Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Tidak masuk akal


__ADS_3

Ken masih sangat cemas, menunggu satu jam setengah didepan ruang operasi tak membuatnya tenang. Kaki panjangnya tak henti melangkah kesana kemari menandakan sebuah kecemasan.


Sesekali mengusap wajah kasar, menyangkutkan satu telapak tangan dibelakang leher, memijat pelipis atau meninju-ninju dinding kokoh namun dengan kekuatan lemah.


Semua yang dilakukan itu demi mengurangi rasa cemas. Tapi apa daya, sebelum dokter keluar dan mengatakan bahwa istrinya baik-baik saja atau menerangkan bahwa Kei dan bayinya selamat perasaan cemas itu tidak akan hilang. Semakin membumbung tinggi mengisi relung hati.


Tak jauh dari posisi tuan Ken ada sekertaris Lee yang bersandar ditembok. Bola matanya bergerak kesana kemari melihat pergerakan tuan Ken. Merasa jengah namun tak ada keberanian untuk mencegah.


"Lee, hancurkan bangunan toilet laknat yang telah membuat istri ku dan calon anakku celaka."


"Ha..." Lee terbengong dan tak percaya dengan perintah tuan Ken barusan. Menatap wajah bosnya lekat-lekat tapi wajah itu menampilkan mimik keseriusan bahkan cenderung ke marahan yang berapi-api membuatnya tak berani untuk menyanggah.


Bahkan dia sendiri sedang memasang wajah bodoh dan kebingungan. Bagaimana tidak, apa yang harus ia katakan pada pengelola taman umum. Bangunan toilet itu telah membuat nona Kei celaka maka harus dimusnahkan. Apakah harus mengatakan alasan tak masuk akal, begitu? bukan kah itu konyol? dan lagi-lagi pekerjaan seperti itu dialah yang harus mengerjakan.


Apa yang ia lakukan selain menghembuskan nafas panjang. Mencari sesuatu alasan atau ide agar tidak perlu melakukan. Toh nona mudanya terjatuh mungkin karna kurang berhati-hati, terpeleset, mungkin. Jadi, bukan kesalahan bangunan itu 'kan?


Ah... lagi-lagi si manusia arogan, pintar urusan bisnis namun nol dalam menganalisis kejadian menjadikan tuan Ken manusia egois yang bo doh, tapi tak mungkin ia mengatakan itu didepan bosnya. Yang ada nyawa lah taruhannya.


Melihat Lee terdiam dengan lamunan kosong membuat Ken meradang dan menatap tajam kearahnya membuat Lee menciut.


"Sepertinya baru disituasi ini aku tidak menghajar mu," sungut Ken menggebu. Sudut bibirnya terangkat seolah meremehkan dengan sinis.


Lee menggaruk pelipis dengan menunduk. Begitu saja membuatnya mengkerut, menyiapkan diri jika sewaktu-waktu tinjuan Ken melayang pada sisi wajahnya. 1menit, 2menit, tapi yang ditakutkan tidak terjadi, Lee memberanikan diri menoleh.


"Kau tau Lee, aku sangat takut terjadi sesuatu pada Kei dan anakku," ucapnya bergetar. Sungguh ekspresi yang cepat sekali berubah.


"Kenapa mereka tadi pergi tidak meminta izin?"

__ADS_1


"Sampai Kei harus terjatuh dan mengalami pendarahan hebat?"


"Aku harus menyalahkan siapa? para pengawal bodoh atau bangunan toilet laknat itu!"


"Cih... tunggu saja, bangunan toilet sialan itu pasti akan luluh lantah tak tersisa."


Lee hanya terdiam demi mendengarkan ocehan tuan Ken yang aneh. Sekalipun ia belum menyahut. Menunggu kata yang keluar lagi.


"Lee kenapa kau diam begitu? kau ke sambet penghuni bangunan bang sat itu?" suara Ken terdengar meninggi.


Lee terkesiap dan secepatnya menjawab. "Tidak tuan muda, saya masih mendengar ucapan anda dan merancang jawabannya."


"Lalu apa tanggapan mu?" sentak Ken.


"Me menurutku tidak perlu menghancurkan bangunan usang itu tuan, hanya membuang energi. Bukan kah semua sudah terjadi. Yang terpenting saat ini adalah kondisi nona Kei."


