
Kebahagiaan memang mahal untuk ditebus, terkadang harus melewati rasa sakit dan kesedihan. Dengan perjuangan, kebahagiaan akan jauh lebih sempurna.
Ken tidak memperhatikan jalanan sekitar, mata yang meredup itu seolah malas untuk terbuka.
"Tuan muda, kita mau kemana?" tanya Lee. Ia memang sengaja bertanya, apakah tuan mudanya masih bisa teliti dengan keadaan sekitar.
"Terserah. Atau kita pulang saja, aku lelah." jawabnya dengan keputusasaan.
Bagaimana tidak putus asa, hampir dua malam ia tak berhasil menemukan keberadaan istri dan anaknya. Keadaan yang berantakan. Kantung mata yang menghitam, semalam tidak bisa tidur.
Hari ini pun rumahnya berganti diatas mobil, seharian mencari kesana kemari.
'Kejutan seperti apa ini? malah seperti prank yang menyiksa.' batin Lee. Tapi sudut bibirnya menyunggingkan senyum. Ia melihat cinta tuan mudanya begitu besar untuk seorang wanita bernama Keihana Kazumi.
'Kau harus segera menemukan kebahagiaanmu, tuan. Maafkan kami yang telah berdosa karna mengerjaimu.'
Sekretaris yang biasa melindungi tuan mudanya, tidak membiarkan sedikit pun kabut kemarahan menyelimuti Ken, tapi ia ikut bergabung dalam menciptakan kejutan. Meski dia sendiri yang direpotkan, itu memang sering terjadi. Ia tak menganggapnya sebuah beban.
Lee menambah laju kecepatan mobil, supaya tuan mudanya segera bisa tersenyum kembali.
Membelokan mobil kesebuah gedung hotel tertinggi yang mencakar langit.
Merasakan mobil yang terhenti, kini Ken membuka mata. Diluar sudah sangat gelap, jam menunjukan pukul delapan malam.
"Lee, apa kita sudah sampai?" tanya Ken. Dipikir sampai didepan rumahnya.
"Iya tuan muda, kita sudah sampai." Jawab Lee, melirik kebelakang. Ternyata tuan Ken baru membuka mata.
Lee turun lebih dulu dan membukakan pintu, Ken segera turun. Saat melihat bangunan didepannya Ken terkejut, itu bukan rumah melainkan salah satu hotel miliknya.
"Kenapa kita ke Hotel, Lee?" Ken keheranan.
"Mari tuan muda." Lee membungkuk sebentar, tak mengindahkan pertanyaan atasannya.
Ken hanya menurut, tubuhnya benar-benar terasa lelah. Untuk itu ia enggan protes dan berjalan masuk.
__ADS_1
Di loby hotel para karyawan menunduk hormat. Ken yang tidak semangat hanya menganggukkan kepala untuk membalas sapaan mereka.
Di hotel miliknya tentu Ken mempunyai kamar khusus saat menginap atau sekedar singgah. Lee menekan angka tertinggi dari bangunan itu menuju kamar biasanya.
Seperti tadi, Ken tidak banyak berbicara dan diam seribu bahasa. Setelah masuk kedalam kamar, tuan muda itu langsung menjatuhkan diri diatas bed.
Lee mendekat dan melepas sepatu tuan Ken.
"Lee, kau pulang saja. Baiklah malam ini aku akan tidur disini, aku sudah lelah." kata Ken, membuka ikatan dasi dan melemparnya asal.
"Baik tuan muda. Jika anda membutuhkan sesuatu, didepan sudah ada pengawal yang berjaga. Saya permisi." Lee meninggalkan Ken sendiri.
Setelah pintu tertutup, Ken membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar hotel. Masih betah tidur diatas bed yang empuk. 'Honey, kau dimana? tidak cukupkah kau menyiksaku seperti ini. Maafkan aku, apa kesalahanku terlalu berat sampai kau tega menghukum ku dan menjauhkan aku dengan baby Kio.'
Ken mengambil ponsel dan membuka koleksi foto keluarga kecilnya, Kei sedang menggendong baby Kio dan ia memeluk dari samping dan mencium pipinya.
Rindu yang dirasa terlalu berat, keinginan untuk bertemu sangat menggebu-gebu tapi apa daya sang istri masih belum menyudahi penderitaannya.
