Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Kepulangan Rayden.


__ADS_3

Jika beberapa bulan yang lalu tuan Ken dibuat kelimpungan dengan aksi ngidam Kei, sekarang berganti dengan sekretaris Lee yang harus kewalahan melayani keinginan istrinya yang masih hamil muda. Untuk Kei sendiri, memasuki usia kehamilan 6bulan sudah tidak terlalu menginginkan sesuatu. Aksi ngidamnya sudah berkurang, saat ini yang Kei fokuskan yaitu masalah kesehatannya yang kadang menurun.


Tuan Ken juga sangat mengkhawatirkan kondisi Kei yang sering mengalami penurunan. Apalagi dengan ginjalnya yang hanya tinggal satu. Dokter sudah sering menjelaskan tentang resiko hamil dengan satu ginjal.


Hari ini Rayden dijadwalkan akan pulang, mami Lyra sedari tadi sibuk menyiapkan makanan yang disukai anak keduanya. Menyambut dengan kebahagiaan, Rayden yang jarang pulang membuat mami Lyra selalu merindukan putra keduanya.


Kei sedang duduk santai dihalaman belakang, meski mengetahui adiknya akan pulang tapi tuan Ken tetap masuk kekantor.


"Hallo mami..." seorang pemuda tinggi, gagah dan tentunya tampan dengan gaya style ala anak muda jaman sekarang sedang berjalan menyusuri ruang tamu. Ketika datang hanya maminya yang dicari.


"Ouh, anak mami sudah datang. Mami merindukanmu, Ray." mami Lyra menyambut kedatangan putra keduanya dengan sebuah pelukan.


"Kak Ken?" menanyakan keberadaan kakaknya. "Kamu seperti tidak paham dengan kakakmu." jawab mami Lyra. "Huh, apa yang aku harapkan dari kakak, menyambut ku? rasanya itu mustahil." Ray mengejek nasibnya sendiri, mempunyai kakak yang terlalu cuek.


Mami Lyra mengarahkan Ray untuk menemui Kei dihalaman belakang.


"Kei..." panggil mami Lyra, disampingnya sudah ada Ray. "Iya, Mi." jawab Kei dan menoleh kebelakang. "Hallo kakak ipar." sapa Ray ramah. Kei tersenyum. "Hallo, kamu pasti Ray." tebak Kei. "Tentu, aku adik kak Ken paling tampan." Ray memang tipe orang yang bawel, percaya diri dan juga sangat ramah. Berbanding terbalik dengan sikap dinginnya tuan Ken. Mereka bertiga akhirnya mengobrol bersama dihalaman belakang. Mami Lyra melupakan masakan spesial yang dibuatnya tadi, mereka asik mengobrol.


Tepat jam 4 sore tuan Ken sudah memasuki rumah, berjalan menuju kekamarnya. Ketika membuka pintu tidak mendapati Kei didalam kamar, kini sudah hapal dengan kebiasaan Kei yang selalu menghabiskan waktu dihalaman belakang. Tuan muda itu mengesampingkan rasa lelahnya, dia akan terus mengelilingi rumah sebelum menemukan istri tercintanya.

__ADS_1


"Hem... asik sekali kalian mengobrol." suara tuan Ken menghentikan obrolan. Ketiganya langsung melihat kearah tuan Ken yang sudah berdiri dengan cool, memasukan kedua tangan disaku celana.


"Kakak, kau tidak merindukanku?" Ray begitu senang, menghampiri kakak tersayangnya dan segera berhambur dalam pelukannya. "Apa yang aku rindukan dari adik nakalku ini?" tuan Ken memang bersikap cuek dengan adik satu-satunya itu, namun memiliki kepedulian yang besar.


"Hist... kakak sudah lama kita tidak bertemu kenapa sikapmu tidak berubah, selalu saja cuek dan dingin." keluh Ray, meski dewasa tapi masih menunjukan sikap manja. Sedari kecil dia memang selalu dimanjakan.


"Kau pria dewasa, bukan anak kecil." tuan Ken meledek. "Huh... terserah kakak." Ray merajuk. Mami Lyra dan Kei tersenyum melihat keduanya. "Kalian ini memang tidak bisa akur." sahut mami Lyra.


"Kakak, aku ingin memujimu." kata Ray. "Memuji tentang apa?" jawab tuan Ken. "Tentang kakak ipar, selera Kakak tidak berubah selalu memilih yang bening-bening." kata Ray dengan cengengesan.


