
Lee menghentikan motornya didepan sebuah cafe. Dewi terdiam, bertanya dalam hati kenapa tuan sekretaris menghentikan motornya disana. Lee melepas helm dan menaruhnya didepan motor.
"Kau mau begini saja, tidak mau turun." Dewi melepas pelukannya, rona merah sudah terlihat. Bagaimana bisa dia memeluk tubuh sekretaris Lee, antara malu dan senang. Dalam hati Dewi mengagumi ketampanan sekretaris Lee, tetapi tidak pernah terbayangkan bisa dekat bahkan bisa memeluknya seperti ini.
"Maaf, kenapa berhenti disini tuan?"
"Kalau orang pergi ke Cafe itu untuk apa?"
"Biasanya makan, bersantai ada juga yang berkencan."
"Kau tinggal pilih mau berpikir yang mana." Lee sudah turun dari motor, sedangkan Dewi masih berada diatas motor.
"Tuan sekretaris, aku takut terjatuh." Dewi merentangkan tangan menarik Lee hingga tubuh mereka bertabrakan.
Deg...deg... suara jantung yang berdegub kencang, mereka berdua saling berpandangan.
"Hari minggu banyak pasangan romantis yang bertebaran. Haha..." ucap seorang lelaki yang melewati Lee dan Dewi. Keduanya tersadar dan salah tingkah, Lee segera melangkahkan kakinya masuk kedalam Cafe. Dewi masih terdiam diposisinya, ingin menetralkan degub jantung yang masih berdebar. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Lee menghembuskan nafas, kembali keluar.
"Hei nona unik, kau tidak ingin masuk?" Dewi membuka kedua telapak tangan, dengan susah payah turun dari motor dan berlari kecil menghampiri Lee. Berjalan menunduk dan menggigit bibir bawah untuk menahan senyum, hatinya terlalu berbunga bisa sedekat ini dengan tuan sekretaris itu.
"Auh'..." Dewi meringis, memegangi hidung yang sakit karna menabrak tubuh sekretaris Lee yang berhenti didepannya. Dewi yang menunduk tidak menyadari jika tuan sekretaris sudah berhenti, hingga dia menabraknya.
"Selain unik, kau juga suka bertingkah konyol." Lee memilih tempat yang tidak terlalu ramai, segera duduk dan mengambil buku menu makanan Dewi ikut duduk didepan sekretaris Lee. Pelayan datang untuk mencatat pesanan makanan. Selesai memilih menu makanan, Lee menyodorkan buku menu dihadapan Dewi, Dewi melirik sekilas dia bingung ingin memesan apa membolak-balikkan buku menu. Dia melihat harga makanan yang terbilang mahal baginya, hingga segan untuk memesan.
"Mbak, pesan mie goreng sama air putih saja." mendengar itu pelayan yang berdiri disamping Dewi menutup mulut, menahan suara tawanya. Lee mengedipkan mata, 'gadis ini!' Lee geram, tidak habis pikir dengan menu makanan yang dipesan gadis didepannya.
__ADS_1
"Jangan dengarkan dia, samakan saja pesanan makanannya." akhirnya Lee memesankan menu makanan yang sama dengan dirinya.
"Disini tidak ada menu mie goreng dan air putih, kau ini ada-ada saja."
"Tadi aku lihat harga makanannya mahal-mahal, inikan tanggal tua aku belum menerima gaji."
"Hem benar, kalau begitu kau punya hutang padaku."
"Hah?" Dewi bingung.
"Kau sudah tau 'kan harga makanan yang aku pesan, kalau punya uang bayar sendiri." mendengar itu Dewi membuka tas dan mengambil dompet meneliti isi dompetnya. Hanya ada beberapa lembar uang pecahan, berpikir tidak akan cukup untuk membayar makanan yang dipesan.
"Uangku tidak cukup." malu setengah mati saat mengatakan itu. Lee tersenyum, baginya gadis itu sangat lucu.
"Baiklah, aku berhutang padamu tuan, padahal ini bukan kesalahanku. Tuan sekretaris sendiri yang mengajakku kemari dan mengganti menu makanan yang aku pesan." Dewi terlihat kesal.
