
Sosok tuan muda yang terbakar cemburu akan lebih menakutkan. Saat kalah tender ia takkan begitu menggila, tetapi jika ada yang menyentuh miliknya ia akan berubah bagai singa lapar, siap mencabik-cabik mangsa itu hingga tak berbentuk.
Nafas kian berat, genggaman tangan ingin segera meluapkan amarah. Menghancurkan apapun didepannya.
Pria penolong Kei memakai tudung jaket yang menutupi wajah, dia juga menggunakan topi hingga wajah itu tak terlihat dengan jelas.
Tetapi telinga Ken terasa panas saat Kei menyebut nama seorang pria. Dengan jelas ia mendengar Kei menyebut nama 'Tama'.
*Siapa dia?
Kenapa Kei mengenal pria itu*?
Ketiganya mematung dengan posisi semula.
Diantara ketiga orang itu ada satu hati yang kian merasakan jantung berdebar. Bertahun-tahun tak bertemu tapi masih ada secuil rasa yang terpendam. Berlalunya waktu tak membuat rasa itu terhapus sempurna, terbukti masih ada setitik rasa yang dirasa.
Bersentuhan seperti ini membuat Tama berdebar. Sekelebat bayang cinta pertamanya begitu terngiang, ia dulu sengaja pindah ke Jakarta untuk melupakan perempuan bernama Keihana Kazumi, wanita pertama yang menjeratnya dengan sebuah perasaan. Namun perasaan yang belum tumbuh harus lebih dulu pupus. Bukankah kejam?
Lebih kejam lagi saat dipertemukan tapi cinta pertamanya sudah menjadi milik lelaki lain, yang tak lain atasannya sendiri.
Atasan?
Mengingat kata itu, ia harus kembali ke dunia nyata. Dunia yang menyadarkan bahwa wanita itu sudah tidak pantas ia kenang, membuang dan melupakan itu jalan lebih baik, ia tak ingin berurusan dengan lelaki berkuasa dengan segala kekuasaannya.
Ketika Kei sudah berdiri tegap, tangan Tony perlahan menjauh. "Maaf," ucapnya. Menyadari ia sudah lancang menyentuh Kei.
"Hei... apa-apaan ini!!" suara Ken membentak. Baby Kio yang ada digendong sampai ketakutan hingga menangis. Ken mengusap bahu putranya untuk menenangkan. Tuan muda yang berselimut kabut hitam sampai lupa dengan baby Kio, hingga ia bersuara dengan keras. Berjalan mendekati Kei dan Tony.
Kei segera mengambil alih baby Kio, mengusap-usap beberapa kali agar baby Kio bisa tenang.
"Tuan Ken, maaf." ucap Tony.
"Tony!!"
Ketika Tony mendongak Ken lebih jelas melihat wajah itu, ia sedikit terkejut dengan keberadaan manusia misterius itu.
"Kenapa kau memeluk istriku! ada apa dengan kalian? sepertinya kalian saling mengenal. Apa yang tidak aku ketahui, Hah? Katakan!!" suara keras menandakan tuan muda itu benar-benar marah.
"Sa sayang, kau salah paham." ucap Kei. Ia sendiri pun ketakutan.
"Salah paham apa? mataku masih normal, aku melihat dengan jelas kalian berpelukan!"
__ADS_1
'Kau memang melihat dengan jelas, tapi semua tidak seperti yang kau pikirkan. Uh, bagaimana aku akan menjelaskan. Aku sendiri takut.' batin Kei.
"Tuan Ken, anda jangan salah paham. Aku hanya menolong Hana yang akan terjatuh." Tony mencoba menjelaskan. Tanpa ia tau jika penjelasannya semakin membuat tuan Ken mendidih.
'Mati mati mati, kenapa Tama menyebutku dengan nama Hana. Tuhan, tolong selamatkan aku.' Kei semakin mengkerut.
"Hana? apa kau menyebut istriku dengan nama Hana? mengejutkan, apa-apaan ini? ada hubungan apa kalian dibelakang ku?" Ken keheranan, tapi sekarang api cemburu itu semakin membesar dan membakar hati hingga menciptakan lahar panas.
Kini Tony menerutuki kebodohan yang ia ciptakan sendiri, ia keceplosan menyebut nama itu. Melupakan hal penting bahwa wanita didepannya dipanggil dengan nama lain. Hanya dia sendiri yang memanggil dengan nama khusus itu.
