
"Mami juga tidak tau," jawab mami Lyra masih terisak dipelukan Ken.
"Sebenarnya Mami hanya ingin melihat anak itu apakah tumbuh dewasa dengan keadaan baik-baik saja atau justru keadaanya tidak seberuntung kita?!"
"Kalau Mami ingin mencari anak itu lagi, Ken bisa bantu. Ken akan mengerahkan seluruh pengawal untuk mencarinya. Apa Mami punya petunjuk biar pencariannya lebih mudah?!"
Mami Lyra menjauhkan tubuhnya dari Ken, kedua tangannya bergantian menghapus airmata di pipinya. Mendongakkan wajah untuk menatap wajah Ken.
"Apa kamu yakin mau membantu Mami mencari anak itu?!" tanya mami Lyra tidak percaya.
Ken antusias menganggukkan kepala agar maminya lebih percaya.
"Ka kamu tidak marah?!" kedua mata mami Lyra terlihat ragu-ragu memandang tepat dikedua mata Ken.
"Kenapa Ken harus marah? Mami hanya ingin memastikan keadaannya, kan? bukan kembali mengadopsi?" Ken tersenyum miring.
Sedangkan mami Lyra memukul lengan tangan Ken, karna putranya itu malah menyelipkan sebuah guyonan. Meski kedua matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya tersenyum tipis.
"Kamu ini, Ken. Dia bukan anak-anak lagi yang perlu diadopsi. Umur dia lebih tua daripada umur kamu." ucap mami Lyra.
"Siapa tau aja mau Mami mengadopsi lagi,"
Mami Lyra menggeleng, "Meski tidak untuk diadopsi, tapi Mami ingin memastikan keadaanya saja. Mami akan menyambung lagi silahturahmi yang telah terputus karna keegoisan Mami." mami Lyra kembali terlihat sedih.
"Setelah Mami bertemu dengan anak itu dan menceritakan semuanya, semoga saja dia bisa menerima permintaan maaf Mami." terlihat sekali bahwa mami Lyra sangat berharap bisa bertemu anak itu.
"Dulu saat almarhum John Lee memberi amanah, dia sempat memberikan kalung dengan bertuliskan Lee. Kalung yang seperti dipakai John Lee yang ada difoto itu. Tapi sepertinya sudah pudar dan tidak begitu jelas. Mami memakaikan kalung itu pada anak kecil itu yang diberi nama Frank Lee." terang mami Lyra.
Ken kembali mengamati foto usang jaman dulu, namun yang dikatakan maminya benar bahwa foto John Lee yang memakai kalung inisial Lee itu telah memudar. Sudah tidak jelas dan pudar.
"Aneh ya Mi, nama belakangnya hampir sama dengan Lee. Tapi bukan hampir lagi, tapi sama persis." ucap Ken dengan penasaran. Dalam wajahnya telah tercipta raut kebingungan.
Mami Lyra terdiam, membatu sejenak. Benar juga yang diucapkan Ken. Nama Lee sama persis dengan nama belakang keluarga John Lee.
__ADS_1
Mami Lyra masih ingat bayangan wajah John Lee, namun setelah diperiksa sepertinya Lee, sekretaris Ken tidak begitu mirip dengan John Lee.
"Mi," Ken memanggil karna melihat maminya melamun.
Mami Lyra tersadar dari lamunan dan langsung menatap ke arah Ken. "Iya," jawab mami Lyra tanpa menjiwai. Pikirannya masih kalut dalam dugaan Ken tadi.
Selama ini mereka tidak terlalu detail tentang asal usul Lee. Karna Lee bilang orang tuanya telah meninggal. Dan mereka percaya begitu saja, karna Ken tidak mengetahui tentang kejadian bertahun-tahun silam itu.
Mami Lyra juga hampir lupa jika bukan karna mimpinya yang didatangi oleh John Lee, pasti mami Lyra sudah mengubur kejadian itu dan tidak mengingatnya lagi.
"Mami tidak pernah melihat Lee memakai kalung yang sama persis. Apa ada kemungkinan kalau Lee..." ucapan mami Lyra terhenti dan seolah tercekat. Ia menelan ludah beberapa kali dengan pandangan nanar kearah Ken.
