Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Naya dan Faskieh


__ADS_3

Bagaimanapun Naya menjelaskan, Zee tidak mudah mempercayai ucapan Naya. Di hati ada setitik rasa tidak tega karena telah berlaku kasar dengan perempuan yang tengah mengandung. Akan tetapi, kebencian nya juga tidak berkurang, masih begitu besar memendam kebencian pada Naya.


Dan, pembicaraannya bersama Naya beberapa waktu lalu tidak menemui titik terang. Bahkan dia justru mengusir Naya untuk pergi dari apartemennya.


Dia tidak peduli dengan Naya yang mau tinggal di mana. Lebih bagus tinggal di jalanan. Hati jahatnya menyerukan demikian. Akan tetapi, bagaimana dengan bayi yang di kandung. Bagaimanapun itu adalah darah daging Akio. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan bayi itu.


*


Naya duduk seorang diri di kursi dekat jalanan. Menatapi hilir mudik kendaraan tanpa jeda. Terdiam, melamun, tiba-tiba dikejutkan lagi dengan tetesan darah dari hidungnya. Detik berikutnya disertai sakit kepala dengan pandangan kabur. Dia menggeleng beberapa kali.


Ada apa? Kenapa akhir ini sering mengeluarkan darah dari hidung. Sering sekali mimisan. Dia meminum air mineral yang tadi sempat dibelinya di toko.


Dia kembali melamun. Zee tidak mempercayainya. Dia juga menolak semua permintaanya. Harus bagaimana dia membujuk dan meluluhkan Zee.


Anda! Seandainya waktu dapat kembali, dia sangat tidak ingin berada dalam kerumitan yang tiada ujung. Kebahagiaan singkat bersama Akio tak sebanding dengan tebusan mahal yang harus dia terima. Rasa bersalah, mengorbankan perasaan, dicaci, bahkan tebusan termahalnya dia harus sampai kehilangan ibunya.


Kedua tangan terkepal erat. Wajah sendunya mendongak, menatapi bias-bias langit jingga. 'Tuhan, aku lelah. Ringankan dan mudahkan untuk semuanya. Kasihani aku.'


Naya dikejutkan dengan makanan yang di sodorkan di depannya. Dia melihat siapa orang itu.


"Aku kesal dan marah dengan Kakak setelah tahu kalau ternyata kakak lah orang yang tega merebut kak Io dari kak Zee. Tapi, aku kasihan melihat keadaan Kakak."


"Kamu?" Naya memperhatikan sosok pria yang tadi sempat di lihatnya bersama Zee.


"Kamu pacarnya Zee?" tanyanya.


Faskieh menggeleng. "Bukan!" Ya ... pria yang memberi makanan pada Naya adalah Faskieh. Ternyata pria itu membuntuti Naya. Entah mengapa hatinya seolah dengan tiba-tiba mengikuti Naya. Dan ketika melihat Naya kembali mimisan, perikemanusiaannya tidak tega.

__ADS_1


"Aku orang yang disuruh oleh Om Lee dan Tuan Ken untuk mengawasi kak Zee selama dia di sini."


Jadi daddy nya Akio pun tahu keberadaan Zee. Mereka memang sengaja merahasiakan keberadaan Zee.


Hening. Naya mengira pria itu akan pergi, ternyata tidak. Faskieh justru mengambil duduk di kursi paling ujung.


"Terima kasih untuk makanan ini," ucap Naya. Dia tidak segan membuka makanan pemberian Faskieh dan mulai memakannya. Sejak tadi perutnya belum terisi apapun, selain air mineral.


"Kenapa Kakak nekad menyusul kak Zee ke sini? Apa Kakak ada rencana lain untuk menyakiti Kak Zee?" tuduh Faskieh namun dengan nada halus.


Naya menoleh, memamerkan senyum getirnya. "Mungkin ini adalah karma, niat baikku tidak akan pernah di percayai orang." Dia menghela napas panjang.


"Bukan begitu, Kak. Di sini, aku tahu bagaimana perjuangan kak Zee untuk bangkit dari rasa sakitnya. Bahkan setiap hari kak Zee masih sering menangis," ujar Faskieh.


