Suami Kedua Ku Over Posesif

Suami Kedua Ku Over Posesif
Berlalunya Waktu


__ADS_3

Waktu berlalu semakin cepat. Waktu menghipnotis dan meninggalkan kenangan.


Tak terasa 5tahun sudah berlalu.


Tuan Ken, si raja bisnis semakin sukses dalam memimpin perusahaan. Hampir setiap tahun mengembangkan bisnis diberbagai bidang.


Wajah tampan yang dimiliki tidak berubah atau pudar, ia semakin digandrungi kaum hawa yang menyebutnya sebagai Hot Daddy.


Kei wanita sederhana, bertambahnya umur membuat wajah keibuan semakin kentara. Meski umur semakin matang tapi wajahnya begitu awet muda, ia masih terlihat setara dengan remaja.


Rutinitas sore hari.


Seperti biasa, Lee selalu mengantar tuan muda sampai didepan rumah.


Mobil yang dikendarai baru sampai dihalaman depan.


"Daddy... Daddy..." suara anak kecil yang memanggil Daddy nya. Menyambut kehadiran sang ayah dengan berlompat-lompat kegirangan.


Ken keluar dari pintu samping mobil setelah Lee membukanya.


Senyum cerah langsung menghiasi wajah tampannya. Ia sangat bahagia disambut oleh putra pertamanya.


"Oh... anak Daddy. Jagoan..." Ken meraih tubuh Kio dan menggendongnya.


"Mulutmu penuh makanan, kenapa kau lompat-lompat begitu. Tadi kalau tersedak bagaimana?" memang benar, dalam mulut Kio masih mengunyah makanan. Bocah berumur hampir 5tahun itu sedang makan dengan disuapi Kei.


"Putramu susah dibilangi..." Kei mengadu.


"Lain kali tidak boleh begitu, itu berbahaya, sayang." Ken memperingati putranya.


"Oke Daddy." jawab Kio.


"Anak pintar..." puji Ken.


Lee masih berdiri samping mobil, setelah memastikan tuan Ken aman dan baik-baik saja bersama keluarganya, ia segera berpamitan.


"Tuan muda, saya langsung pulang." pamit Lee.


"Hem... pulanglah Lee." kata Ken.


Mendapat mandat seperti itu, Lee segera masuk kedalam mobil dan melesat menuju gerbang dan langsung membelokkan mobil kejalan raya.


"Ayo kita masuk," ajak Kei.


"Ray tidak ikut pulang?" tanya Kei, ia berjalan dibelakang suaminya.


"Jam kantor sudah selesai, harusnya ikut pulang. Tapi namanya anak muda ya sudah biarkan saja." jawab Ken.

__ADS_1


"Daddy, Io ingin beli robot yang besar banget, warnanya hitam." Kio sudah pandai meminta ini itu pada Daddy nya.


"Tentu jagoan, apapun yang kau minta nanti Daddy belikan." jawab Ken.


"Jangan terlalu memanjakan anak, nanti kebiasaan." Kei memperingati.


"Apapun yang dia minta harus dituruti. Bahkan jika saat ini dia meminta pesawat aku bisa langsung membelikannya." kata Ken santai.


Kei hanya memutar bola mata, sifat Ken memang susah berubah.


"Iya, Dad, Mom pelit." sahut Kio. Ia mengadu pada Ken tentang Mommy nya yang selalu melarang ini dan itu.


Ken menanggapi dengan senyuman saat mendengar cerita dari putranya.


"Sudah cukup Io, biarkan Daddy membersihkan tubuhnya. Setelah itu kau boleh bermain bersama Daddy lagi." Kei menghentikan Kio yang masih asik berceloteh dengan Ken.


Mendengar teguran dari Kei membuat bibir mungil itu mengerucut.


"Hei, anak Daddy kenapa mulutnya seperti itu? menggemaskan." Ken tertawa lebar.


"Io kesal dengan Mom, selalu saja menggangu!" ucapnya dengan nada kesal. Kedua tangan yang dilipat diatas perut dengan melirik kearah Mommy nya.


Kei juga menanggapi dengan tersenyum lebar, ia sendiri juga gemas dengan tingkah putranya yang sangat lucu.


"Yang Mom katakan itu benar Sayang, hidungmu tidak mencium bau asem? 'kan Daddy belum mandi." kata Kei dengan sindiran.


