
Wanita memang terlahir dengan paras cantik, setiap wajah memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang berkulit putih, kuning langsat, kecoklatan bahkan berkulit hitam. Tapi pada dasarnya apapun warna kulit, semua memiliki keistimewaan sendiri.
Butuh waktu lama bagi Kei untuk merias wajah, padahal sebelumnya ia tidak terlalu suka duduk didepan cermin dan memoles berbagai merk make up. Tapi akhir-akhir ini jari-jari tangan itu semakin mahir menggunakan alat make up. Semua tak luput untuk dipoles. Mulai dari alis, bulu mata, kelopak mata, hidung, kedua pipi dan terakhir bibir mungilnya.
Rambut panjangnya tak lupa untuk dibuat model keriting sosis. Ia memutar badan, meneliti penampilan depan dan belakang.
"Perfect," Ia memuji dirinya sendiri. Senyum manis tersungging dibibir mungilnya.
Berjalan lenggak lenggok menuju kamar mertuanya, dengan tangan kanan menenteng sebuah tas mewah pemberian Mami Lyra waktu itu.
Tangan sebelah memutar handel pintu.
Ken dan Mami Lyra tertuju padanya. Kedua orang dewasa itu sampai melebarkan bola mata. Benar-benar tidak percaya jika itu Kei.
Keduanya terdiam, membeku, hanya kedipan mata yang mewakilkan pertanyaan mereka.
"Sayang, Mami, Kei sudah siap. Ayo kita berangkat," ucap Kei dengan senyum mengembang.
"Honey, kau cantik sekali?" tanpa sadar Ken memuji penampilan Kei.
"Terima kasih, ah... kau membuatku malu," Kei terlihat malu-malu.
Kening yang banyak kerutan itu kembali mengernyit. Mami Lyra baru melihat perubahan pada diri Kei. Berarti benar yang diceritakan Ken, bahwa Kei menjadi aneh.
"Mami, kenapa melamun?" tanya Kei.
"Eh... Enggak Sayang, Mami terpesona melihat dandan mu. Kamu cantik sekali." Mami Lyra gugup. Padahal dalam hati juga bertanya-tanya, ada apa dengan Kei yang jauh berubah. Dari cara bicaranya tidak sama seperti biasanya. Kei lebih terlihat kemayu.
'Jangan-jangan, apa yang aku duga tadi benar, Kei hamil lagi?'
"Dad, Mom, Oma. Ayo kita berangkat sekarang, Io lelah seperti ini terus. Aku pengen liat Om pengantin sama makan kuenya." Kio mengajak semuanya untuk segera berangkat. Ia lelah dan bosan menunggu.
"Oke Bossy, let's go..." Ken beralih menggendong Kio. Dan Mami Lyra bersama Kei mengikuti dibelakang.
Mereka semua menuju ke gedung Hotel tempat acara resepsi digelar.
Kehadiran Ken dan keluarganya tentu mengundang perhatian pengunjung lain. Para tamu memandang kearah keluarga Ken.
__ADS_1
Dari segi pakaian dan barang yang digunakan sudah berbeda dari yang lain.
Banyaknya pengunjung mendadak hening. Mereka hanya berani berbisik, membicarakan anggota keluarga dari raja bisnis.
Wajah Ken didepan publik memang terlihat tegas dan dingin, mereka sangat segan pada tuan muda itu.
Bahkan Bossy kecil keturunannya tak kalah cuek dengan wajah Daddy nya.
Belum genap 5tahun tapi bocah itu sudah terlihat angkuh seperti Ken.
Benar-benar duplikat Ken kecil.
"Pantas saja para tamu undangan terdiam, ternyata manusia arogan sudah datang." ucap Tristan. Ia yang sedari tadi menjadi pusat perhatian sedikit terganggu dengan kehadiran sahabatnya sendiri.
Ia yang harusnya menjadi pusat perhatian kini diabaikan gara-gara kehadiran raja bisnis. Semua pandang mata beralih melihat kearah Ken.
Hei, aku pengantinnya. Kenapa kalian lebih memperhatikan manusia arogan itu!
Begitu kekesalan hatinya yang terpendam. Kini hanya menggerutu dan berdecih.
Ken langsung menuju ke pelaminan untuk memberi ucapan selamat pada sahabatnya yang telah resmi melepas status sendiri menjadi beristri.