"Aku tidak ada maksud lain untuk menyakiti Zee. Aku sungguh ingin mengembalikan apa yang harusnya menjadi milik Zee. Aku tahu, semua tidak lagi sama. Tapi ikatan mereka sudah sangat kuat, aku yakin, mereka bisa seperti dulu."


"Kenapa Kakak ingin mengembalikan kak Io pada Kak Zee?"


"Aku sudah berkali-kali menolak, tapi aku juga tak bisa membiarkan anak ini lahir tanpa status. Akhirnya pernikahan itu terjadi. Aku pun meminta pernikahan kami dirahasiakan, karena setelah anak ini lahir aku akan mengembalikan Akio pada Zee." Naya terus bercerita.


Faskieh mendengar dengan seksama cerita Naya. Hatinya membatin, umumnya perempuan yang tega menjadi perusak hubungan orang tidak memikirkan perempuan lain. Dia keheranan dengan pengakuan Naya yang ingin mengembalikan Akio pada Zee. Lalu sebelumnya kenapa Naya mau melakukan hubungan terlarang dengan Akio sampai hamil? Sekarang sudah berhasil mendapatkan Akio, justru ingin dikembalikan. Ah, dia pusing memikirkannya.


"Apa seseorang yang melakukan kesalahan tidak pantas diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya?"


Pertanyaan Naya membuat Faskieh bingung untuk menjawab.


"Aku bersungguh-sungguh untuk mengembalikan Akio dan ingin menyatukan mereka kembali."

__ADS_1


"Mungkin kak Zee butuh waktu untuk memikirkannya. Ibarat kata, gelas yang sudah pecah, sulit untuk kembali seperti bentuk yang semula."


"Tapi ... Kakak yakin akan mengembalikan? Berati selama ini Kakak tidak memiliki perasaan dengan kak Io?" Faskieh yang penasaran sudah seperti reporter handal dalam memberi pertanyaan.


"Perasaan itu tidak penting. Satu perasaan akan kalah dengan perasaan beberapa orang yang menginginkan kebersamaan Zee dan Akio."


Dari ungkapan Naya, Faskieh dapat menilai bahwa Naya pun pasti memiliki perasaan dengan Akio, tetapi harus memilih untuk merelakan.


Hening kembali.


"Sudah sejauh ini, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana berbicara dengan Zee," ucap Naya sambil menunduk.


Faskieh adalah pria yang tidak tega melihat seorang perempuan bersedih. Bukan karena menyukai, hanya saja rasa empity nya terlalu tinggi.


"Aku akan coba bicara dengan kak Zee. Bagaimana tanggapan dia tentang niat Kakak."


Naya langsung menoleh. "Katakan padanya, tentang rasa bersalahku dan niatku itu benar. Aku tidak ada rencana atau maksud lain."


Faskieh mengangguk. "Nanti aku sampaikan."


Cukup lama mereka berbincang-bincang, Naya sangat percaya dengan Faskieh, bahkan dia menceritakan semuanya pada pemuda itu. Dari pembawaan Faskieh, dia menilai pemuda itu adalah pria baik.


"Kak, mendung. Kakak pulang dulu saja," ucap Faskieh menyela perkataan Naya.


"Oh, iya." Naya melihat ke atas, awan hitam memang bergerombol, sepertinya hujan memang akan segera turun. Dia membuang bungkus makanan ke kotak sampah yang tidak jauh darinya. Lalu kembali lagi untuk mengambil tas kecil miliknya.


"Terima kasih untuk makanan dan bantuannya," ucap Naya.

__ADS_1


"Sama-sama, Kak. Kalau Kakak masih di sekitar sini, kita masih akan bertemu."


Naya melangkah lebih dulu meninggalkan pria bernama Faskieh. Melangkah dan terus melangkah, tanpa tahu arah tujuan. Di negara asing tanpa perbekalan cukup, hanya bermodal kan tekad, dia bahkan belum tahu akan bermalam di mana. Dia hanya menunggu seseorang untuk segera menghubungi dan mentrasfer jumlah uang hasil penjualan rumah, barulah dia bisa mencari rumah sewa atau tempat tinggal lain.


__ADS_2