
Akio baru saja tiba di bandara yang ada di negara xxx. Dia menunggu seseorang menjemputnya. Ya ... dia menunggu Zee, karena perempuan itu tidak mau memberitahu alamatnya dan justru meminta dirinya untuk menunggu di bandara. Namun setelah sampai di sana, ternyata Zee belum ada.
Akio mengecek pesan, tapi tidak ada pesan masuk dari Zee. Sepuluh menit sudah berlalu, Zee belum juga terlihat datang. Dan, di menit ke dua puluh lima, barulah gadis itu terlihat berlari ke arahnya.
"Ya Tuhan ... Zee memang tidak pernah berubah," gumam Akio tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Dari kemarin malam menghubungi dan meminta Akio datang ke negara yang ditinggali. Zee sudah menyiapkan hati untuk bertemu kembali dengan pria yang pernah menyakiti namun masih saja dirindukan itu.
Jika bukan karena Naya, tidak mungkin dia meminta pria itu datang. Zee melupakan sekilas apa yang sudah terjadi, keadaan memaksanya untuk bersikap seperti dulu.
"Kak Io ...," panggilnya lirih. Dua tetes air mata merebak keluar demi melihat seorang pria berdiri gagah di depan sana. Andai, hubungannya bersama Akio masih sama seperti dulu, saat ini dia akan terus berlari dan menubruk dada bidang pria itu. Menumpahkan segala kerinduan yang selama ini dipendam.
Nyatanya ... semua menjadi canggung. Pelukan dan rasa rindu menguar begitu saja. Status dan keadaan yang mengubah mereka seperti orang asing. Zee berhenti beberapa meter dari jarak Akio berdiri saat ini.
Namun, berbalik Akio lah yang berjalan mendekati. "Zee ...," panggil Akio lirih. Yang berdiri di hadapannya saat ini, seperti adik, sekaligus seorang teman. Meski Zee berubah, namun ada beberapa yang masih menjadi ciri khas gadis itu.
"Ha-i ... Kak Io ... a-pa kabar?" sapa Zee kaku.
"Zee, maafkan aku. Maafkan aku," ucap Akio berulang. Walau Akio sudah berpuluh-puluh kali meminta maaf lewat sambungan telepon juga lewat pesan, namun ketika bertemu kembali, Akio memang ingin mengucap maaf secara langsung.
"Mau berapa kali Kakak minta maaf padaku? Lupakan Kak, Zee tidak mau mengingat lagi," ucap Zee lirih.
"Aku meminta maaf lagi karena kesalahanku sangat menyakitimu."
"Kalau Kakak membahas hal itu lagi, rasa sakit ku nggak akan hilang. Dan akan kembali ku ingat."
"Kamu baik-baik saja?" tanya Akio dengan melihat Zee dari atas ke bawah. "Kamu semakin gemuk, berati kamu senang dan betah tinggal di sini."
"Aku baik. Masa sih aku gemukan. Kayaknya segini-gini aja," Zee ikut melihat diri sendiri. "Udah lama nggak ketemu, mungkin perasaan kakak aja," cetusnya.
"Ngobrolnya di sini? Aku jauh-jauh dari Indonesia loh," celetuk Akio karena Zee tak juga mengajaknya pergi. Perjalanan jauh membuatnya lelah dan lapar.
"Oh iya, Zee lupa." Dia menepuk kening. "Ayo ...!" ajaknya.
Zee mengajak Akio ke parkiran mobil dan nanti akan langsung mengajaknya menuju ke suatu tempat. Di mana seseorang sedang menunggu kehadiran mereka berdua.
__ADS_1
"Kamu di sini tinggal sendirian?" Akio bertanya untuk memecahkan kesunyian di antara mereka. Sepanjang jalan Zee lebih diam dan melamun. Seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
"Hem ...? Oh, aku di sini bersama Faskieh." Zee gelagapan menjawab, dia yang sedang melamun dan tiba-tiba mendapat pertanyaan.
"Fas-Faskieh?" ulang Akio. Apakah Faskieh adalah kekasih Zee yang baru. "Dia pacarmu?" rasa penasaran membuatnya bertanya.
"He he ... bukan. Dia laki-laki sangat baik, tapi kadang juga ngeselin, sih. Dia itu bodyguard ku selama aku tinggal di sini. Faskieh orang Indonesia juga, dia suruhan papa dengan tuan paman," jelas Zee.
"Oh," sahut Akio.
"Kak ...."
Akio menoleh dan memperhatikan Zee. Wajah Zee berubah gusar.
