
Kei menyodorkan sebuah topi putih dihadapan suaminya yang sedang menjatuhkan kepalanya diatas meja rias, Ken menerima topi itu dengan pasrah. "Sudah siap, ayo kita berangkat." Kei mengajak tuan Ken untuk keluar kamar, tentu saja tuan muda yang selalu berpenampilan keren itu enggan ingin menampakkan diri dihadapan orang-orang. Seperti orang sakit gigi, Ken diam saja ketika istrinya itu menggandeng tangannya. Mulutnya memang diam, tetapi sumpah didalam hati tuan muda itu sudah kesal setengah mati.
Dengan pelan menuruni anak tangga, para pekerja membuka mulut lebar saat melihat penampilan tuan Ken. Sedetik kemudian menutup mulut karna menahan suara tawa yang akan pecah. Sama halnya dengan mami Lyra yang tertawa melihat penampilan anak pertamanya.
"Ken, mami sampai tidak mengenalimu. Heaha.." mami Lyra menahan suara tawanya. Ken mendekatkan tubuhnya pada mami Lyra dan berbisik.."Mi, tolong Ken!" Ken meminta tolong kepada mami Lyra agar bisa membebaskannya dalam keadaan tidak berdayanya. "Mami tidak bisa menolongmu, Ken. Haha..." mami Lyra benar-benar tidak bisa menahan tawanya.
"Mami jangan menertawai suamiku! dia terlihat tampan!" Kei merajuk. "Ough, tidak sayang! mami tidak menertawai suami tampanmu itu, dia memang terlihat keren." jawaban mami Lyra membuat Ken semakin geram.
"Buahaaaaha...." sekretaris Lee yang baru datang tidak bisa menahan tawanya, hingga suara tawanya pecah momen pertama melihat penampilan tuan mudanya. "Samuel Aaron Lee!!!" Ken menatap tajam, seketika suara tawa Lee terhenti mendadak. Sekuat tenaga dia menahan tawa, sampai perutnya terasa kaku.
"Siapa yang berani menertaiku, aku benar-benar akan memberikan pasal!!" suara tuan Ken menggelegar. Kei hanya diam saja mendengar suara suaminya. Semua diam mematung, begitupun mami Lyra dia sudah tidak lagi menertawai Ken.
Kei kembali menggenggam tangan suaminya keluar dari rumah, didepan sudah ada mobil terbaru yang diinginkan Kei tadi. Bukannya senang, Kei justru cemberut. "Kau kenapa, baby?" Ken bertanya, dilihat istrinya itu seperti merajuk. "Aku tidak mau warna merah, aku maunya itu warna putih!" menyilangkan tangan didepan dada.
"Bukannya merah itu warna kesukaanmu?" Ken menjadi bingung. "Tidak, aku sekarang sukanya putih! dan aku maunya warna putih. Titik!" bukan hanya tuan Ken yang menghela nafas, Lee yang sudah berada disamping pintu mobil ikut menghela nafas. Sudah pasti dirinya lagi yang akan mengurusnya semuanya.
__ADS_1
"Baby, ini sudah sore sorum mobil sudah tutup. Besok saja ya kita belinya." Ken membujuk. Kei mengangguk setuju." Aku juga sudah tidak mau berjalan-jalan, tetapi..." ucapan Kei menggantung membuat Ken ketar-ketir kemauan seperti apa lagi? seperti ini sudah membuatnya tersiksa. "Tetapi apa?" Ken bertanya.
"Ayo kita masuk lagi sayang." Kei mengajak Ken untuk masuk kembali kedalam, sebelum itu Ken menyuruh Lee untuk mengembalikan mobil itu dan menukar dengan warna putih sesuai keinginan tuan putri itu.
Kei menarik tangan tuan Ken dan mengajaknya kedapur. "Baby kenapa kau mengajakku kedapur?" Ken kebingungan, dia sendiri tidak pernah masuk kedapur semua yang diinginkan sudah terhidang dihadapannya.
"Aku lapar." kata Kei. "Bukannya tadi sudah makan buah dan sandwich?" untuk ukuran orang normal memakan buah-buahan dan sandwich itu sudah sangat kenyang, tentu saja bagi ibu hamil itu hanya mengganjal perut saja.