"Dasar anak nakal! awas saja jika kau mengganggu kakak iparmu, aku akan mengirimmu jauh kepelosok desa."


"Rayden Kenichi!" tidak suka dengan candaan adik nakalnya, Ken sudah akan marah. "Tidak kak Ken, aku cuma bercanda." ketika tuan Ken sudah menyebut nama panjang seseorang, itu artinya sinyal-sinyal kemarahan sudah mulai muncul, untuk itu Rayden harus mengakhiri candaanya. Dia sendiri sangat hapal dengan kemarahan kakaknya yang tidak pandang bulu, siapapun bisa menjadi sasaran.


"Sudah-sudah. Kalian ini baru bertemu sudah seperti ini, tidak pernah akur." mami Lyra menengahi.


"Ken, kamu baru pulang, bersihkan badanmu biar segar. Setelah itu kita makan bersama." perintah mami Lyra. "Iya Mi, sebelum melihat keadaan Kei baik-baik saja Ken tidak akan tenang." jawab tuan Ken. "Kakak, kau lebay. Kakak ipar baik-baik saja, apa yang kakak khawatirkan."


"Kau tidak tau apa-apa Ray. Diamlah! bagiku keadaan Kei itu lebih penting dari apapun."

__ADS_1


"Kalian ini memang susah dibilangin. Ray, kamu masuk kedalam bersama mami. Dan Kei, ajak suamimu masuk juga. Jika disini terus maka dua pria ini bisa-bisa saling berkelahi." kesal mami Lyra. Setelah itu mami Lyra menarik tangan Ray untuk diajaknya masuk. Sedangkan tuan Ken masih ingin menikmati kebersamaan dengan Kei. Duduk disamping istrinya.


"Aku baru tau jika suamiku bisa seperti anak kecil." setelah Ray, kini berganti Kei yang meledek. "Huh, ini gara-gara Ray yang membawa pengaruh buruk." tuan Ken malah menyalahkan adiknya.


"Kalian itu sama saja." kata Kei. "Keberadaan anak itu menganggu hari damaiku." tuan Ken mendesah berat. "Apa kalian tidak pernah akur?" meski Kei sudah menyaksikannya tuan Ken dan adiknya yang tidak akur tapi Kei tau keduanya saling menyayangi.


"Kau tau sendiri sikap Ray yang jahil dan suka berlebihan, aku tidak menyukai itu."


'Berlebihan? tidak salah kau mengatakan adikmu berlebihan? bukanya kau sendiri yang suka seenaknya dan bersikap berlebihan.' batin Kei.


"Sayang, harusnya kau jangan bersikap seperti itu dengan adikmu sendiri. Tunjukan rasa sayangmu kepadanya, aku bisa melihat Ray begitu menyayangi kakaknya yang tampan ini." Kei memberi nasehat dan juga ledekan yang berbentuk pujian pada tuan Ken.


"Itu akan aneh bagiku, dari dulu aku seperti ini. Menunjukan kepedulianku dengan caraku sendiri." jawab tuan Ken. Dia tidak ingin merubah sikapnya, baginya sikap yang ditunjukan sekarang sebagai bentuk kasih sayang yang berbeda dari seorang kakak. Kei menghela nafas.


"Sweety, kapan kita akan berbelanja perlengkapan bayi. Aku sudah tidak sabar ingin melihat tangan mungilnya." tuan Ken mengganti topik pembicaraan. Tangannya begitu hobby mengusap perut Kei yang baginya setiap hari semakin besar.


"Nanti saja setelah acara tujuh bulanan kita baru boleh membeli perlengkapan bayi." jawab Kei. Pandangannya fokus menatap tangan tuan Ken. "Bulan ini aku ingin melihat bayi kita, aku penasaran dengan jenis kelaminnya." sebenarnya sudah 2kali dokter melakukan USG tapi bayi itu sepertinya pemalu, karna kedua pahanya menutupi alat kelaminnya. Hingga dokter kesusahan melihatnya.


"Bagiku berjenis kelamin laki-laki atau perempuan itu sama saja, yang terpenting sehat tanpa kekurangan apapun." jawab Kei.

__ADS_1


"Kau benar Honey, laki-laki atau perempuan sama saja, mereka tetap malaikat kecil yang membawa kebahagiaan untuk keluarga kita."


__ADS_2