
Seperti pagi-pagi biasanya, Ken sedang bersiap untuk pergi kekantor. Bercermin menatap penampilannya, apakah sudah rapi.
Ponsel miliknya yang ditaruh diatas nakas bergetar, ia segera meraih untuk menjawab panggilan.
Berbincang sebentar lewat sambungan telpon, lalu mengakhiri pembicaraan.
Diarea mata sedikit ada kantung mata yang menghitam, menandakan hampir semalaman ia tidak tertidur. Berbincang dengan seseorang yang ia undang.
Dirasa penampilannya sudah siap, ia beralih menghampiri Kei yang sedang menggendong baby Kio.
"Honey..." panggilnya.
Kei tidak menjawab, ia hanya menoleh sebentar kearah suaminya dan beralih melihat wajah baby Kio. Tak bisa pungkiri didalam hati Kei masih merasa kesal dan kecewa dengan sikap Ken yang tidak mau menuruti keinginannya. Hanya memecat seorang pelayan apa susahnya bagi Ken, karna ialah pemilik rumah ini.
"Honey, kau marah padaku?" tanya Ken dengan lembut, ia menempelkan tubuh dibelakang tubuh Kei. Hingga parfum yang digunakan begitu menusuk indra penciuman.
"Tidak." jawab Kei singkat.
Meski menjawab tidak tapi Ken tau jika sang istri marah kepadanya.
"Honey, jika kau sudah mandi pakailah pakaian yang sudah aku pilihkan untukmu." perintah Ken.
"Memang kenapa?" jawab Kei masih ketus.
"Menurutlah, aku nggak bisa jelaskan sekarang." kedua tangan Ken melingkar di pinggang Kei. Ia mencium pipi istrinya dari samping.
Kei tidak menolak dan tidak merespon. Ia bersikap biasa saja, perasaan kesal masih mendominasi diri.
"Iya nanti aku pakai." jawab Kei.
"Jangan marah begitu, kau terlihat jelek." goda Ken dengan bercanda, ia ingin mengembalikan mood istrinya.
"Aku memang jelek, kau puas." sentak Kei.
Ken menggaruk pelipis, bukannya tergoda, Kei semakin marah. Mungkin cara bercandanya tadi salah.
Ken menghembuskan nafas pelan. Ternyata mengembalikan mood lebih susah daripada menyiapkan strategi penaikan jumlah saham.
"Kau tenang saja, besok Ita sudah dipecat. Dia tidak akan kembali lagi kerumah ini."
__ADS_1
"Kenapa harus menunggu besok? kenapa tidak sekarang saja?" Kei tertarik untuk menanyakan itu.
"Entah. 'Kan aku sudah bilang, Mami yang mengurus."
Terdengar Kei mendengus sebal, baru ini melihat suaminya tidak bersikap tegas. Dimana sikap over yang selalu ditunjukan dimanapun berada? saat ini ia membutuhkan sikap itu, tapi Ken bersikap biasa saja. Bukankah itu menyebalkan.
"Aku berangkat." pamit Ken. Mencium kening Kei dan beralih menciumi putranya. "Daddy berangkat kekantor Sayang, kau tidak boleh rewel. Jagoan Daddy harus menjaga Mommy."
Jika biasanya Kei menjawab dengan menirukan suara anak kecil, pagi ini ia diam saja. Dibiarkan suaminya berinteraksi sendiri. Mood sedang dalam fase sangat buruk.
Ken menghela nafas, ia mulai berjalan menuju kepintu. Kei melihat punggung suaminya, ia benar-benar tak habis pikir, begitu tega meninggalkan ia dan putranya dalam bahaya.
Pagi tadi yang menelpon adalah sekretaris Lee, ia meminta izin untuk berangkat lebih siang. Ada sesuatu yang diurus. Dan pagi ini Ken berangkat ke kantor dengan diantar salah satu pengawal.
Ia sibuk mengawasi layar notebook, ekspresi yang berubah-ubah. Tertawa lucu dan juga mendesah, sesekali berdecak kesal.
Sampai dikantor, ia pun tak lantas membuka laptop dan memulai pekerjaan. Ia sibuk mengamati notebook tadi.
Pagi ini tanpa Lee, harinya sedikit kacau. Meski ada yang menggantikan tetap saja ada yang kurang.
