terus-menerus rewel dan merasa tidak nyaman. Mungkin baby Kyura juga memiliki ikatan batin dengan sang ayah, dia bisa merasakan sang ayah sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Belum selesai menenangkan Kyura, kini Kio ikut terbangun. "Mom, Dad mana?" tanya Kio tiba-tiba padahal kedua mata kecilnya belum sempurna terbuka. Setiap malam sebelum tidur biasanya Ken akan menggangu putranya, bercanda dan tertawa bersama. Tapi malam ini sang ayah tidak juga muncul membuat Kio terus menanyakan keberadaan ayahnya.
"Mom sudah bilang kalau Dad lagi sakit. Sekarang sedang dirawat dirumah sakit, Nak." jawab Kei dengan lembut. Mencoba memberi pengertian pada Kio.
"Kenapa kita tidak pergi ke rumah sakit? kita bisa nemenin Daddy. Kio pengen sama Dad." rengek Kio.
"Io ingat nggak ucapan Dad, anak kecil tidak boleh bermalam dirumah sakit. Di rumah sakit adalah tempat untuk orang-orang sakit. Disana banyak kuman jahat yang bisa menular ke badan kita." jelas Kei.
"Kalau tidak boleh ke rumah sakit, Io nggak bisa bertemu dengan Dad?" sedih Kio.
"Bukan nggak bisa, Sayang. Tapi waktunya harus dibatasi, besok pagi-pagi sekali kita jenguk Daddy ya, kalau sekarang sudah larut malam jadi pintu rumah sakitnya udah ditutup." beruntung Kio mempercayai ucapan Kei, setelah mendengar penjelasan itu kepala Kio mengangguk, tidak lagi menanyakan banyak pertanyaan.
"Sudah larut malam, Kakak Io tidur lagi ya," bujuk Kei.
Kio mengangguk dan merebahkan tubuhnya lagi. "Mom, puk-puk..." pinta Kio.
Kei mulai menepuk-nepuk pelan pan**t Kio dengan gerakan pelan dan teratur. Berharap tidur putranya bisa kembali nyenyak dan tidak terbangun disetiap jam.
Kei kewalahan mengurus dua anaknya, dengan Kyura yang terus menerus menyedot sumber makanannya. Sedangkan tangan sebelah digunakan untuk menepuk-nepuk putranya.
Belum lagi pikirannya yang berkelana jauh memikirkan keadaan suaminya.
Apa yang harus dia lalukan? benar-benar bingung dan merasa tidak berguna.
Selain itu, dalam benak yang nyata ia sangat merindukan sosok Ken yang manja dan hangat.
Setiap malam selalu dilalui bersama dalam dekapan kehangatan. Tapi malam ini Kei sangat merasa kehilangan.
Kamar yang besar dan mewah itu terasa kosong dan hampa. Meskipun matanya terasa berat, tapi perasaan khawatir itu telah menganggu hingga tak dapat memejamkan mata.
__ADS_1
Ia bisa merasakan sepanjang malam yang dingin dan hampa tanpa pelukan hangat dari seorang Kendra Kenichi.
'Aku sangat merindukanmu.' batin Kei ingin menjerit. Ingin sekali duduk bersimpuh menemani Ken sampai tersadar. Suaminya pasti akan sangat senang jika orang pertama yang dilihat adalah dirinya.
Pukul tiga pagi operasi masih terus berjalan dan belum ada tanda-tanda selesai. Lee yang duduk dikursi tunggu tidak sadar matanya telah terpejam. Rasa lelah menimbulkan kantuk yang teramat, sampai sulit untuk dikontrol.
"Aku ingin menunggu, Tupai."
"Kenapa Tupai pergi tidak mengajakku?!"
"Aku benci dengan Tupai!"
"Tupai... Tupai...!!!"
"Koi...! maafkan aku." Lee berteriak kencang dan mengigau. Baru setengah jam matanya terpejam ia harus terbangun karna sesuatu.
"Maaf, maafkan saya Nyonya, Tuan Besar. Saya hanya bermimpi." Lee mengucap maaf karna tidak enak hati telah mengganggu tidur mami Lyra.
"Koi?!" ucap mami Lyra. Keningnya mengerut dan berusaha mengingat kata itu.
"Sepertinya aku pernah mendengar kata itu?" ucap mami Lyra lagi.
Lee mengusap tekuk lehernya. Pandangan terarah kebawah namun tidak menjelaskan apapun.
"Oh iya, dulu waktu Ken sangat kecil sering menyebut kata Itu. Mi, aku dipanggil Koi sama Tupai. Ya, Ken dulu pernah berkata seperti itu." ucap mami Lyra yakin.
__ADS_1
Ketika ingat sesuatu, mami Lyra langsung menatap lekat mata Lee. Menelisik wajah Lee seolah curiga dengan sesuatu.
Lee sendiri tidak berani membalas tatapan mami Lyra yang seolah menuntut.
Ia tidak tahu apa-apa dan tidak bisa menjelaskan apapun. Begitu isi hatinya.
"Kau tahu Lee, dulu waktu Ken berumur lima tahun, ya seumuran dengan Kio sekarang dia pernah mengalami sakit yang lumayan lama gara-gara kehilangan si Tupai. Aku sendiri tidak tau Tupai siapa dan apa."
"Karna tidak mau makan dan selalu murung, Aku dan almarhum Papinya mencarikan binantang tupai untuk menggantikannya tupai yang selalu disebut-sebut oleh Ken. Tapi Ken menolak, kata dia, tupai itu nama kakaknya."
"Dari situ aku dan papinya bingung sekaligus takut. Takut dengan kejiwaan Ken yang terganggu, bahkan kami mengira Ken punya teman yang tidak sama dengan kita. Sejenis makhluk halus, kami bawa ke ustad untuk diruqiah tapi tidak ada perubahan."
"Sampai akhirnya Ken tumbuh dewasa dan tidak lagi mengingat kata Tupai itu." mami Lyra bercerita panjang lebar. Menceritakan suatu kenangan Ken semasa kecil.
Lee mendengarkan semua cerita mami Lyra hingga selesai, sorot matanya menatap lurus entah memperhatikan obyek apa.
Mendadak tenggorokannya terasa pahit dan sangat susah untuk menelan saliva.
Jika diperhatikan dengan jarak lebih dekat sorot matanya telah menggenang airmata namun pandangan Lee sengaja menunduk untuk menutupi ekspresi wajahnya.
Biarkan semua terlupakan. Tertutup dengan hal baru dan hal itu akan menjadi kenangan yang tidak akan di ingat. Semuanya telah terlewati dengan suka walau akhirnya harus penuh luka.
__ADS_1
"Kalau masih ngantuk, tidur lagi." kata Herlambang yang duduk disebelah mami Lyra. Melihat mami Lyra menguap ia menyuruhnya untuk melanjutkan tidur. Herlambang pun mendengarkan semua cerita itu tapi ia yang sebagai orang luar tidak paham dengan kehidupan Ken kecil. Tidak memberi tanggapan apapun.