"Anda tidak bilang kalau lapar, kita bisa mencari makanan dipinggir jalan disana lebih murah cuma 10ribu untuk satu porsi mie ayam." Dewi berasal dari keluarga yang sangat sederhana, sudah biasa baginya untuk berhemat agar bisa memberikan sebagian uang gaji kepada ibunya untuk membantu biaya hidup. Gadis itu hanya tinggal berdua dengan ibunya, tidak jarang menjadi tulang punggung karna ibunya hanya seorang penjual kue yang menerima pesanan dari tetangga. Saat Dewi libur bekerja dia memanfaatkan ponselnya untuk menjual kue lewat sosial media, dia juga bersedia menghantarkan kue-kue kerumah pembeli.
"Aku tidak pernah makan makanan seperti itu."
"Eem,, iya aku lupa, kau 'kan horang kaya mana tau makanan terlezat saat tanggal tua begini." Dewi tersenyum mengejek. Lee diam saja tidak memberi respon. Dewi kembali membuka dompetnya. Mengambil beberapa lembar uang yang tersimpan.
"Ini aku cicil hutangnya, biar tidak terlalu banyak." menyodorkan 5lembar uang sepuluh ribuan didepan sekretaris Lee, uang kembalian dari warung tadi pagi hingga terdapat berbagai bentuk, ada yang bolong dan ada yang bertuliskan nama ada juga tulisan abstrak. Lee menggelengkan kepalanya, benar-benar heran dengan kelakuan gadis itu.
"Kau menghinaku?" suaranya datar, terus menatap kearah Dewi.
__ADS_1
"Tidak tuan sekretaris, aku tidak menghinamu. Aku hanya berniat mencicil hutang agar tidak terlalu banyak." Lee menghirup udara dan menghembuskan dengan kasar.
"Nona unik, aku tidak menerima cicilan hutangmu! jika kau ingin membayar maka bayar saja dengan cara lain. Satu lagi, jangan dibayar dengan uang." Lee terlihat serius.
"Lalu, aku harus membayar dengan apa tuan?"
"Terserah," Lee manjawab dan mengangkat bahu, Dewi nampak berpikir. Tetapi pelayan sudah datang, menyajikan makanan didepan mereka.
"Silahkan dinikmati, tuan dan nona." pelayan mempersilahkan dengan ramah.
"Terima kasih..." Dewi menjawab dengan tersenyum. Dewi melihat makanan diatas meja, terlihat menggiurkan. Menelan ludah, tidak sabar ingin menghabiskan makan itu.
"Makanlah." Lee mengambil makanan sesuai seleranya, meski dia tadi kelaparan tetap menikmati makannya dengan santai. Berbeda dengan Dewi yang sudah menghabiskan setengah makanannya.
"Makan dengan pelan nona, kau bisa tersedak." Dewi tersenyum.
"Makanannya enak sekali," Dewi mengacungkan ibu jari dihadapan Lee. Lee mengangkat sebelah sudut bibirnya. Baru pertama Lee mengajak seorang perempuan makan bersama, selama ini tidak pernah dekat dengan perempuan. Hidupnya terlalu sibuk mengabdi kepada tuan Ken tidak sempat memikirkan hal-hal seperti ini. Meski umurnya sudah pantas untuk menikah tetapi dia masih senang dengan kesendiriannya.
Lee mengambil tissu dan mengusap bibir Dewi yang terdapat sisa makanan. Dewi menatap wajah sekretaris Lee, hal yang sama juga dilakukan keduanya saling menatap.
'Tuan, uwuw... kau jangan memperlakukanku sebaik ini. Aku takut, semakin jauh mengagumimu. Jika seperti ini kau seperti pria yang romantis, tetapi sesaat kemudian kau bisa berubah menyebalkan. Apapun itu, aku tetap kagum...'
'Gadis ini, kenapa jantungku berdebar saat menatapnya seperti ini. Pasti ada yang salah dengan jantungku, tetapi dia begitu cantik dan menggemaskan. Dia sederhana dan natural. Oh...Lee, dlsadarlah...' Lee tersadar, menarik tangannya dan membuang tissue tadi. Dewi melihat kesana-kemari, menutupi rasa gugup dan malu.
"Tadi ada sisa makanan dibawah bibirmu." ucap Lee.
__ADS_1
"Iya, terima kasih sudah membantu membersihkannya."
"Jika aku tidak membantu, aku juga yang akan malu." keadaan seperti inilah yang Dewi tidak suka, baru saja berbunga-bunga tetapi sekretaris Lee membuat bunganya layu.