Mata elang yang tajam itu kian meredup menggenang airmata kerinduan, tak terasa menetes membasahi pinggiran mata. Semakin terpana pada senyumnya, Ken semakin merindukannya.
Lelahnya beban pikiran rindu dan kesendiriannya, Ken terlelap dalam buaian mimpi.
Sekretaris Lee tidak langsung pulang, ia sedikit tenang karna istrinya, Dewi sedang ditemani Ibu mertua yaitu ibu Maryam. Ia tidak akan khawatir istrinya Kenapa-kenapa, mengingat Dewi sudah hamil tua dan sebentar lagi akan melahirkan. Tapi saat ini, ia ada tugas tidak bisa menemani istrinya. Untuk itu ia meminta tolong Ibu Maryam menemani Dewi.
Lee membuka pintu yang berjarak beberapa kamar dari kamar tuan Ken tadi.
"Nona Kei." membungkuk hormat.
"Sekretaris Lee, aku tadi melihat suamiku." kata Kei dengan senyuman.
"Iya Nona, tuan muda sedang istirahat. Sebenarnya saya tidak tega melihat dirinya seperti itu." Lee duduk disofa singel.
"Aku lebih tidak tega dari mu. Tapi tinggal beberapa jam lagi, maka kejutan kita akan berhasil." ucapnya dengan ceria. Ia sedang menimang-nimang baby Kio.
2malam ini baby Kio ternyata tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia rewel dan menangis terus. Kei sampai kewalahan untuk menenangkan. Mungkin bayi mungil itu merasakan kegundahan ayahnya, ia merindukan pelukan dan ciuman dari Ken. Jika biasanya setiap saat Ken mengganggu tidur, tapi kini sudah 2hari tidak merasakan sentuhan tangan Daddy.
__ADS_1
"Kenapa sayang? kau merindukan Daddy mu? sabar ya, tidak lama lagi kita akan memberi kejutan untuk Daddy." Kei mengajak Kio berbicara, baby Kio bergerak-gerak.
"Sekretaris Lee, aku ingin bertanya. Apakah suamiku pada malam itu menikmati cumbuan dari Tasya?" tanya Kei tiba-tiba.
"Tidak Nona. Saya saksinya, malam itu tuan muda hanya berpura-pura menikmati bahkan ia berpura-pura seperti sedang dalam pengaruh obat. Itu memang rencana kami untuk menjebak Tasya agar mau meminum minuman yang sudah kami beri obat. Setelah wanita licik itu tidak sadar, tuan Ken keluar dan tugas itu digantikan oleh pengawal. Kami menyuruh pengawal untuk menanyakan, siapa yang menyuruhnya. Dari situlah kami tau, ternyata Deny yang ada dibalik rencana jahat itu.
Malam itu, setelah tuan muda keluar dari kamar kami berdua langsung memutuskan untuk pulang. Dan tidak ada hal apapun yang terjadi." Lee menjelaskan panjang lebar.
Kei terdiam mendengarkan penjelasan dari Lee, perasaanya memang mengatakan tidak. Tapi ada keraguan juga saat menyaksikan video itu, bahkan sampai saat ini, ia dengan jelas bisa mengingat cumbuan itu. Kei menggelengkan kepala pelan, ingin mengusir bayang-bayang itu.
"Nona, anda baik-baik saja?" Lee ingin menyadarkan nona muda yang terlihat melamun dengan pemikirannya.
"Ti-tidak, aku tidak pa-pa."
Menunggu lumayan lama, jam didinding sudah menunjukan hampir tengah malam.
Semua sudah berkumpul didepan kamar tuan Ken.
Semua sudah siap dengan kejutan masing-masing.
"Bagaimana? kalian sudah siap?" tanya wanita paruh baya, yang tak lain adalah mami Lyra.
"Siap dong Mi," jawab lelaki yang menjemput Kei dengan mobil sport putih.
Semua sudah bersiap, Lee masih berada disana dan membuka pintu kamar tuan Ken.
Hanya lampu temaram yang menyoroti tubuh tuan Ken. Ia masih terlelap.
Dengan sangat pelan dan hati-hati mereka semua masuk.
"Satu, dua, tiga..." seketika suara terompet yang berisik membangunkan raja singa yang sedang mengarungi mimpi.
Begitu nyaring dan kerasnya suara terompet,
Ken benar-benar terkejut sampai terjungkal dari atas bed.
__ADS_1