~
"Jagoan Mom sudah bangun, cepat sekali tidurmu? Mom ganti baju dulu sayang." Kei meninggalkan baby Kio sebentar untuk berganti baju.
Ia teringat pesan Ken agar menggunakan baju yang dipilihkan, sebenarnya ia masih kesal tapi tak apalah, baju pilihan suaminya tidak begitu buruk.
Setelah selesai, Kei memoles wajah dengan makeup ringan seperti biasa.
Terdengar pintu terbuka, ternyata Mami Lyra yang masuk. Mengembangkan senyum hangat, Kei membalas dengan tersenyum. Meski ia juga kecewa dengan ibu mertuanya, tapi tak sampai hati untuk bersikap acuh seperti sikapnya pada Ken.
Wanita paruh baya itu terlihat rapi dengan pakaian modis, digenggaman tangan ada tas branded yang menggantung. Kei bisa menebak jika Mami Lyra ada jadwal pergi.
"Pagi Kei..."
"Pagi Juga, Mi..."
"Good Morning, cucu Oma tampan sekali." Mami Lyra sudah duduk ditepi ranjang dan mendekati baby Kio.
Kei ikut duduk disamping Mami Lyra. "Mami mau pergi?" tanya Kei.
__ADS_1
Mami Lyra mengangguk. "Iya Sayang, Mami ada jadwal arisan dengan teman yang lain. Kamu tidak pa-pa kan ditinggal? Mami nggak lama perginya."
"Iya Mi, Kei nggak pa-pa dirumah sendiri, biasanya juga sendiri. Lagian banyak pelayan sama pengawal yang akan menjagaku."
Mami Lyra tersenyum. "Untuk Ita, Ken sudah meminta Mami untuk memecatnya, tapi Ita meminta waktu sampai besok."
Kini berganti Kei yang mengangguk. 'Lagi-lagi kenapa harus menunggu besok!' batin Kei menahan kesal.
Mami Lyra menciumi pipi baby Kio sebelum pergi dari kamar itu.
Ken pergi kekantor, Mami Lyra satu satunya orang yang bisa melindungi juga sedang pergi. Kei bingung harus bagaimana. Hari ini wanita bermuka dua itu masih berada dirumah ini, itu berati bahaya masih mengintai. Ia harus waspada.
Dengan mengerjakan tugasnya sebagai kepala pelayan, Ita nampak berpikir. Memikirkan cara untuk melenyapkan Kei dengan cara aman.
Ia mencari-cari setiap sudut yang tidak terjangkau CCTV. Membaca keadaan sekitar, memastikan pelayan lain sibuk dengan tugas yang diberikan.
Kecerdikan membaca situasi, memenangkan hal yang menguntungkan baginya.
Kei terjatuh kebawah dengan keras. Kedua tangan mendekap baby Kio yang tertidur, beruntung bayi kecil itu tidak terlepas dari gendongannya.
Terdengar suara perempuan tertawa dengan mengerikan. Setelah berhenti ia menatap tajam. Kei tidak gentar sedikitpun, ia balas dengan menatap tajam.
"Perempuan berhati iblis kamu Ita!" Kei membentak. Sebelah tangan menutupi telinga baby Kio agar tidak mendengar suara kerasnya.
Ita kembali tertawa. "Berani sekali kau mengatakan itu! kau tidak takut denganku?" suara Ita terdengar mengerikan.
Kei benar-benar takut, tapi ia harus bisa melawan.
"Kau sudah mencuci otak tuan Ken untuk menjauhiku, kau juga menyuruh si tua bangka itu untuk memecatku 'kan? hah?" Ita membentak.
"Sudah aku peringatkan dari awal, kau tidak tau siapa aku? Hah? aku memang seorang wanita, tapi memiliki jiwa psikopat. Bisa saja aku memutilasi tubuhmu bahkan memakannya." Ita berkata untuk menakut-nakuti.
Kei merasa takut sekaligus mual, isi perut yang seolah ingin keluar mendengar perkataan Ita yang memakan anggota tubuh sesama manusia.
"Sangat lama aku membiarkanmu hidup, harusnya aku melenyapkan mu lebih cepat seperti Olive."
"O Olive...?" Kei terbata. Bukankah Olive mantan istri Ken yang meninggal karna kecelakaan? atau dia yang menyabotase kendaraan hingga menyebabkan kecelakaan itu terjadi?
Benar-benar tak bisa dipikir dengan otak sehat.
__ADS_1