"Jadi tidak perlu merobohkan bangunan sialan itu? kau payah Lee. Apapun jenisnya, manusia, hewan, bangunan atau benda mati jika salah satu itu membuat Kei atau putraku celaka maka wajib untuk dimusnahkan!" mata Ken masih terlihat tajam seperti parang yang baru dibuat. Tajam dan mengerikan.


Dengan menggelengkan kepala Lee menjawab. "Baiklah tuan muda, semua akan saya kerjakan." entah jawaban masuk akal atau tidak. Yang terpenting Ken bisa tenang, jika tuan arogan itu tersulut kemarahan karna perintah darinya tak dikerjakan maka semua akan rumit dan kacau.


Kedua lutut Lee sudah semakin pegal, selama satu setengah jam itu sama sekali tidak merubah posisi menjadi duduk, dirinya terus saja berdiri dan bersandar ditembok. Ia tak mungkin mendudukan diri sementara bos nya cemas dan berjalan kesana kemari. Sungguh mengesalkan.


Melihat kebawah lantai marmer putih yang bersih dan mengkilap membuatnya ingin bergulungan, tubuhnya terasa pegal dan ingin sekali rebahan. Melirik pergerakan tuan Ken yang baru saja mendudukan bo kong nya, ia bernafas lega.


Akhirnya dua kaki itu akan bisa beristirahat. Ia segera menghampiri Ken dan mulai duduk dikursi yang ujung tapi pantat itu terhenti saat tuan Ken malah berdiri. Ia bahkan dalam posisi setengah berjongkok. Meneruskan duduk atau mengikuti Ken yang lagi lagi berdiri dan berjalan mondar mandir.


Tentu tak enak hati jika tuan Ken saja berdiri lalu malah dirinya duduk tenang. Jika tuan Ken melihatnya santai dan tidak terlalu khawatir tentu akan marah.

__ADS_1


'Yang sabar Lee. Berdo'a semoga pintu itu segera terbuka maka kau bisa bersantai.' batinnya.


Biasanya ketika Kei mengalami sesuatu maka ia ikut cemas dan khawatir, namun entah kali ini perasaannya tidak begitu gelisah bahkan cenderung menebak semua pasti baik-baik saja.


Karna tuan Ken berdiri, ia pun mengurungkan niat untuk mendudukan pan tat nya, meski sangat ingin tapi tak ada keberanian.


Ia memilih kembali bersandar didinding.


Terdengar hembusan nafas berat, Ken terlihat gusar setelah melihat jarum jam dipergelangan tangan. 20 menit lagi tepat 2jam mereka menunggu, tapi lampu operasi masih berwarna merah belum berubah hijau. Sampai kapan harus menunggu dalam kecemasan.


"Lee, dobrak saja pintu itu! lama sekali. Aku tidak sabar ingin mengetahui kondisi Kei dan anakku."


'Cih... kalau aku dobrak pintu itu, apa yang akan kau lakukan? membantu atau malah merecoki.'


Lee belum selesai berkomentar dalam hati tapi matanya sudah terkesiap demi melihat tuan Ken yang sedang memasang posisi akan mendobrak pintu. Ia segera bergerak cepat.


Brak...


bunyi pintu yang sudah terkena tendangan pucuk kaki tuan Ken, pintu bergetar namun terlalu kuat dan masih tertutup rapat.


"Tuan muda, apa yang anda lakukan?" sentak Lee sudah menghadang.


Ken yang tak memasang rem pada kakinya kini sudah bergerak cepat menendang untuk kedua kali tapi malah naas mengenai perut Lee bagian bawah hingga menyerempet daerah paling rawan, paling dilindungi dan paling penting untuk menciptakan sensasi kenikmatan terbang keatas awan. Berdua bersama Dewi, tentunya.


Mulut Lee terkatup rapat, kedua mata yang melotot ingin jatuh dan dengan itu sejurus dengan gerakan tangan yang menekan kuat daerah kesakitan itu.


Bukan hanya Lee yang terkatup rapat. Reaksi Ken juga sama terkejut memandangi Lee yang kesakitan.

__ADS_1


"Lee, kau mendengar ku? apakah tikus hitam mu terkena?"


Lee mengangguk pasrah. Ia sudah berjongkok.


__ADS_2