Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Dia Bergerak


__ADS_3

Pukul 7 malam Naya menunggu Akio pulang, namun sosok suaminya belum terlihat bayang akan kepulangannya. Dia larut dalam pikirannya. Buntu, tak tahu harus memulai dari mana untuk bisa menghubungi Zee. Jangankan dia, bahkan Akio yang selama ini sangat dekat juga tidak bisa mendeteksi keberadaan perempuan itu.


Dina? Tiba-tiba dia teringat dengan teman satu kuliahnya itu. Selama dia menikah dengan Akio, dia memang tidak lagi menghubungi Dina. Bertujuan menghindari dari berbagai pertanyaan.


Saat ini dia membutuhkan Dina untuk ikut andil dalam rencananya. Ponsel yang tergeletak, dia ambil dan langsung menghubungi nomor Dina. Beruntung masih aktif.


'Ya Tuhan ... ini kamu, Nay? Gimana kabarmu? Aku datang ke rumah tapi kamu nggak ada. Kata ibumu, kamu ikut suamimu. Tega kamu nikah kagak ngundang! Jahat, ih,' cerocos Dina.


"Maaf, aku nikah juga nggak ada pesta, yang penting sah gitu aja," balas Naya.


'Walau nggak ada pesta, aku juga mau dateng kaleeee!' sungut Dina.


"Iya-iya, sorry. Eh, besok kamu sibuk, nggak?"


'Enggak, sih.'


"Aku ada perlu, bisa ketemu nggak?"


'Pas makan siang aja gimana?' tawar Dina.


"Nggak pa-pa, nanti share look, ya."


'Oke, siap. Aku kangen banget sama kamu. Gimana, kamu sama calon debay sehat kan?'


"Iya aku sehat."


Obrolan sekitar 5 menit harus diakhiri karena mobil Akio terdengar memasuki garasi. Naya berjalan untuk membukakan pintu dan menyambut Akio.


"Baru pulang?" sambutnya mencium tangan dan mengambil tas kerja dari tangan Akio.


"Ada rapat dadakan, jadi lembur sampai malam. Kamu sengaja nungguin aku?" Biasanya Naya jarang menunggu sampai di depan pintu.


"Enggak juga. Pengen aja duduk di ruang depan, pas kebetulan kamu pulang," ungkap Naya.


"Mau makan atau langsung mandi?" tanya Naya.

__ADS_1


"Mandi ajalah biar seger. Lagian udah nggak lapar, tadi makan malam di kantor."


Naya menyuruh Akio ke kamar lebih dulu, sedangkan dia ingin membuat minuman. Tak lama, Naya sudah selesai dan menyusul ke atas.


Memang di rumah itu ada pelayan, namun Naya jarang menyuruh mereka untuk menyiapkan makanan atau minuman, hanya khusus untuk membersihkan rumah yang sangat besar, karena Naya tidak sanggup melakukan seorang diri.


Selepas mandi, Akio hanya menggunakan celana pendek dan kaos hitam polos, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Ujung-ujung rambut masih menetes bulir air. Handsome and perfect.


Tak tahan dengan daya tarik yang dimiliki Akio, Naya memilih menunduk. Dia tak ingin semakin jatuh dalam pesona sang suami. Yang mana akan menjadi beban tersendiri saat tiba waktunya dia harus melepaskan.


"Auh'!" Naya mengaduh sambil memegangi perut.


"Kamu kenapa, Nay?" Akio yang terkejut bercampur panik segera mendekat.


"Tadi kayak ada gerakan kuat dari dalem. Apa itu yang namanya gerakan bayi?"


"Benarkah?" Tanpa meminta persetujuan lebih dulu, Akio langsung menempelkan telapak tangannya di perut Naya.


"Mana? Nggak ada gerakan sama sekali," ujarnya yang memang tidak merasakan apapun.


Satu detik, dua detik, tiga detik, bola mata Akio terbelalak. Telapak tangannya yang kokoh dapat merasakan pergerakan yang nyata.


"Nay, perut kamu gerak, terasa banget gerakannya. Dia sudah bisa bergerak, Nay. Bayinya udah bisa gerak," ujar Akio bertubi-tubi. Raut wajahnya terkejut namun bibirnya menyungging senyum lebar.