"Berarti benar ada sesuatu diantara kalian!" Ken menelisik dengan tajam.
"Tidak sayang, aku tidak ada sesuatu dengannya. Kau salah paham. Barusan kakiku tersandung batu, beruntung Tony menolongku jadi aku tidak terjatuh." Kei menjelaskan.
Tuan muda tetaplah sultan yang susah mencerna penjelasan. Apa yang dilihat didepan mata sangat sulit untuk dipercaya. Banyak kejanggalan antara keduanya membuat kecurigaan tuan Ken berada dilevel paling atas.
"Ini tidak bisa dianggap remeh, kasus sangat penting." ucap Ken tegas.
"Kau, ikut ke rumahku!!" perintah Ken pada Tony.
Meski ragu-ragu tapi Tony mengangguk. Tak ada pilihan lain.
'Oh, apa ini! kenapa urusannya semakin panjang. Hanya salah menyebut nama dan riwayat tamat. Tuhan, tolong aku. Tidak tidak, bukan aku. Tolong selamatkan Tony, ia pasti akan menemui masalah.' Kei berjalan pelan dibelakang Ken.
"Honey, kau jalan didepan. Aku tidak mau kecolongan lagi!"
Kei sangat malas, tapi ia menuruti.
Sampai diparkiran, Ken dan Kei masuk kedalam mobil.
Tony mengambil kendaraan roda dua diparkiran khusus motor, ia pun seperti penjahat sungguhan yang dikawal begitu ketat.
Irama jantung semakin berdebar, perasaan cemas dan takut menjadi satu, bercampur aduk tak karuan. Nyali yang menciut.
Membayangkan kemarahan tuan Ken sudah mengerikan, apalagi ia akan menjadi terdakwa.
Menghadapi raja bisnis lebih sulit daripada berperang dengan sesama hacker.
'Apa yang harus aku jelaskan, harusnya urusan ini tidak menjadi panjang. Tuan Ken benar-benar sangat posesif, begini saja menjadi kasus.' batin Tony. Ia tidak begitu fokus mengendarai sepeda motor, jiwanya sedang terancam.
Didalam mobil pun hening, tak ada suara yang terdengar. Keduanya sama-sama diam.
__ADS_1
Ken terus menebak-nebak ada hubungan apa diantara keduanya.
Sedangkan Kei diselimuti ketakutan.
"Sayang..." panggil Kei lirih. Dengan takut melirik kearah Ken. Wajah suaminya terlihat tegang, seperti memikirkan sesuatu.
"Tidak perlu menjelaskan sekarang," jawabnya singkat.
Meski suara Ken lirih tapi terdengar mengerikan.
Menjelang maghrib masih saja terjadi kemacetan, itulah jalanan ibukota yang padat kendaraan.
Menunggu dalam kebisuan, tak ada yang mengawali pembicaraan. Baby Kio yang biasa mengoceh telah terlelap, mungkin dia lelah.
Tapi hati Kei lebih lelah, hari ini berakhir buruk.
Rasanya ia ingin berlari atau bersembunyi didasar bumi, menunggu mod suaminya membaik maka ia akan muncul.
Siapa kah yang akan menolongnya keluar dari sidang mengerikan ini.
Berpikir tapi tak menemukan jalan keluar, ketakutan membuat jalan pikir buntu.
Yang ada hanya pasrah pasrah dan pasrah.
'Keajaiban keajaiban muncullah.'
Terdengar Ken mengeram kesal. Kekesalan berlapis antara api cemburu dengan menunggu. Sedikitpun tak menoleh kearah Kei, mengacuhkan keberadaan istrinya.
Kemacetan telah usai, Ken menginjak pedal gas dan melajukan dengan kecepatan lumayan tinggi. Ia tak sabar segera sampai dirumah dan akan melakukan interogasi terhadap kedua tersangka.
Didalam hati Kei tak henti berdo'a.
Mobil sudah memasuki halaman rumah, Ken lebih dulu turun dan melangkah masuk kedalam rumah. Disana sudah ada motor milik Tony.
Kei menyusul dibelakang dengan sedikit kepayahan. Ia susah mengimbangi langkah Ken yang lebar.
Diruang tamu sudah ada Tony dengan raut wajah tegang. Ken telah duduk tepat dihadapannya.
2babysister menyambut dan beralih meminta baby Kio.
Perasaan Kei semakin kalut.
__ADS_1
Apakah sidang akan berjalan mengerikan?