"Besok kalau aku sudah besar, Io ingin seperti Daddy. Pergi kekantor dan memakai kain ini." Kio memegang dasi yang melingkar dikerah baju Ken.


"Tentu, Io akan menggantikan Daddy untuk bekerja di Kantor." Jawab Ken dengan menganggukkan kepala.


"Hore... nanti naik mobil sendiri ya Dad."


"Apapun yang kau inginkan. Sekarang biarkan Daddy mandi. Setelah itu baru kita bermain lagi. Oke..."


"Oke Dad."


"Cium dulu dong," Ken menepuk pipinya pelan, sebagai petunjuk agar Kio menciumnya.


Setelah mendapat kiss dari Kio, Ken mulai meninggalkan keduanya. Ia menaiki anak tangga satu persatu. Meski sudah ada lift, sesekali ia ingin merenggangkan otot kaki.


Jam makan malam sudah tiba, semua berkumpul dimeja makan dan bersiap menyantap menu hidangan dengan berbagai macam olahan.


Ray dan Kio sedang asik bermain diruang keluarga.


"Mbak, tolong panggilkan Ray dan Io untuk makan dulu." Kei memberi perintah pada kepala pelayan.


"Baik Nona," kepala pelayan itu mengangguk sebentar dan berlalu dari sana.

__ADS_1


"Ken, adikmu bagaimana? apa selama ini pekerjaannya bagus?" tanya Mami Lyra, tangannya sibuk mengambil kuah sayur.


"Sejauh ini bagus, hanya saja dia sering keluar kantor tanpa izin. Ken sudah menegur tapi tetap saja seperti itu."


"Kalau untuk keluar kantor, mungkin ada urusan mendesak." secara tidak langsung Mami Lyra membela putra keduanya.


Hanya terdengar helaan nafas, dari kecil Mami Lyra memang memanjakan Ray. Walaupun salah atau benar semuanya sama saja, akan sama-sama mendapat pembelaan.


Ray dan Kio sudah bergabung dimeja makan, ia duduk disamping Maminya.


Sedangkan Kio duduk dikursi khusus, karna badannya masih pendek, Kei membeli kursi khusus untuk putranya agar tidak kesusahan saat makan.


Mulut mereka mulai bekerja untuk mengunyah makanan. Dimeja makan terlalu hening dan hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring beling.


"Kak, apa aku sudah boleh menikah?" suara Ray memecah keheningan.


Mami Lyra terbatuk karna tersedak makanan.


"Mi, pelan-pelan," Ray memberikan segelas air putih.


Sedangkan Ken menghentikan aktivitas menyendok makanan.


"Menikah bukan perkara mudah, apa kau sudah siap?" Ken malah berganti bertanya.


.


"Aku sudah siap kak, hanya meminta restu pada kalian."


"Memang siapa calonnya? kenapa tidak pernah dikenalkan pada Mami?" tanya Mami Lyra.


"Nanti saja Ray kenalin." jawab Ray singkat, dalam hati ia tersenyum bahagia. Walau mereka tau tapi belum saatnya mereka bertemu.


"Saran kakak, tunggu sampai kau sukses, Ray. Setelah itu kau boleh menikah." saran Ken.


"Bukannya selama ini kerja ku bagus? umurku juga sudah matang dan siap untuk berkeluarga, jangan sampai aku seperti Kak Tristan yang sampai saat ini masih belum menikah. Padahal umurnya hampir berkepala 4."


"Terserah kau saja, coba kenalkan pada kita. Ajak dia kemari agar kita bisa menilai." kini Mami Lyra yang memberi wewenang pada Ray untuk membawa pacarnya kerumah dan dikenalkan pada anggota keluarga.


"Siap Mi, nanti coba aku hubungi, entah kapan dia akan pulang ke Indonesia."


"Makasih ya Mi. Mami memang selalu mengerti." ucap Ray.


Setelah makan malam selesai, mereka berlanjut mengobrol di ruang keluarga dengan sekalian menemani Kio bermain.


Satu jam mengobrol, Kio sudah terlihat mengantuk. Anak kecil itu meminta duduk dipangkuan Ken dan meminta diusap-usap bagian kepalanya. Seperti itu ritual sebelum tidur. Dengan tangan sebelah memegang botol susu, diumur hampir 5tahunan masih meminum susu pakai botol dot.


Dengan senang hati Ken mengusap rambut Kio dengan sayang. Hingga kedua kelopak mata itu terpejam.

__ADS_1


__ADS_2