"Ada apa? Sepertinya kamu ingin berbicara sesuatu." Akio menyipitkan mata. Menunggu Zee bersuara.
"Apa Kakak siap untuk bertemu seseorang?" Bola mata Zee bergerak kesana kemari, belum memulai pun kedua bola matanya menggenang cairan bening.
"Seseorang?" ulang Akio mengernyit. "Siapa?"
"Kamu kenapa menangis? Siapa yang mau bertemu denganku?" runtut Akio tidak mengerti tiba-tiba Zee menangis. Entah apa yang ingin di tunjukan Zee. Dia belum bisa menebak.
Dugaanya tidak sampai pada seseorang, karena selama ini dia tahu. Zee sangat membenci seseorang, dan rasanya mustahil juga tidak mungkin.
"Siapkan hati Kakak. Kakak harus siap untuk kemungkinan terburuk." Zee menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia menangis dan semakin membuat Akio kebingungan.
"Apa maksudmu, Zee? Aku tidak mengerti. Bicaralah yang jelas. Siapa orang yang ingin bertemu denganku sampai kamu menangis seperti ini?" cecar Akio.
"Bukan siapa-siapa. Nanti Kakak akan tahu. Zee menangis karena telah ingkar janji kepada seseorang. Tapi aku nggak tega melihatnya. Zee takut terlambat dan menyesal."
Akio menghirup udara dan membuangnya perlahan. Zee terus bicara tapi dia tidak mengerti apa maksudnya. Bahkan Zee sampai menangis seperti itu, apa dia belum siap bertemu dengannya. Justru itu yang terpikir oleh Akio. Tetapi Zee sendiri yang meminta nya untuk datang.
Di rumah sakit.
Faskieh berjalan mondar-mandir di sebuah ruang rawat intensive. Membasuh wajah berkali-kali dengan telapak tangannya yang dingin. Dia menunggu seseorang tidak datang-datang.
__ADS_1
"Lama banget. Apa kak Zee mengajak kak Io pulang dulu ke apartemen?" tanyanya pada diri sendiri.
"Ah nggak mungkin. Harusnya langsung ke sini," gumam Faskieh.
Tak terhitung berapa kali dokter dan perawat berseliweran. Baru saja Faskieh mengambil keputusan untuk di lakukan tindakan sekarang, karena keterangan dokter, semakin cepat maka akan lebih baik, daripada menunggu yang belum pasti.
"Halo, Kak? Lama sekali?" Faskieh memutuskan menelpon Zee. Hampir satu jam mereka belum terlihat datang. Sudah beberapa kali dia melongok lorong rumah sakit, tetapi keluarga pasien lain yang dilihat.
'Iya tunggu. Ban mobil kempes,' jawab Zee dari seberang telepon. Memang benar, di perjalanan tiba-tiba ban mobilnya pecah. Dia harus menunggu sang supir untuk mengganti dengan ban serep. Selain itu, Akio mengajaknya untuk mencari restauran terdekat dan memutuskan mengisi perut barang sebentar. Karena dia juga lapar. Dia pikir, hanya sebentar, tidak akan kenapa-napa.
'Kak, aku udah tanda tangan. Kata dokter harus dilakukan tindakan sekarang juga. Nggak pa-pa, ya?' ujar Faskieh memberitahu.
"Hah? Udah? Terus gimana keadaanya?" Zee terkejut, karena tadi waktunya sudah di tetapkan sekitar dua jam lagi.
'Entahlah, Kak.'
"Baik-baik, sepertinya sebentar lagi selesai. Aku akan langsung ke sana."
Zee menutup telepon. Nafsu makannya seketika hilang. Dia membereskan barang-barang dan berdiri. Padahal makanan yang di pesan baru di makan sedikit.
"Kak, ayo, kita pergi sekarang."
"Ada apa sih? Sepertinya ada yang serius?"
"Ini serius banget, Kak."
.
.
.
Bertele-tele ... iya. Biar kelen penasaran.😅 Tapi penasaran kalian akan segera dituntaskan. Yuhu ... crazy up. Begadang sampai tuntas kalau enggak ketiduran🥱ðŸ˜
Oh ya ....siapin tisu, handuk kecil / besar, kanebo juga boleh. Yang penting jangan lap dapur, ya! 😛
__ADS_1
Siapin mental dan awas air mata luber kemana-mana. Akak Mei mau nabur bawang. 😣 Hayo, siapa yang beruntung bersama Akio lagi? Zee atau Naya, ya?