"Aku ingin makan nasi goreng seafood." pintanya. "Baiklah, aku akan menyuruh 2koki yang biasa mengurus takaran gizimu." Ken sudah ingin pergi, tetapi Kei mencegah. "Tidak mau!" penolakan keras. "Tidak mau? lalu maunya apa?" biasanya Kei yang membutuhkan kesabaran extra. Kini berbalik, tuan Ken yang harus menyiapkan kesabaran extra untuk menghadapi aksi ngidam istrinya.
"Aku akan membuatkannya untukmu baby, apapun keinginanmu akan aku penuhi. Tetapi bolehkan aku bertanya resep nasi goreng untuk ibu hamil?" Kei mengangguk. Belum keluar dari dapur, karna disana ada beberapa pelayan yang berbaris dan juga 2koki. Tetapi mereka tidak berani mendekat atau menawarkan bantuan karna tuan Ken tidak memberi perintah.
Tuan Ken mendekati 2koki dan berdiskusi sebentar, setalah itu dia kembali menghampiri Kei yang duduk dikursi dapur. Ken membuka lemari pendingin untuk mengambil bahan-bahan, tangan yang putih menjadi merah karna mengambil bahan yang sudah beku.
Sesekali menggaruk rambut lepeknya merasa bingung, meski para koki sudah memberitahu tetap saja tuan muda yang tidak pernah memasak itu kebingungan.
__ADS_1
Memotong semua bahan dan mencuci dengan bersih, setelah itu mengambil nasi secukupnya.
Kei hanya memperhatikan suaminya yang sibuk menyiapkan bahan, dia sendiri tidak meneliti bahan apa saja yang tuan Ken siapkan.
Satu lagi yang membuat tuan Ken pusing tujuh keliling, yaitu bumbu. Dia tidak tau nama-nama bumbu, bahkan bawang merah dan putih juga tidak tau. Satu bahan dapur yang ia tau yaitu hanya cabe. "Honey, aku tidak tau bumbu membuat nasi goreng."
"Cuma bawang merah, bawang putih, cabe, garam dihalusin. Yang terpenting bumbu itu sudah ada disitu." jawab Kei, Ken menunjukan bahan-bahan didepan Kei dan mulai menghaluskan bumbu-bumbu. Tuan Ken hanya mengira-ngira saja takaran semua bumbu-bumbunya. Setelah itu menghidupkan api kompor dan menaruh panci diatasnya dan memulai bertempur dengan alat dapur. Keringat yang bercucuran tidak dihiraukan, dia fokus dengan masakannya. Api yang besar membuat masakan cepat gosong namun sebenarnya masakan itu sendiri belum sepenuhnya matang.
Pengalaman pertama yang begitu sulit, tuan muda yang biasa memegang bulpoin itu harus memegang spatula. Tuan Ken menambahkan kecap manis hampir setengah botol kecil, hingga nasi goreng itu terlihat hitam legam. Dia merasakan keanehan dari masakannya, biasanya nasi goreng buatan koki handal berwarna kuning keemasan, tetapi kenapa nasi goreng buatannya terlihat hitam sekali.
Setelah menurutnya sudah matang karna panti sudah mengeluarkan asap, Ken mematikan api kompor dan mengambil piring, memindahkan nasi goreng dan menghidangkannya didepan Kei yang masih setia menunggunya.
Nasi goreng pada umumnya akan terlihat nasi yang pulen dan kering tetapi nasi goreng buatan tuan Ken berbeda dengan banyak kuah berwarna hitam. Bahkan itu bukan seperti nasi goreng tetapi seperti sayur sup.
Kei segera menyendok dan memasukkannya kedalam mulut, tentu saja berbagai rasa terdapat dilidahnya. Rasa manis berlebih, pedas, bukan hanya pedas cabe tetapi tuan Ken menambahkan merica bubuk, ketumbar, kayu manis semua bumbu ia masukkan. Bawang merah dan bawang putih dengan sebagian yang masih utuh. Meski begitu Kei memakannya, sesekali mulutnya terbuka karna kepedasan. Ken yang penasaran dengan rasanya berniat mencicipi hasil perdana masakannya. Ketika nasi diujung sendok itu sudah masuk kedalam mulut dengan segera Ken mengambil tissu dan membuangnya.
__ADS_1