"Dia udah bisa gerak," imbuhnya sekali lagi. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang tak henti tersenyum.


"Iya, aku juga bisa merasakannya." Sudut mata Naya berembun, tidak mengira bahwa perut yang berisi makhluk kecil itu benar-benar nyata pergerakannya. Sama halnya Akio, bibir Naya tersenyum lebar meski ada kristal bening menetes di pipi.


Tanpa diduga Akio menunduk, mendekatkan wajah di depan perut Naya. "Ha-aay ... akhirnya kamu bisa bergerak. Pipi bisa merasakan kehadiranmu," ucap Akio seolah mengajak bayi yang masih di dalam perut berbicara.


Hati Naya berdesir, kristal bening kembali menetes-netes. Niat yang menggebu seolah tergoyahkan seketika. Sanggupkah nanti berpisah dengan makhluk kecil yang kini mulai bergerak-gerak dalam perutnya? Sanggupkah dia merelakan bayi itu untuk diserahkan pada perempuan lain.


"Hei, kamu menangis, Nay?" Akio mendongak, mendapati Naya termenung dan menangis.


"A-aku cuma bahagia," ucapnya berbohong.

__ADS_1


Akio beralih menegakkan tubuh, meraih pundak Naya dan merangkul dalam dekapan. Entah kenapa Naya terhipnotis dengan perlakukan Akio, menurut tanpa perlawanan.


Hangat, nyaman, tenang. Itu yang dirasakan.


Semakin dia terpejam, semakin sakit dan semakin sesak kian mendera. Kenapa tiba-tiba dia ingin melupakan rencananya. Dia ingin egois dan terus merasai kenyamanan ini.


'Tuhan, dosa kah aku? Salahkah perasaanku? Kenapa semakin ikhlas, tapi semakin aku tidak rela? Bantu aku, Tuhan, hapuskan perasaan ini.'


"Kalau bahagia jangan menangis," ucapan Akio menyadarkan Naya pada keadaanya. Dengan perlahan dia menjauh dan mencoba mengontrol diri.


"Aku terlalu bahagia, sampai menangis." Menggerakkan tangan untuk membersihkan sisa air mata.


Akio ikut membantu merapikan anak rambut yang berantakan. Sekilas mata mereka beradu. Lekat memindai satu sama lain. Akio hampir saja terlena, namun Naya mencegah.


"Maaf," ucap Naya.


Akio mengurai napas panjang, lalu menjauh. Dia tak mau sesuatu dalam dirinya bangkit, sedangkan Naya masih saja sama. Selalu belum siap.


"Ini sudah 4 bulan," ucapnya lirih.


Naya menunduk. Entah 4 bulan, 5 bulan atau sampai nanti 9 bulan lamanya. Semua akan tetap seperti ini. Dia tak ingin memanfaatkan keadaan, menikmati sentuhan Akio dan nanti mengembalikannya pada Zee. Tidak! Cukup sekali saja kesalahan itu terjadi, sebisa mungkin jangan terulang.


Sulit, baginya pun itu sangat sulit. Menahan diri untuk tidak terbuai dalam kenikmatan, itu sangat sulit. Namun, di keadaan sadar, dia akan lebih merasa bersalah karena sampai kapanpun Akio takkan bisa dimiliki, dia harus mengembalikan pria itu pada pemilik yang sesungguhnya.


Naya bungkam, namun tetesan air mata seolah menggambarkan jawabannya.


"Jangan menangis, aku tidak suka melihatmu menangis. Maafkan, aku," ucap Akio pada akhirnya. Dia paling benci melihat Naya menangis atau pun kesakitan.


"A-ku yang harusnya minta maaf," sahut Naya.


"Aku cuma ingin tahu, apa alasanmu belum siap? Kita sudah menikah, bukankah wajib bagi suami istri? Sudah 4 bulan, Nay." Akio berkata dengan hati-hati.


Naya menelan ludah susah payah. Apa yang harus dia katakan. 'Aku tidak bisa karena kamu bukan sepenuhnya milikku, kamu adalah milik Zee, dan aku akan mengembalikan mu padanya. Kita menikah hanya karena status pengakuan anak ini, bukan karena hal lain.'


"Aku mohon tunggu dan bersabar. Biarkan aku siap," jawab Naya.

__ADS_1


__ADS_2