"Nanti aku tanya langsung sama dia. Mami jangan terlalu berpikiran, nanti bisa sakit. Ken pasti akan membantu Mami." ucap Ken menenangkan mami Lyra.
"Jika bisa, segera temukan anak almarhum John Lee biar Mami bisa tenang." pinta mami Lyra.
Ken mengangguk dengan menepuk tangan mami Lyra. "Apa Papa tau tentang hal ini?!" tanya Ken.
"Ya sudah, berarti tidak ada masalah kalau kita cari anak itu." ucap Ken.
"Bukan anak, Ken. Tapi orang!"mami Lyra meralat ucapan Ken.
"Oke oke," Ken tersenyum. Mami Lyra ikut tersenyum.
"Mami istirahat, Ken keluar dulu. Nanti aku coba tanya tentang kalung itu pada Lee. Sekarang dia pasti sedang sibuk di kantor."
"Dia sibuk gara-gara kamu! suka sekali membebankan pekerjaan pada Lee. Beruntung Lee setia dan betah disamping mu, kalau nggak, kamu pasti kelimpungan nyari pengganti Lee yang siap menjadi samsak hidup."
"Kok samsak hidup?!" tanya Ken terkejut.
"Ya setiap kamu marah, emosi pasti kamu lampiaskan kemarahan mu pada Lee. Muka Lee babak belur kena tinjuanmu." sungut mami Lyra.
Apa yang dikatakan barusan benar, semua kemarahan Ken akan berimbas pada Lee. Dia yang sering menerima pengadilan tanpa keadilan. Menerima bogem mentah sewaktu-waktu Ken marah, seperti itu sudah sering terjadi.
__ADS_1
Sangat pantas jika Lee dijuluki sekretaris paling sabar, bertahan menjadi samsak hidup hingga bertahun-tahun lamanya.
Bahkan tetap setia mendampingi Ken hingga saat ini.
Jika orang lain yang berada diposisi itu sudah pasti akan langsung mengundurkan diri. Mengingat dulu ketika Ken masih arogan, dingin, dan kejam tidak ada yang berani berurusan dengan si raja bisnis itu.
Tapi ketika kemarahan Ken sedang berapi-api, Lee yang paling berani untuk mendekat dan menenangkan meski akibatnya harus mendapat bogem mentah tapi Lee selalu berhasil meredam amarah Ken. Hingga saat ini keduanya menjadi partner kerja yang sangat familiar di dunia bisnis.
Ken langsung tergelak mendengar penuturan maminya. "Tapi Lee selalu baik-baik saja. Setelah mendapat pukulan ku, aku akan menyuruh orang untuk mengobati lukanya." ucap Ken membela diri.
"Kalau kamu berada di posisi Lee, apa kamu mau dihajar seperti itu?! meski setelah itu diobati tapi tetap saja merasa kesakitan, Ken." mami Lyra melirik kearah Ken yang masih cengengesan.
"Tapi sekarang Lee sudah berhenti menjadi samsak hidup."
"Sekarang berhenti, nanti kalau kamu lagi ada masalah pasti kamu ulangi lagi menjadikan Lee pelampiasan kemarahan mu." sungut mami Lyra.
"Tidak Mi, aku dan Lee akan menjadi besan."
"Apa?!!" mami Lyra sangat terkejut.
"Apa maksut kamu, Ken?!" mami Lyra mengulang pertanyaan.
"Ya... siapa tau saja kalau Kio dan Zee berjodoh kan kita bisa jadi partner kerja dan juga partner besan. Hahaha...." Ken kembali tergelak. Menertawai guyonan yang dibuatnya sendiri.
Akhir-akhir ini memang sikap Ken selalu hangat ketika dirumah. Tidak seperti dulu yang selalu minim ekspresi. Selalu menunjukan sikap angkuh dan dingin.
"Mami kira kalian beneran udah menjodohkan Kio dan Zee." ucap mami Lyra.
Ken menghedikkan bahu dan beranjak menuju ke pintu.
"Ken keluar dulu mau lihat anak-anak, Mami istirahat saja."
"Iya,"
__ADS_1