Masih menggendong Kio disebelah kiri, Ken mendekap tubuh Tristan dengan tangan kanannya.
Senyum kebahagiaan terpancar. "Selamat Tan, akhirnya kau melepas masa kesendirian mu. Semoga pernikahan kalian bahagia sampai tua." Ken mengatakan dengan tulus.
Tristan membalas dengan senyuman. "Terima kasih Ken, meski kau sahabat yang menyebalkan. Tapi kau juga terbaik."
"Selamat Dokter Sofia, ternyata jodoh anda bersama Tristan. Semoga sakinah, mawadah, warahmah." Kei memberi selamat.
"Amin. Terima kasih, Nona Kei untuk do'anya dan kehadirannya." jawabnya.
Setelah Kei bergeser, kini berganti mami Lyra yang memberi ucapan selamat.
Kei beralih dihadapan Tristan. "Selamat... eum.. untuk pernikahan kalian." Kei bingung harus menyebut Tristan dengan panggilan apa. Melirik kearah suaminya. Wajah Ken sudah menunjukan kesuraman. Akhirnya Kei hanya memberi ucapan singkat.
"Terima kasih, Kei." jawab Tristan dengan senyuman.
__ADS_1
Membuat wajah tuan muda Ken bertambah suram. Menyebalkan.
Seusai memberi ucapan, Ken dan keluarganya turun dari atas panggung dan menuju meja yang telah disediakan, khusus untuk keluarganya.
Ken dan yang lain duduk dengan khidmat, menikmati hidangan yang disuguhkan.
Kio, bocah itu sudah melahap kue ceria.
"Om," sapa Ken, saat pria paruh baya menghampiri mejanya.
Bramantyo tersenyum dan duduk disamping Ken. "Nikmatilah hidangannya. Terima kasih Ken kau sudah datang," ucapnya.
"Dia sahabatku, Om. Tentu aku dan keluarga pasti datang." jawab Ken ramah. Ia memang sangat mengenal lelaki setengah tua itu.
"Sejak kau membantu perusahaan Tristan, perusahaan itu bisa kembali berkembang. Terima kasih," ucapnya dengan serius.
"Om, jangan terlalu sungkan. Om tetap aku anggap sebagai kelurga. Tidak perlu berterima kasih."
"Kamu disini Bram. Aku mencari mu." terdengar suara dari seorang pria paruh baya, yang tak lain adalah Papanya Almarhumah Olive.
Herlambang, memang mencari Bramantyo, adiknya. Tapi lirikan matanya tertuju pada Ken.
Ken juga memandang kearahnya, pria paruh baya yang dulu menjadi mertuanya.
"Banyak tamu yang mencari mu, kenapa kau malah bergabung dengan pembunuh ini!" Herlambang berkata dengan nada dingin.
Ken membuang pandangan kesamping. Memejamkan dan menghembuskan nafas.
Bertahun-tahun lamanya, ternyata Herlambang masih menyimpan dendam atas kematian putrinya. Padahal Ken tidak melakukan tuduhan itu. Semua sudah terkuak saat pembantu sialan bernama Ita mengungkap kejahatannya sendiri. Secara tidak langsung Ita yang telah merencanakan pelenyapan Olive.
"Pa, aku bukan pembunuh Olive. Sudah aku jelaskan, bahkan ada bukti. Tapi kenapa Papa masih menyalahkan aku." meski waktunya kurang tepat, tapi Ken ingin membantah tuduhan itu. Berkali-kali Ken menjelaskan, tapi Herlambang tetap kolot dengan pemikirannya. Bagaimanapun pembelaan yang dilakukan oleh Ken, seolah itu semua sia-sia. Mata hati Herlambang sudah tertutup dengan rasa benci.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku tidak sudi dipanggil Papa oleh seorang pembunuh sepertimu." Herlambang menekankan kata pembunuh. Kedua matanya nyalang menatap wajah Ken.
"Mas, sudah. Ini acara pernikahan putraku, tolong jangan ada keributan. Malu dengan tamu yang lain." Bramantyo menengahi.
Beruntung pengunjung lain sedang sibuk menikmati hidangan dan juga mendengarkan alunan musik yang cukup keras, sehingga tidak mendengar perdebatan kecil itu.
__ADS_1